Mengenal China Lewat Kaligrafi GBTI

Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto yang diabadikan pada 2 Agustus 2026 ini menunjukkan Sheren (pertama dari kiri) sedang berinteraksi dengan para peserta workshop

Foto yang diabadikan pada 2 Agustus 2026 ini menunjukkan Sheren (pertama dari kiri) sedang berinteraksi dengan para peserta workshop "The Art of Chinese Calligraphy with Sheren" yang digelar di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) di kawasan Pantjoran Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. (Xin)

JAKARTA-Seni kaligrafi China bukan sekadar rangkaian tulisan indah, tetapi juga merupakan warisan budaya yang sarat nilai sejarah, filosofi, serta menjadi media untuk melatih kesabaran dan keseimbangan diri. Semangat inilah yang dihadirkan dalam workshop “The Art of Chinese Calligraphy with Sheren” yang diselenggarakan di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) pada Minggu (2/8).

Melalui workshop ini, Sheren (25), seorang pengajar sekaligus kreator konten kaligrafi China, mengajak masyarakat dari berbagai kalangan untuk mengenal seni kaligrafi China mulai dari teori dasar hingga mampu menghasilkan karya secara mandiri.

Workshop ini dirancang sebagai kelas eksperimen yang memberikan pengalaman belajar secara menyeluruh. Peserta dipandu memegang kuas dengan benar, mempelajari berbagai goresan dasar, menyusun aksara, hingga memahami makna filosofis yang terkandung di balik setiap tulisan.
Selain mendapatkan materi pembelajaran, peserta juga memperoleh tiket masuk ke GBTI, perlengkapan kaligrafi lengkap dan hasil karya yang dapat dibawa pulang, kesempatan bermain mahyong selama satu jam, serta pengalaman menikmati teh khas China dari Ming Bao Ji.

Menurut penuturan Sheren, penyelenggaraan workshop ini berawal dari banyaknya permintaan para pengikutnya di media sosial yang ingin belajar kaligrafi secara langsung.

“Karena saya mendapatkan banyak permintaan dari teman-teman pengikut Instagram ataupun TikTok untuk mengadakan workshop. Apalagi film-film dan budaya Chinese semakin berkembang di Indonesia, sehingga semakin banyak orang yang tertarik mempelajari budayanya, termasuk kaligrafi China,” ujarnya kepada Xinhua.

Sheren mengatakan workshop ini memadukan teori dan praktik, sehingga peserta dapat memahami sejarahnya sekaligus mempraktikkan seni kaligrafi China.

Workshop ini terbuka untuk seluruh masyarakat dengan syarat minimal berusia 12 tahun serta memiliki ketertarikan untuk belajar. Menariknya, meskipun terbuka bagi semua usia, mayoritas peserta yang telah mendaftar justru berasal dari kalangan ibu berusia sekitar 30 hingga 50 tahun. Pada sesi kali ini, sebanyak sembilan peserta mengikuti kegiatan dengan satu absensi dari total sepuluh kuota yang disediakan.

Baca Juga:  Pameran Simfoni Peradaban Makau di Jalur Sutra Maritim

Selama mengikuti workshop, peserta menggunakan perlengkapan kaligrafi yang dikenal sebagai Wénfángsìbǎo atau “Empat Harta Karun” dalam seni kaligrafi China. Perlengkapan tersebut meliputi Máobǐ sebagai kuas kaligrafi, Mò sebagai tinta, Xuānzhǐ sebagai kertas khusus kaligrafi atau kertas Xuan, serta Yàntái sebagai batu tinta.

Sheren menegaskan bahwa workshop ini memang dirancang khusus untuk pemula. “Kelas ini didesain khusus untuk peserta yang sama sekali belum pernah belajar kaligrafi China. Tidak perlu pengalaman sama sekali, karena yang diajarkan benar-benar dari yang paling dasar dan bisa dicoba semua orang,” katanya.

Menurut Sheren, hal paling mendasar yang perlu dipahami saat mempelajari kaligrafi China adalah bahwa seni ini bukan sekadar membuat tulisan menjadi indah.

“Kaligrafi China bukan sekadar menulis indah, tetapi merupakan tradisi ribuan tahun yang menggabungkan teknik, bentuk, keseimbangan, dan jiwa penulisnya. Setiap goresan mencerminkan sifat dan karakter orang yang menulisnya,” jelasnya.

