Oleh: Indah Rasio Nita Dewi, Mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UNILA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Variabilitas iklim semakin dirasakan dampaknya oleh masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di wilayah pesisir. Perubahan suhu, peningkatan kelembapan, serta kejadian cuaca ekstrem yang terjadi secara musiman maupun antar-tahun terbukti memengaruhi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Salah satu dampak yang mengemuka adalah meningkatnya risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di kawasan pesisir.
Sebuah kajian kualitatif menunjukkan bahwa wilayah pesisir memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap dampak variabilitas iklim. Karakteristik ekologis seperti kelembapan udara yang tinggi, intrusi air laut, serta perubahan mikroklimat berpadu dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang relatif rentan. Kombinasi faktor tersebut memperbesar risiko gangguan kesehatan pernapasan, terutama ISPA, kelembapan tinggi berkontribusi terhadap pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi, dan curah hujan memengaruhi kondisi lingkungan yang memperburuk kualitas udara dalam ruangan
Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa penurunan kualitas lingkungan akibat factor antropogenik berperan sebagai penghubung utama antara variabilitas iklim dan kejadian ISPA. Kualitas udara yang memburuk, sanitasi lingkungan yang tidak terkelola dengan baik seperti pengelolaan sampah rumah tangga, kondisi ventilasi rumah yang tidak memadai, kepadatan hunian, pencahayaan dan kelembaban, serta kebersihan lingkungan rumah memperbesar peluang terjadinya infeksi saluran pernapasan. Kondisi tersebut menjadikan anak-anak dan lansia sebagai kelompok yang paling rentan terdampak.
Tidak hanya faktor lingkungan, aspek sosial juga memperkuat kerentanan masyarakat pesisir terhadap ISPA. Keterbatasan ekonomi, rendahnya akses layanan kesehatan, serta minimnya kapasitas adaptasi terhadap perubahan lingkungan membuat upaya pencegahan penyakit belum dapat dilakukan secara optimal. Akibatnya, risiko ISPA cenderung berulang dan sulit dikendalikan.
Para peneliti menegaskan bahwa penanganan ISPA di wilayah pesisir tidak dapat mengandalkan pendekatan medis semata. Upaya perbaikan kualitas lingkungan, penataan permukiman yang lebih sehat, serta peningkatan literasi iklim dan kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara terpadu. Pendekatan berbasis komunitas dinilai penting untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak variabilitas iklim.
Kajian ini juga merekomendasikan perlunya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat. Pengendalian sumber pencemaran udara, perbaikan ventilasi rumah, pengelolaan sampah rumah tangga serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan menjadi langkah strategis untuk menurunkan risiko ISPA secara berkelanjutan.
Melalui temuan ini, variabilitas iklim dipandang bukan sekadar fenomena alam, melainkan isu kesehatan masyarakat yang nyata dan mendesak. Wilayah pesisir sebagai kawasan yang berada di garis depan dampak perubahan iklim memerlukan perhatian dan kebijakan adaptif agar kesehatan masyarakat dapat terlindungi secara berkelanjutan.
Penulis : Indah Rasio Nita Dewi
Editor : Ahmad Novriwan
*Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
















