Komisi X Soroti Tumpang Tindih Program Studi di Perguruan Tinggi

Kamis, 28 Agustus 2025 | 16:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani,  menegaskan pentingnya penataan sistem pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya terkait adanya tumpang tindih program studi antara perguruan tinggi umum dengan perguruan tinggi kementerian/lembaga. Hal ini disampaikannya saat memimpim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI ke Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (28/8/2025).Politisi Fraksi PKB tersebut mengatakan bahwa kunjungan ini difokuskan pada evaluasi penyelenggaraan pendidikan tinggi, baik di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), maupun Perguruan Tinggi Kementerian/Lembaga (PTKL).“Hari ini kami di Sumatera Selatan menyerap aspirasi dari para pelaku pendidikan tinggi, mulai dari PTN, PTS, hingga PTKL. Fokus kami adalah melihat langsung pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan tinggi, khususnya di PTKL.

Ada banyak masukan yang kami peroleh, mulai dari pelayanan, mutu, hingga penganggaran,” ungkapnya kepada Parlementaria.Lebih lanjut, Lalu Hadrian menekankan bahwa temuan tumpang tindih program studi menjadi perhatian serius Komisi X DPR RI. “Kami menemukan adanya program studi yang sama diselenggarakan oleh PTN maupun PTKL. Hal ini jelas menimbulkan tumpang tindih. Kami akan membawa persoalan ini ke forum pembahasan di Komisi X bersama seluruh pemangku kepentingan agar ke depan penyelenggaraan pendidikan tinggi lebih terarah, efektif, dan efisien,” tegasnya.Tidak hanya itu, Legislator Dapil NTB II tersebut juga menyoroti kewajiban alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN.

Baca Juga:  Sol Banjir, Firman ; Benahi dari Hulu ke Hilir

“Komisi X DPR RI ingin memastikan mandatory spending pendidikan ini tidak hanya menjadi angka di atas kertas. Anggaran 20 persen tersebut harus betul-betul digunakan untuk peningkatan mutu, pelayanan, serta pemenuhan sarana-prasarana pendidikan, baik di PTN maupun PTS, tanpa ada dikotomi,” jelasnya. Terkait PTKL, Lalu Hadrian menyampaikan bahwa perlu ada kejelasan arah kebijakan, terutama dalam hal penyerapan lulusan. “Untuk PTKL yang berbasis ikatan dinas, kami mendorong agar kementerian/lembaga terkait dapat menyerap langsung para lulusannya. Namun bagi PTKL yang non-ikatan dinas, tentu harus ada formula kebijakan yang jelas, dan ini akan kami bahas bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” tambahnya.

Baca Juga:  Pengerahan Prajurit TNI Dalam Jumlah Besar Ke Jakarta Untuk Mempertebal Pengamanan

Ia juga menegaskan bahwa pengawasan DPR RI tidak berhenti pada tahap kunjungan semata, tetapi akan berlanjut dalam bentuk pembahasan kebijakan. “Masukan yang kami dapatkan hari ini menjadi catatan penting untuk Komisi X DPR RI. Kami ingin memastikan bahwa pendidikan tinggi Indonesia tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga mencetak sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan siap menjawab tantangan zaman,” tutupnya.


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Hadi


Sumber Berita : DPR RI

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Mengarungi Laut Dalam: Sebuah Visi Baru Bagi Indonesia-Tiongkok
Curhat dengan AI, Sejauh Mana Batas Toleransi?
782 Anak Terpapar Radikalisme: DPRD Lampung Ingatkan Bahaya Doktrinasi Muda
Mantan PM Malaysia Najib Razak Kembali ke Penjara
Trump Tunjuk Stephen Miller jadi Kepala Staf Gedung Putih
Raksasa Undustri Kertas Indonesia, Pamerkan Inovasi Hijau di CIIE
Netty Prasetyani Soroti Modus Narkotika di Cairan Vape
Siarkan Sidang Terbuka, Setjen DPR Sabet State Institution Award CNN 2026
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 22:55 WIB

Mengarungi Laut Dalam: Sebuah Visi Baru Bagi Indonesia-Tiongkok

Sabtu, 7 November 2026 - 22:03 WIB

Curhat dengan AI, Sejauh Mana Batas Toleransi?

Sabtu, 7 November 2026 - 21:45 WIB

782 Anak Terpapar Radikalisme: DPRD Lampung Ingatkan Bahaya Doktrinasi Muda

Sabtu, 7 November 2026 - 20:14 WIB

Mantan PM Malaysia Najib Razak Kembali ke Penjara

Sabtu, 7 November 2026 - 20:10 WIB

Trump Tunjuk Stephen Miller jadi Kepala Staf Gedung Putih

Berita Terbaru

Yustian Rovi Alfiansah menghadiri Forum Kerja Sama Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Internasional (International Science and Technology Innovation Cooperation Forum/ISTICF) dan Konferensi Inovasi Teknologi Laut Dalam (Deep-Sea Technology Innovation Conference/DSTIC) Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan 2026, yang merupakan edisi keempat, di Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan, pada 4 November 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Mengarungi Laut Dalam: Sebuah Visi Baru Bagi Indonesia-Tiongkok

Sabtu, 7 Nov 2026 - 22:55 WIB

Infografis ini menampilkan ketersediaan psikiater dan psikolog klinis di Indonesia. Data nasional per 1 September 2026 bersumber dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI), sedangkan sebaran per provinsi bersumber dari kajian Info Singkat DPR RI (Oktober 2023). (Xinhua)

Berita Utama

Curhat dengan AI, Sejauh Mana Batas Toleransi?

Sabtu, 7 Nov 2026 - 22:03 WIB

Mantan perdana menteri (PM) Malaysia Najib Razak (pertama dari kiri) terlihat di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 22 Desember 2025. Mantan PM Malaysia Najib Razak gagal dalam upaya bandingnya untuk dipindahkan ke tahanan rumah setelah Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur menolak permohonannya pada hari itu. (Bernama/Xinhua)

Berita Utama

Mantan PM Malaysia Najib Razak Kembali ke Penjara

Sabtu, 7 Nov 2026 - 20:14 WIB

Berita Utama

Trump Tunjuk Stephen Miller jadi Kepala Staf Gedung Putih

Sabtu, 7 Nov 2026 - 20:10 WIB