Dana Bantuan Operasional Kesehatan Puskesmas Rajabasa Disoal. Ada Apa!?

Jumat, 16 Agustus 2024 | 20:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PUSKESMAS Rajabasa, Lampung Selatan penerima Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Puskesmas dinyatakan tak mampu menghadirkan laporan sebagaimana menjadi ketentuan. Akhirnya jadi masalah.

Selama tahun 2023, Puskesmas Rajabasa memperoleh penyaluran dana BOK sebesar Rp1,1 miliar lebih. Penyaluran ini dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu, Rp340 juta lebih pada (23/02/2023) kemudian pada (18/07/2023) hampir Rp500 juta dan yang terakhir Rp340 juta lebih pada (22/12/2023).

Secara umum, penggunaan dana BOK untuk mendukung kegiatan pelayanan kesehatan misalnya kelas ibu hamil, kegiatan donor darah, imunisasi balita, kelas ibu dan balita, kegiatan posyandu remaja, penyuluhan pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak. Dana BOK tersebut dipergunakan untuk honorarium narasumber, insentif, belanja ATK, uang transport, serta belanja makanan dan minuman.

Berdasarkan petikan LHP BPK RI, buku kas umum (BKU) BOK, Puskesmas Rajabasa, total belanja makanan dan minuman yang bersumber dari dana BOK selama tahun 2023 adalah sebesar Rp84 juta lebih.

Sedangkan rekapitulasi pembayaran pajak restoran berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) dan Surat Setoran Pajak (STS) belanja makanan dan minuman Puskesmas Rajabasa selama tahun 2023 adalah sebesar Rp8 juta.

Baca Juga:  ATR/BPN-Kemenag Kolaborasi Percepatan Sertipikat Tanah Wakaf

Hasil pemeriksaan uji petik, atas penggunaan dana BOK untuk pembelian makanan dan minuman Puskesmas Rajabasa pada tanggal 3 Februari 2024, menunjukkan bahwa Bendahara Pengeluaran Puskesmas Rajabasa hanya dapat memperlihatkan dokumen pertanggungjawaban belanja makanan dan minuman yang bersumber dari dana BOK bulan April dan Mei 2023.

Sedangkan, realisasi belanja pada bulan-bulan lainnya tidak dapat disampaikan kepada tim pemeriksa BPK. Bendahara Pengeluaran Puskesmas Rajabasa menyatakan bahwa dokumen pertanggungjawaban belanja makanan dan minuman yang belum dapat disampaikan karena penyusunan dokumen pertanggungjawaban belum selesai dilaksanakan per 3 Februari 2024.

“Sampai berakhirnya pemeriksaan, Puskesmas Rajabasa telah menyerahkan dokumen pertanggungjawaban belanja makanan dan minuman selama tahun 2023, kecuali dokumen pertanggungjawaban belanja di bulan April 2023,” tulis petikan LHP BPK RI.

Kemudian, hasil pemeriksaan di lapangan ke Puskesmas Rajabasa tanggal 3 Februari 2024, diketahui bahwa pihak Puskesmas Rajabasa sedang menyusun dan membuat dokumen pertanggungjawaban serta nota kuitansi pembelian makanan minuman yang bersumber dari dana BOK.

Hal tersebut diketahui dengan ditemukannya stempel warung rumah makan yang digunakan sebagai stempel pada nota, kuitansi pembelian nasi kotak, snack. Bendahara

Baca Juga:  Zulhas : Pemerintah Siapkan Bantuan Pangan Dan Beras Subsidi Hadapi Kemarau

Pengeluaran Puskesmas Rajabasa mengakui bahwa stempel yang ditemukan oleh pemeriksa BPK adalah stempel yang dipinjam dari pihak penyedia makanan, minuman serta dipergunakan sebagai cap pada nota pembelian nasi kotak belanja makanan dan minuman yang bersumber dari dana BOK.

“Dokumen cap dan nota pertanggungjawaban belanja makanan dan minuman Puskesmas Rajabasa bulan April dan Mei 2023. Pembelian makanan dan minuman oleh Puskesmas Rajabasa dilaksanakan secara tunai dan’atau e-katalog. Tidak ada bukti pengiriman nasi kotak, snack oleh penyedia kepada Puskesmas Rajabasa,” petikan LHP BPK RI.

Walhasil, BPK tidak dapat memperoleh catatan pembelian nasi kotak, snack secara riil dari Puskesmas Rajabasa maupun pihak penyedia.

“Dengan demikian, realisasi belanja makanan dan minuman yang bersumber dari dana BOK sebesar Rp76 juta lebih tidak didukung dengan nota
pembelian,” beber LHP BPK RI. ##


Penulis : Anis


Editor : Anis


Sumber Berita : Lampung Selatan

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.
Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji
Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden
Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker
Marindo: Nilai Pancasila Harus Jadi Landasan Pembangunan
Kwaran Kasui Adakan Rapat Program Kerja 
Bupati Ayu Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila
PT BTB Rutin Pastikan Rambu dan Marka Tetap Layak
Ilustrasi

Berita Terbaru

Berita Utama

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:53 WIB

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.

Jumat, 2 Oktober 2026 - 06:39 WIB

Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:58 WIB

Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Marindo: Nilai Pancasila Harus Jadi Landasan Pembangunan

Berita Terbaru

Berita Utama

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:53 WIB

Berita Utama

Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji

Jumat, 2 Okt 2026 - 06:39 WIB

flydubai [net]

Berita Utama

Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden

Kamis, 1 Okt 2026 - 23:58 WIB

Berita Utama

Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker

Kamis, 1 Okt 2026 - 21:16 WIB

Marindao Kurniawan

Berita Utama

Marindo: Nilai Pancasila Harus Jadi Landasan Pembangunan

Kamis, 1 Okt 2026 - 21:09 WIB