Konflik Lahan Sawit, AMUK Tuding Bupati Tidur! Hendrizal: Saya tak Tidur

Senin, 11 Agustus 2025 | 18:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

INHU-Ratusan petani dari Desa Sungai Raya dan Sekip Hilir, Kecamatan Rengat, kembali turun ke jalan pada Senin (11/8/2025). Mereka menggelar aksi di depan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN)/ATR Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) untuk mendesak PT Sinar Belilas Perkasa (SBP) menghentikan kriminalisasi terhadap petani. Aksi kemudian berlanjut di depan Kantor Bupati Inhu.

Massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Untuk Keadilan (AMUK) Inhu membawa sejumlah spanduk berisi kecaman terkait konflik lahan yang mereka hadapi. Salah satu spanduk bertuliskan, “Bupati Inhu tidur, Wakil Bupati tidur, Sekda tidur, Tapem Setda tidur, karena kenyang bersama mafia DH”.

Ketua AMUK Inhu, Andi Irawan, dalam orasinya menegaskan pihaknya menuntut penyelesaian batas kecamatan dan desa di wilayah Rengat dan Rengat Barat dilakukan secara transparan. “Pengambilan titik koordinat harus dibuatkan berita acara langsung di lokasi,” ujarnya.

Usai menyampaikan aspirasi, massa diapresiasi oleh Wakil Bupati Inhu, Hendrizal, yang hadir langsung menemui para petani. Ia menegaskan bahwa Bupati Inhu, Ade Agus Hartanto, telah memerintahkan pembentukan tim penyelesaian sengketa dalam waktu dua hari.

“Bupati sudah menginstruksikan agar tim segera dibentuk. Jadi jangan bilang kami tidur. Saya wakil bupati ada di sini, saya datang menemui bapak-ibu,” tegas Hendrizal sambil menanggapi spanduk yang menyebut bupati dan wakil bupati ‘tidur’.

Dalam kesempatan itu, Hendrizal membacakan enam poin tuntutan AMUK dan menjelaskan mekanisme penyelesaiannya:

Tuntutan pertama, meminta Pemda Inhu menetapkan tapal batas Kecamatan Rengat dan Rengat Barat sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 1995 tentang tentang Pembentukan 13 (Tiga Belas) Kecamatan Di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu Dan Kampar Dalam Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Riau. “Nanti Tapem selesaikan,” kata Hendrizal.

Baca Juga:  Pemprov Lampung Perkuat Pengendalian Inflasi, Lakukan Langkah Pengendalian dan Pengawasan Komoditas Strategis

Tuntutan kedua, Menghentikan kriminalisasi terhadap petani. Kami bukan penyerobot atau perambah liar. Kami adalah warga negara yang menggantungkan hidup dari tanah dan telah merawatnya jauh sebelum perusahaan memperoleh izin. Negara hendaknya melindungi rakyat yang lemah seperti diamanatkan UUD 1945 serta memastikan bahwa hak atas tanah digunakan untuk kepentingan bersama. “Tuntutan kedua ini nanti diselesaikan oleh Pemkab Inhu,” kata Hendrizal.

Kemudian tuntutan ketiga, mengakui dan melindungi hak masyarakat atas lahan. Kami memohon agar SKT dan bukti penggarapan turun-temurun kami diakui sebagai dasar hukum untuk memperoleh hak atas tanah. Kerena setiap warga negara berhak memperoleh lahan untuk kehidupannya. Kami juga mendukung program reforma agraria untuk pemerataan penguasaan tanah. “Ini penyelesaiannya di BPN,” kata Hendrizal.

Tuntutan keempat, Mengedepankan penyelesaian berbasis keadilan agrarian dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek utama. Proses mediasi harus melibatkan petani, pemerintah daerah, kementerian terkait secara adil. Resolusi konflik harus menjamin bahwa tanah dikelola sesuai fungsi sosialnya dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. “Ini penyelesaiannya BPN lagi,” kata Hendrizal.

Tuntutan kelima, Adanya dugaan pelanggaran undang-undang No. 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi yang diduga dilakukan oleh salah satu oknum notaris dengan modus pemalsuan keterangan dalam suaktu akta otentik dengan maksud untuk memakai dan atau menyruh orang lain untuk memakai dan atau menyuruh oranglain memakai akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran. “Kalian buktikan saja sendiri,” kata Hendrizal.

Tuntutan keenam, Segera membentuk tim penyelesaian sengketa sebagaimana kententuan perundang-udangan dan sejalan rekomendasi DPRD Inhu tertanggal 25 April 2025. “Berapa hari ini pak Kabag Tapem, bentuk tim ini,” kata Hendrizal seraya bertanya dan menyepakati dua hari.

