PATI – Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar di MPR Firman Soebagyo, menegaskan bahwa bulan Ramadan harus dimaknai bukan hanya sebagai momentum ibadah, tetapi juga sebagai ruang refleksi kebangsaan untuk memperkuat penghayatan dan pengamalan ideologi Pancasila di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal itu disampaikan Firman dalam kegiatan reses Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang menyoroti pentingnya wawasan kebangsaan serta refleksi Ramadhan terhadap pemahaman ideologi Pancasila.
Menurut Firman, MPR RI memiliki tanggung jawab konstitusional untuk memastikan nilai-nilai Pancasila tidak berhenti sebagai simbol negara, tetapi benar-benar hidup dalam kebijakan negara dan perilaku masyarakat.
“MPR harus terus hadir menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila kepada seluruh elemen bangsa, baik melalui seminar, dialog publik, maupun kegiatan kebangsaan lainnya. Pancasila tidak boleh hanya menjadi slogan, tetapi harus menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa,” tegasnya, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan, penguatan ideologi Pancasila juga harus tercermin dalam arah kebijakan negara. MPR, kata dia, memiliki peran strategis untuk memastikan setiap kebijakan nasional sejalan dengan nilai-nilai Pancasila serta berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Selain itu, Firman juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi. Menurutnya, dialog publik dan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan merupakan bagian dari implementasi sila keempat Pancasila tentang musyawarah dan perwakilan.
“Demokrasi yang sehat harus melibatkan rakyat. Karena itu MPR juga harus mengawasi implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa serta memberikan rekomendasi jika terjadi penyimpangan,” ujarnya.
Dalam konteks Ramadhan, Firman menilai bulan suci ini sangat relevan untuk merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, tercermin melalui peningkatan keimanan dan ketakwaan selama Ramadhan. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, diwujudkan melalui kepedulian sosial, berbagi kepada sesama, dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Sementara sila ketiga, Persatuan Indonesia, menurut Firman harus diwujudkan dengan memperkuat persaudaraan dan menghindari konflik sosial yang dapat merusak persatuan bangsa.
“Ramadhan juga mengajarkan pentingnya musyawarah dan kebijaksanaan sebagaimana sila keempat, serta mendorong lahirnya keadilan sosial sebagaimana sila kelima Pancasila,” kata Firman.
Ia juga menyoroti praktik toleransi yang selama ini tumbuh di masyarakat, salah satunya di Kabupaten Pati, di mana kalangan masyarakat Tionghoa secara konsisten menunjukkan solidaritas sosial dengan membagikan takjil dan menggelar buka puasa bersama di kawasan klenteng.
Menurut Firman, praktik tersebut merupakan contoh nyata bahwa nilai Pancasila hidup di tengah masyarakat lintas agama dan budaya.
“Inilah wajah Indonesia yang sebenarnya. Toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial. Semangat seperti ini harus terus dirawat agar persatuan bangsa tetap kokoh,” tegasnya.
Firman menambahkan, jika nilai-nilai Pancasila terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, maka bangsa Indonesia tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga memiliki fondasi moral dan sosial yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan. []
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Rudi Alfian
Sumber Berita : MPR
*Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
















