Perang Timur Tengah, Ramadhan dan Turunnya Imam Mahdi?

Selasa, 3 Maret 2026 | 10:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Langit Ramadhan 1447 Hijriah dihiasi fenomena langka. Pada 17 Februari 2026 terjadi Gerhana Matahari Cincin, disusul Gerhana Bulan Total pada 3 Maret 2026, tepat pertengahan bulan suci.

Di saat yang sama, dunia diliputi ketegangan: perang berkecamuk di Ukraina, Gaza, dan memanas di Iran. Timur Tengah kembali menjadi episentrum konflik global. Krisis ekonomi membelit banyak negara, ketimpangan sosial melebar, dan kemerosotan moral menjadi perbincangan lintas agama.

Sebagian kalangan Muslim mulai mengaitkan rangkaian peristiwa itu dengan tanda-tanda menjelang kemunculan Imam Mahdi dalam eskatologi Islam.

Gerhana dan Isyarat Langit

Gerhana Bulan Total pada 14 Ramadhan 1447 H diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dapat terlihat dari Indonesia jika cuaca cerah. Secara ilmiah, fenomena ini terjadi saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga cahaya yang mencapai Bulan hanya spektrum merah.

Dalam literatur hadis Sunni—riwayat Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibn Majah—terdapat riwayat tentang gerhana di bulan Ramadhan. Namun penafsirannya diperdebatkan para ulama. Mayoritas menegaskan bahwa gerhana adalah fenomena alam yang dapat dihitung secara astronomis, bukan penentu tanggal kemunculan tokoh akhir zaman.

Baca Juga:  Qatar Bantah Klaim Penahanan Pilot Iran

Perang Besar dan Kekacauan Politik

Di sisi lain, konflik geopolitik semakin tajam. Perang di Ukraina belum mereda. Gaza terus bergolak. Perang besar Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu spekulasi tentang potensi perang dunia III.

Dalam perspektif Sunni, salah satu tanda besar menjelang kemunculan Mahdi adalah “Malhamah Kubra”, perang besar antara kaum Muslim dan kekuatan yang dalam teks klasik disebut “Romawi”, yang oleh sebagian ulama kontemporer ditafsirkan sebagai kekuatan Barat.

Hadis juga menyebut perselisihan besar setelah wafatnya seorang pemimpin dan perpecahan internal umat.

Sementara dalam teologi Syiah Imamiyah, Mahdi diyakini sebagai Imam ke-12 yang sedang ghaib, yakni Muhammad al-Mahdi. Tanda-tandanya lebih spesifik: munculnya tokoh Sufyani di Syam, konflik besar di Irak dan Suriah, pembunuhan figur suci di dekat Ka’bah, hingga gejolak global yang ekstrem.

Kekacauan politik di Timur Tengah hari ini—Suriah yang belum stabil, Irak yang rapuh, konflik Iran-Israel—sering dikaitkan dengan narasi tersebut oleh sebagian kalangan.

Baca Juga:  Dosen Rekayasa Kehutanan ITERA Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana di Tanggamus

Dunia Penuh Ketidakadilan

Baik Sunni maupun Syiah sepakat bahwa sebelum Mahdi muncul, dunia dipenuhi kezaliman. Ketidakadilan global, dominasi kekuatan besar, krisis ekonomi, dan kemerosotan moral menjadi gambaran umum dalam riwayat.

Namun para ulama dari kedua mazhab juga memberi peringatan keras: tidak boleh menetapkan tanggal kemunculan, tidak boleh menunjuk individu tertentu tanpa dalil pasti, dan tidak boleh menjadikan narasi Mahdi sebagai alat mobilisasi politik.

Sejarah mencatat, klaim-klaim prematur tentang Mahdi justru kerap memicu konflik baru.

Refleksi, Bukan Sensasi

Gerhana Ramadhan dan perang besar di Timur Tengah memang membentuk lanskap simbolik yang kuat. Langit memerah, bumi bergejolak.

Di tengah dunia yang terasa makin tak stabil, pesan yang paling konsisten dalam literatur eskatologi Islam tetap sama: ketika kezaliman memuncak, harapan akan keadilan tidak pernah padam.


Penulis : Ahmad


Editor : Desty


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Teheran tak Pernah Menolak Keinginan AS, Perang Ok, Damai Jadi!
Tiongkok-Indonesia Jajaki Kerjasama Kelautan
Indonesia dan Makau Bidik Kerja Sama
1 WNI Selamat, 1 Masih Hilang, Kapal Tunda Terbalik
Seni Dekatkan Peradaban Mesir dan Tiongkok
Polutan Akibat Karhutla Bahaya, Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruang
Mediasi Tanah; Warga vs PT BTLA Berlangsung Alot
Masyarakat 8 Desa Minta HGU PT PAL Ditinjau Ulang

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 23:11 WIB

Teheran tak Pernah Menolak Keinginan AS, Perang Ok, Damai Jadi!

Rabu, 2 September 2026 - 23:04 WIB

Tiongkok-Indonesia Jajaki Kerjasama Kelautan

Rabu, 2 September 2026 - 22:57 WIB

Indonesia dan Makau Bidik Kerja Sama

Rabu, 2 September 2026 - 22:52 WIB

1 WNI Selamat, 1 Masih Hilang, Kapal Tunda Terbalik

Rabu, 2 September 2026 - 22:43 WIB

Seni Dekatkan Peradaban Mesir dan Tiongkok

Berita Terbaru

ilustrasi Berita Sikap Iran terhadap AS

#indonesiaswasembada

Teheran tak Pernah Menolak Keinginan AS, Perang Ok, Damai Jadi!

Rabu, 2 Sep 2026 - 23:11 WIB


Li Shujiang, insinyur senior setingkat profesor di Institut Oseanografi Pertama di bawah Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok, berbagi kisah dalam acara

#indonesiaswasembada

Tiongkok-Indonesia Jajaki Kerjasama Kelautan

Rabu, 2 Sep 2026 - 23:04 WIB

Ilustrasi Kerjasama Indonesia-Makau

#indonesiaswasembada

Indonesia dan Makau Bidik Kerja Sama

Rabu, 2 Sep 2026 - 22:57 WIB

Ilustrasi Kapal Tunda Terbalik di Korea

#indonesiaswasembada

1 WNI Selamat, 1 Masih Hilang, Kapal Tunda Terbalik

Rabu, 2 Sep 2026 - 22:52 WIB

Sejumlah wisatawan menunggang unta di kompleks Piramida Giza, Mesir, pada 9 April 2026. (Xinhua)

#indonesiaswasembada

Seni Dekatkan Peradaban Mesir dan Tiongkok

Rabu, 2 Sep 2026 - 22:43 WIB