Pembatalan Pemilu 2024 Ibarat Deklarasi Ketidakmampuan di Panggung G20

Minggu, 6 Maret 2022 | 23:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teguh Santosa, Ketua Umum JMSI Pusat

Teguh Santosa, Ketua Umum JMSI Pusat

Laporan: Anis

JAKARTA – Wacana yang berkembang mengenai penundaan atau pembatalan Pemilu 2024 patut disayangkan terjadi ketika Indonesia tengah memimpin G20, kelompok 19 negara ekonomi terbesar di dunia plus Uni Eropa.

Orkestrasi pembatalan Pemilu 2024 bagaikan deklasari kegagalan dan ketidakmampuan Indonesia.

Demikian antara lain disampaikan pelaku komunikasi internasional Teguh Santosa ketika berbicara di Dapur Kedai Kopi bertema “Kata Pakar Bila Pemilu Ditunda” hari Minggu (6/3).

Teguh mengatakan, dirinya tidak menyangka ada pihak dari kalangan Istana yang membesarkan wacana pembatalan Pemilu 2024.

Tadinya dia mengira, pemerintah sedang fokus menyelesaikan berbagai persoalan ril yang ada di depan mata. Misalnya dampak dari kenaikan harga minyak mentah hingga menyentuh kisaran 130 dolar AS per barel dalam beberapa hari belakangan ini.

Atau, kelangkaan minyak goreng yang terjadi di tengah keberlimpahan mengingat Indonesia adalah negara produsen palm oil terbesar kedua setelah Malaysia. Atau, kelangkaan kedelai dan memicu peningkatan harga tempe dan tahu. Juga yang sedang ramai dibicarakan kemungkinan kenaikan harga gandum di pasar internasional yang dipicu invasi Rusia ke Ukraina.

Baca Juga:  HUT Lantas ke-71, Polres Mesuji Gelar Bakti Sosial 

“Semestinya pemerintah fokus pada persoalan semacam itu daripada memunculkan lagi wacana ini,” ujar Teguh Santosa yang juga dosen hubungan internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dia menambahkan, kini di tengah masyarakat sudah mulai berkembang pula kekhawatiran situasi goro-goro akibat berbagai persoalan itu. Apalagi hampir dapat dipastikan belanja rumah tangga akan mengalami peningkatan pada bulan Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri yang jatuh pada April dan Mei mendatang.

Selain Teguh, pembicara lain dalam diskusi tersebut adalah pemerhati demokrasi Titi Anggraini, pakar hukum tata negara Bivitri Susanti, Ketua Institut Harkat Negeri Sudirman Said, budayawan Dedy Miing Gumelar, Guru Besar FEB Universitas Brawijaya Prof. Candra Fajri Ananda, dan analis komunikasi politik Hendri Satrio.

Dalam pemaparannya, mantan Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang kini memimpin Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) itu juga membandingkan Indonesia dengan Venezuela yang pada bulan November 2021 lalu menggelar pemilihan umum.

Pemilihan umum di Venezuela bulan November 2021 disebut mega-election karena diselenggarakan di seluruh negara bagian dan kota untuk memilih gubernur, walikota, anggota parlemen negara bagian, anggota parlemen kota, serta anggota electoral college.

Baca Juga:  Iran Sebut Supertanker Meledak Usai Hantam Ranjau Laut di Hormuz

Untuk membangun kepercayaan dunia internasional pada kualitas pemilu dan demokrasinya, Venezuela mengundang sekitar 300 pemantau pemilu internasional dari berbagai negara. Teguh Santosa termasuk dalam daftar pemantau pemilu internasional tersebut.

Sebelumnya, di bulan Desember 2020 Venezuela juga menggelar pemilihan anggota Majelis Nasional. Namun dalam Pemilu 2020, Venezuela tidak mengundang pemantau pemilu internasional karena kasus pandemi yang masih tinggi.

Di bulan Mei 2018, Venezuela menggelar pemilihan presiden, dan melibatkan sekitar 150 pemantau pemilu internasional dari berbagai negara. Teguh Santosa juga berpartisipasi dalam kegiatan itu.

Apa yang dilakukan Venezuela memperlihatkan bahwa negara itu sadar bahwa pemilihan umum berfungsi memberikan legitimasi dan pengakuan politik, baik dari dalam maupun luar negeri, kepada pihak-pihak yang dipilih untuk duduk di lembaga eksekutif dan legislatif.

Teguh Santosa menambahkan, negara tetangga Timor Leste juga tengah menggelar pemilihan presiden. Lalu di bulan Juli 2022 Tunisia akan menggelar referandum, diikuti pemilihan presiden dan anggota parlemen pada bulan Desember 2022. ##

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

AS Pening, Rudal Iran Tiba 13′-15′ ke Israel dengan Jarak 1.700 Km
Disebut Trump ‘Negara Gagal’, Kuba WO dari Sidang PBB
JMSI Lampung Terima Anugerah Unila Be Strong 2026
Dilarang Liputan di Gedung Putih, CNN, MS NOW, dan Politico Gugat Trump
Polres Mesuji Laksanakan Patroli Sambang, di Tenda Warga Pendudukan Lahan PT PAL
Interaksi Xi Jinping-Trump Pandu Hubungan Tiongkok-AS
Uang Rp100 Ribu Th 2026 Tandatangan Purbaya Diburu
PBB Kecam Serangan Houthi yang Berlanjut ke Arab Saudi

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 10:33 WIB

AS Pening, Rudal Iran Tiba 13′-15′ ke Israel dengan Jarak 1.700 Km

Rabu, 23 September 2026 - 08:38 WIB

Disebut Trump ‘Negara Gagal’, Kuba WO dari Sidang PBB

Rabu, 23 September 2026 - 07:09 WIB

JMSI Lampung Terima Anugerah Unila Be Strong 2026

Selasa, 22 September 2026 - 22:49 WIB

Dilarang Liputan di Gedung Putih, CNN, MS NOW, dan Politico Gugat Trump

Selasa, 22 September 2026 - 22:00 WIB

Interaksi Xi Jinping-Trump Pandu Hubungan Tiongkok-AS

Berita Terbaru


Jejak cahaya terlihat di atas Yerusalem saat terjadi serangan rudal yang dilancarkan Iran ke Israel pada 13 Juni 2025. Jarak Iran-Israel, Rata-rata yang dipakai militer: kisaran 1.300 - 1.500 km, beberapa sumber menyebut 1.300 - 1.770 km. Tiba di Israel sampai 13-15 Menit (Xinhua)

#indonesiaswasembada

AS Pening, Rudal Iran Tiba 13′-15′ ke Israel dengan Jarak 1.700 Km

Rabu, 23 Sep 2026 - 10:33 WIB


Debat Umum sesi ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diselenggarakan di markas besar PBB di New York pada 22 September 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Disebut Trump ‘Negara Gagal’, Kuba WO dari Sidang PBB

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:38 WIB

Ahmad Novriwan dan Anton Kurniawan, Ketua dan Sekretaris JMSI Lampung

Berita Utama

JMSI Lampung Terima Anugerah Unila Be Strong 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 07:09 WIB