Bamsoet Dukung Pengesahan UU KUHP

Rabu, 7 Desember 2022 | 21:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan : Heri Suroyo

JAKARTA – Ketua MPR RI sekaligus Ketua DPR RI ke-20 Bambang Soesatyo mengapresiasi keberhasilan pemerintah yang diwakili Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly bersama DPR RI yang diwakili Komisi III DPR RI, mengesahkan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP) menjadi Undang-undang (UU), melalui Rapat Paripurna DPR RI pada Selasa (6/1/2/22). Setelah sekitar 104 tahun menggunakan KUHP warisan produk Belanda yang dimulai pada tahun 1918, melintasi 7 periode kepemimpinan presiden Indonesia dan 14 periode DPR RI, akhirnya Indonesia bisa memiliki UU KUHP yang dihasilkan sendiri oleh anak bangsa.

“Saat saya memimpin DPR RI di periode 2018-2019, pembahasan RUU KUHP sudah hampir selesai. Namun karena waktu periode DPR RI sudah hampir berakhir, akhirnya pembahasan tersebut di carry over dan dilanjutkan oleh DPR RI periode 2019-2024. Dalam setiap pembahasan RUU KUHP, pemerintah dan DPR RI senantiasa mengedepankan prinsip transparan, teliti, dan partisipatif. Sehingga sudah mengakomodasi berbagai masukan dan gagasan publik,” ujar Bamsoet di Jakarta, Rabu (7/12).

Baca Juga:  Badan Karantina Indonesia Perkuat Fasilitasi Ekspor

Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, pengesahan UU KUHP tersebut juga menunjukan kedaulatan bangsa dalam bidang hukum. Terlebih KUHP warisan Belanda juga sudah tidak relevan dengan kondisi dan kebutuhan hukum pidana di Indonesia. Sedangkan UU KUHP yang disahkan sudah sangat reformatif, progresif, dan juga responsif dengan situasi di Indonesia.

“UU KUHP yang telah disahkan tersebut akan mengalami masa transisi tiga tahun, dan berlaku efektif pada tahun 2025. Sebagaimana keberadaan UU lainnya, seiring perjalanan waktu, UU KUHP bisa jadi akan mengalami berbagai penyempurnaan, menyesuaikan kebutuhan bangsa. Tidak sekedar menjadi momen historis karena Indonesia memiliki KUHP sendiri, keberadaan UU KUHP juga harus menjadi titik awal reformasi penyelenggaraan pidana di Indonesia melalui perluasan jenis-jenis pidana yang dapat dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana. Setidaknya terdapat tiga pidana yang diatur, yaitu pidana pokok, pidana tambahan, dan pidana yang bersifat khusus,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum FKPPI/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan, keberadaan pasal-pasal di UU KUHP yang banyak disoroti publik seperti pasal pidana ‘kumpul kebo’, pidana santet, vandalisme, hingga penyebaran ajaran komunis, sebetulnya telah melalui kajian berulang secara mendalam antara pemerintah dan DPR dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat.

Baca Juga:  Keluarga Delapan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Jalan di Lampung Utara Minta Keadilan

Karena itu, penentangan dari pihak asing, khususnya di pasal ‘kumpul kebo’, tidak perlu dikhawatirkan.

Karena keberadaan pasal tersebut telah sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia, serta sesuai dengan kultur budaya dan ajaran dari berbagai agama yang dipeluk bangsa Indonesia.

“Jika kini berbagai pasal tersebut masih mendapatkan sorotan publik, maka pemerintah dan DPR RI perlu memasifkan lebih gencar lagi sosialisasi UU KUHP tersebut ke berbagai kelompok masyarakat. Seandainya masih ada yang tidak puas dengan keberadaan UU KUHP, masyarakat bisa menggunakan hak konstitusinya untuk mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK). Sehingga tidak perlu melakukan demonstrasi yang mengganggu aktivitas publik dan mengganggu kondusifitas politik,” pungkas Bamsoet. ##

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Rival Netanyahu, Eisenkot, Siap Bentuk Pemerintahan
Perusahaan Robotika Tiongkok Jajaki Mitra di Indonesia
Tiongkok Garap Aspal Buton, Investasi 60 Juta Dolar AS
Iran dan Rusia Perluas Kerjasama
Bupati Ayu, Irup Peringatan Sumpah Pemuda Way Kanan 
Gas Air Mata Pukul Mundur Massa Demonstran Di Jl.Imam Bonjol
Soal Polemik Komplek Griya Sukarame, Warga Surati Walikota
JMSI Tuba Gelar Diskusi Cegah Bullying

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:10 WIB

Rival Netanyahu, Eisenkot, Siap Bentuk Pemerintahan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:05 WIB

Perusahaan Robotika Tiongkok Jajaki Mitra di Indonesia

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Tiongkok Garap Aspal Buton, Investasi 60 Juta Dolar AS

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Iran dan Rusia Perluas Kerjasama

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:47 WIB

Bupati Ayu, Irup Peringatan Sumpah Pemuda Way Kanan 

Berita Terbaru


Gadi Eisenkot (depan, kiri), mantan kepala militer Israel sekaligus pemimpin partai sentris Yashar, memberikan suaranya di sebuah tempat pemungutan suara di Herzliya, Israel tengah, pada 27 Oktober 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Rival Netanyahu, Eisenkot, Siap Bentuk Pemerintahan

Rabu, 28 Okt 2026 - 20:10 WIB

Seorang peserta Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 berfoto dengan salah satu robot buatan AI² Robotics di Jakarta pada 28 Oktober 2026. (Xinhua/Ni Luh Anggela De Merici S.)

Berita Utama

Perusahaan Robotika Tiongkok Jajaki Mitra di Indonesia

Rabu, 28 Okt 2026 - 20:05 WIB

enteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia Rosan P. Roeslani bertemu dengan salah satu petinggi perusahaan asal Tiongkok, Xi'an Zhongli Asphalt Co., Ltd., di Shanghai, Tiongkok timur, dalam rangkaian kunjungan kerja ke sejumlah pimpinan perusahaan yang dilaksanakan pada 22-23 Oktober 2026. (Kementerian Investasi dan Hilirisasi Republik Indonesia/Xinhua)

Berita Utama

Tiongkok Garap Aspal Buton, Investasi 60 Juta Dolar AS

Rabu, 28 Okt 2026 - 20:01 WIB

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menghadiri konferensi pers di Teheran, Iran, pada 16 September 2024. (Xinhua)

Berita Utama

Iran dan Rusia Perluas Kerjasama

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:57 WIB

Berita Utama

Bupati Ayu, Irup Peringatan Sumpah Pemuda Way Kanan 

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:47 WIB