Waka MPR RI Ibas : Indonesia Harus Kuat Hadapi Gejolak Global , APBN Jadi Pelindung Rakyat 

Rabu, 8 April 2026 | 20:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menegaskan pentingnya penguatan strategi fiskal, energi, dan perlindungan sosial dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks dan tidak menentu.

Hal tersebut disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan bertema “Indonesia di Tengah Gejolak Global: Strategi Fiskal, Energi, dan Perlindungan Rakyat” yang menghadirkan para pakar, akademisi, teknokrat, serta anggota DPR RI dari Komisi XI, Komisi XII, dan Badan Anggaran.

Dalam sambutannya, Ibas menekankan bahwa dunia saat ini tengah berada dalam tiga lapisan dinamika besar, yaitu geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi, yang saling terkait dan berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global, perdagangan energi dan pangan, serta kebijakan moneter dan fiskal nasional.

“Indonesia tidak berdiri sendiri. Kita terhubung dalam sistem global yang dinamis. Apa yang terjadi di dunia hari ini, langsung berdampak pada kehidupan rakyat kita, mulai dari harga energi, pangan, hingga daya beli masyarakat,” ujar Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan Pengurus Pusat Keluarga Besar FKPPI ini.

Ia menjelaskan bahwa ketegangan global telah memicu disrupsi rantai pasok, kenaikan harga energi dan pangan, serta perubahan pola perdagangan dunia. Kondisi tersebut juga berdampak pada tekanan nilai tukar, arus modal, serta meningkatnya beban subsidi energi dan kebutuhan perlindungan sosial.

Dari sisi fiskal, lulusan Program Doktor S3 IPB University dan S2 NTU Singapura tersebut menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara perlindungan rakyat dan kesehatan APBN. “APBN harus tetap menjadi shock absorber, melindungi rakyat dari tekanan global, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat tersebut juga menekankan bahwa pemerintah saat ini telah mengambil langkah strategis dengan tetap menjaga harga energi agar tidak membebani masyarakat, serta menghadirkan berbagai paket kebijakan ekonomi yang pro rakyat.

Mengutip pemikiran ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, Ibas mengingatkan bahwa ketimpangan yang tinggi dapat melemahkan ekonomi. Oleh karena itu, kebijakan publik harus memastikan keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat luas.

Dalam forum tersebut, Fraksi Partai Demokrat menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan melalui tiga pendekatan utama:

Baca Juga:  Targetkan Pramuka Aktif Di Setiap Tingkatan, Kwarran Kasui Kunjungi Tiap Gudep

Jangka Pendek (Stabilisasi):

• Intervensi harga dan pasar

• Penguatan cadangan pangan dan energi

• Perluasan bantuan sosial

• Stabilisasi nilai tukar

Jangka Menengah:

• Reformasi subsidi tepat sasaran berbasis data

• Diversifikasi sumber impor dan ekspor

• Penguatan industri dalam negeri

Jangka Panjang:

• Kemandirian energi melalui energi terbarukan

• Kedaulatan pangan nasional

• Transformasi ekonomi berbasis nilai tambah

• Peningkatan daya saing global

Selain itu, Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN ini juga menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal, penguatan diplomasi ekonomi, serta peningkatan investasi di sektor energi dan pangan.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis 1998, krisis global 2008, hingga pandemi Covid-19. Dari pengalaman tersebut, Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi tantangan global saat ini.

“Negara yang kuat bukan yang bebas dari krisis, tetapi yang mampu merespons krisis dengan cepat, tepat, dan berpihak pada rakyat,” ungkap Edhie Baskoro.

Mengakhiri sambutannya, Anggota Dapil Jawa Timur VII ini mengajak seluruh peserta diskusi untuk memberikan pandangan strategis, masukan kritis, serta rekomendasi kebijakan yang konkret dan implementatif.

“Masukan hari ini akan menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan di parlemen, pengawalan APBN, dan penguatan strategi nasional kita,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kunci menghadapi tantangan global adalah keberanian dalam mengambil kebijakan, ketepatan strategi, dan kekuatan sinergi nasional.

“Dari global shock menuju national resilience, dari tantangan menuju kesempatan,” tutup Ibas.