Dia mengakui tantangan terbesar bagi para pemula adalah membangun kesabaran, mengingat proses belajar kaligrafi membutuhkan waktu yang panjang. Ada sebuah pepatah China yang mengatakan bahwa sama seperti giok yang harus diasah dan dipahat agar menjadi benda berharga, manusia pun harus melalui proses belajar dan pembinaan untuk memahami nilai kebaikan serta mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Peserta harus mengubah kebiasaan menulis menggunakan pena atau pensil menjadi menggunakan kuas. Mereka juga perlu mempelajari cara mengendalikan kuas, mengatur ketebalan dan kelembutan goresan, memahami aturan setiap goresan dasar, hingga mempelajari struktur, keseimbangan, dan komposisi karakter.

Baca Juga:  PJ91 Lakukan Plogging, Jumhur : Bagian dari Tobat Ekologi

“Kaligrafi mengajarkan kita untuk menyelaraskan pikiran, perasaan, dan gerakan tangan secara utuh,” ujarnya. “Itu membutuhkan waktu yang tidak singkat.”

Workshop ini merupakan kolaborasi kedua antara Sheren dan GBTI, meski bukan agenda rutin. Dalam workshop ini, Sheren memperkenalkan Kăishū sebagai gaya tulisan yang dipelajari peserta. Menurutnya, Kăishū merupakan salah satu gaya dasar yang umum digunakan untuk belajar karena bentuk aksaranya paling familier.

Kăishū memiliki banyak aliran yang berkembang dari para maestro kaligrafi terdahulu, sehingga setiap kaligrafer memiliki karakter goresan yang berbeda meski menulis aksara yang sama. Sheren mengaku saat ini masih fokus mendalami Kăishū, karena dia meyakini penguasaan dasar yang kokoh pada gaya ini menjadi fondasi utama untuk mengeksplorasi aliran kaligrafi lainnya di masa mendatang.

Sheren mengatakan bahwa bagi pemula yang pertama kali memegang kuas, gerakannya tentu masih terlihat kaku, mengatasi hal itu, peserta diarahkan untuk memegang kuas tegak lurus terhadap kertas agar garis yang dihasilkan rata dan rapi, sesuai dengan gaya tulisan Kăishū yang dipelajari. Sebelum mempelajari teknik menulis, peserta terlebih dahulu berlatih mengontrol kuas dengan membuat garis horizontal dan vertikal. Latihan ini dilakukan untuk memastikan ketebalan dan ketipisan garis tetap sama dan stabil.

Sementara itu, ketertarikan peserta mengikuti workshop ini pun beragam alasannya, mulai dari rasa ingin tahu, keinginan untuk belajar menulis Hanzi dengan indah, hingga ketertarikan terhadap kaligrafi dan budaya China. Beberapa peserta juga mengikuti workshop karena memiliki hobi brush lettering, atau seni menulis huruf menggunakan kuas, dan ingin memperluas wawasan budaya mereka.[]


Penulis : Heri S


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Fasilitas Minyak & Listrik Libya Disabotase
Ketua Parlemen Iran: Agresi? Dibalas Lebih Menyakitkan
Warga Diminta Kurangi Aktivtas Luar Ruang
Netanyahu Ancam Iran dengan Serangan Besar-Besaran
The Death of Expertise
Pemda Diminta Ciptakan Mesin Pertumbuhan Baru
Entry Meeting BPK Dimulai, Marindo Tegaskan Pemeriksaan untuk Pastikan APBD Tepat Sasaran
Polres Mesuji Gerak Cepat Bagikan Masker Kepada Masyarakat Pasca Erupsi GAK

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 17:40 WIB

Fasilitas Minyak & Listrik Libya Disabotase

Senin, 7 September 2026 - 15:52 WIB

Ketua Parlemen Iran: Agresi? Dibalas Lebih Menyakitkan

Senin, 7 September 2026 - 15:31 WIB

Warga Diminta Kurangi Aktivtas Luar Ruang

Senin, 7 September 2026 - 15:12 WIB

Netanyahu Ancam Iran dengan Serangan Besar-Besaran

Senin, 7 September 2026 - 15:04 WIB

The Death of Expertise

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Fasilitas Minyak & Listrik Libya Disabotase

Senin, 7 Sep 2026 - 17:40 WIB

#indonesiaswasembada

Ketua Parlemen Iran: Agresi? Dibalas Lebih Menyakitkan

Senin, 7 Sep 2026 - 15:52 WIB

#indonesiaswasembada

Warga Diminta Kurangi Aktivtas Luar Ruang

Senin, 7 Sep 2026 - 15:31 WIB

PM Israel Benjamin Netanyahu

#indonesiaswasembada

Netanyahu Ancam Iran dengan Serangan Besar-Besaran

Senin, 7 Sep 2026 - 15:12 WIB

#indonesiaswasembada

The Death of Expertise

Senin, 7 Sep 2026 - 15:04 WIB