Baca Juga:  Gelapkan Motor Warga Tanggamus, Seorang Pria Asal Lampura Diringkus Polisi

Diakhir tanggapan Wabup Hendrizal, juga mengimbau petani untuk tidak menghalangi tim Pemda Inhu yang akan melakukan pengukuran batas Kecamatan dan desa terkait tuntutan masyarakat.

Konflik Lahan Puluhan Tahun

Konflik lahan di Desa Sungai Raya dan Sekip Hilir sudah berlangsung sejak 1994. Warga menggarap lahan secara turun-temurun dengan SKT yang dikeluarkan pemerintah desa. Berdasarkan UUPA, hak atas tanah memiliki fungsi sosial dan harus digunakan untuk kesejahteraan rakyat.

Masalah mencuat ketika pada tahun 2000, Kementerian Kehutanan dan Perkebunan mengeluarkan SK pelepasan kawasan hutan Paya Rumbai untuk PT Alam Sari Lestari (ASL). Dalam HGU yang terbit pada 2007, nama Desa Sungai Raya dan Sekip Hilir tidak tercantum. Padahal warga tidak pernah menyerahkan tanah tersebut.

Surat Kementerian ATR/BPN RI tahun 2012 menegaskan bahwa HGU PT ASL tidak berada di wilayah Sungai Raya. Bahkan Kanwil BPN Riau sempat menyatakan HGU tersebut sebagai tanah terlantar.

Pada 2023, PT ASL dinyatakan pailit dan HGU dilelang, dimenangkan oleh PT Sinar Belilas Perkasa. Namun, alih-alih menyelesaikan hak warga, perusahaan baru justru melaporkan petani ke Polda Riau dengan tuduhan penyerobotan lahan dan pemalsuan dokumen. Sejumlah petani bahkan ditahan hingga 35 hari.

“Kami tidak menyerobot tanah. Kami mempertahankan lahan yang sudah puluhan tahun kami kelola. Ini sumber hidup kami,” tegas perwakilan petani.

Terungkap juga dalam pertemuan petani Sungai Raya dan Sekip Hilir bahwa, Dirjen 7 kementrian ATR BPN pusat memerintahkan dalam gelar perkara, agar kanta BPN INHU menghadirkan peta desa sungai raya tahun 2007, gayung bersambut AMUK menggelar demonstrasi di kanta Inhu 11 Agustus 2025. **


Penulis : Romy Agus


Editor : Rudi Alfian


Sumber Berita : Riau Indonesia

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Halte Bundaran HI Jadi Lokasi Nobar Dracin “Overdo”
Lampung Hadirkan ”Nikah Sah dan Bermartabat” 31 Pasangan
Kembangkan Pertengkaran Ide; Bukan Fitnah
Pemkab Lampura Bantah APBD Alami Obesitas Fiskal
IRGC Iran Serang Pangkalan As Pakai Drone Kamikaze
KBRI Beijing Gelar Konser Pesona Seni Musik Indonesia
PKK Lampung Dorong Pemberdayaan Keluarga Berbasis Potensi Lokal
Purnama Wulan; Deteksi Dini Penyakit Jantung Rematik, Upaya Lindungi Generasi Masa Depan

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 05:40 WIB

Halte Bundaran HI Jadi Lokasi Nobar Dracin “Overdo”

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:40 WIB

Lampung Hadirkan ”Nikah Sah dan Bermartabat” 31 Pasangan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:33 WIB

Kembangkan Pertengkaran Ide; Bukan Fitnah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:15 WIB

Pemkab Lampura Bantah APBD Alami Obesitas Fiskal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:05 WIB

IRGC Iran Serang Pangkalan As Pakai Drone Kamikaze

Berita Terbaru

Bundaran HI dipadati penggemar drama China [dracin] Overdo [xin]

#indonesiaswasembada

Halte Bundaran HI Jadi Lokasi Nobar Dracin “Overdo”

Minggu, 26 Jul 2026 - 05:40 WIB

Lampung Sahkan Nikah 31 Pasangan agar Menuju Keluarga Sakinah [Na]

#indonesiaswasembada

Lampung Hadirkan ”Nikah Sah dan Bermartabat” 31 Pasangan

Sabtu, 25 Jul 2026 - 16:40 WIB

Opini Jamal Pertengkaran Ide-Ilustrasi

#indonesiaswasembada

Kembangkan Pertengkaran Ide; Bukan Fitnah

Sabtu, 25 Jul 2026 - 14:33 WIB

#indonesiaswasembada

Pemkab Lampura Bantah APBD Alami Obesitas Fiskal

Sabtu, 25 Jul 2026 - 14:15 WIB

Badan Pertahanan Sipil Bahrain memadamkan kebakaran yang dipicu oleh puing-puing drone Iran yang jatuh setelah dicegat di Hamad Town, Bahrain, pada 11 Juni 2026. [Xin]

#indonesiaswasembada

IRGC Iran Serang Pangkalan As Pakai Drone Kamikaze

Sabtu, 25 Jul 2026 - 14:05 WIB