Diskusi juga diperkaya oleh pandangan para akademisi dan pakar. Prof. Hikmahanto Juwana, SH., LL.M., Ph.D., Guru Besar Hukum Internasional UI, mempertanyakan efektivitas sistem global dalam menjamin kepatuhan antarnegara, “Apa yang bisa memastikan, jika terjadi kesepakatan, tidak akan ada pelanggaran lagi?” Sementara Prof. Yon Machmudi, Ph.D., Guru Besar Sejarah dan Geopolitik Timur Tengah UI, menyoroti keterkaitan konflik Iran dengan dinamika di Gaza sebagai pola baru konflik global. Hal ini diperkuat dengan pandangan Anggota Fraksi Partai Demokrat Rizki Natakusumah menekankan pentingnya ketahanan strategis nasional, “Indonesia mengusulkan sebagai mediator, itu kita apresiasi. Kita harus membangun strategic resilience negara kita sendiri.”

Baca Juga:  Tiongkok-Indonesia Komit Perdalam Pertukaran dan Kerja Sama

Dari perspektif energi, Dr. Ir. Rudy Laksmono W, M.T., Pakar Ketahanan Energi Universitas Pertahanan, mengingatkan, bahwa subsidi terus membengkak, sedangkan produksi nasional Indonesia masih di jauh dibawah konsumsi harian. Hal ini senada dengan tanggapan Sekretaris Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan, yang menyoroti tekanan subsidi energi yang signifikan dan menjaga agar harga minyak dengan efisiensi nasional.

Sementara itu, Andree Surianta, Ph.D., Asia Freedom Fellow di LSE dan Senior Research and Policy Specialist di CIPS, menekankan pentingnya penguatan fundamental ekonomi melalui mobilisasi produksi, distribusi yang efisien, dan pembiayaan yang berkelanjutan. Dari sisi geopolitik dan ketahanan nasional, Aisha Rasyidila Kusumasomantri, M.Sc., Direktur Kerja Sama Luar Negeri di Indo-Pacific Strategic Intelligence, mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi berbagai skenario disrupsi global, khususnya dalam sektor energi dan pangan.

Sementara itu, Dionisius Narjoko, Ph.D., Senior Economist di ERIA, menekankan pentingnya penguatan industri manufaktur dan perlindungan sosial, “Perlu disiapkan adalah jaringan pengaman sosial,” serta strategi jangka panjang melalui diversifikasi industri dan kerja sama kawasan. Hal ini ditambahkan oleh anggota Fraksi Partai Demokrat disisi energi, Sartono, menyoroti pentingnya pembenahan struktural jangka panjang melalui peningkatan produksi energi domestik dan penguatan regulasi.

Diskusi kebangsaan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus menjaga kesejahteraan rakyat di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Diskusi kebangsaan ini turut dihadiri oleh sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI, di antaranya Marwan Cik Asan, Fathi, Wahyu Sanjaya, Sartono, Hasani Bin Zuber, serta Rizki Natakusumah. Selain itu, hadir pula para narasumber dan pakar, antara lain Hikmahanto Juwana, Yon Machmudi, Andree Surianta, Yayan Satyakti, Dionisius Narjoko, Rudy Laksmono, Fahmi Wibawa, Pihri Buhaerah, Imaduddin Abdullah, Putri W. Alifa Parjuni, Muhammad Syaroni Rofii, Mohammad Faisal, Aisha Rasyidila Kusumasomantri, serta Faisal Kuncoro, yang bersama-sama memberikan kontribusi pemikiran strategis bagi arah kebijakan Indonesia ke depan..(*)


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Desty


Sumber Berita : MPR RI

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Mentrans RI Jajaki Kerja Sama di Chongqing, Tiongkok
Presiden Mesir Dukung Keamanan Arab Saudi
Permata Gelar Istighosah Di Kasui
Pemukim Israel Serang Diplomat Eropa di Tepi Barat
IRGC Iran: Supertanker Kedua Meledak Usai Hantam Ranjau Laut
Jakarta Game On 2026 Dorong Eekosistem Game dan Ekonomi Kreatif
Kapolres Mesuji Gelar Subuh Keliling Serap Aspirasi Masyarakat
APINDO Diharap Perkuat Ekosistem Usaha dan Pemberdayaan UMKM
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:38 WIB

Mentrans RI Jajaki Kerja Sama di Chongqing, Tiongkok

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:32 WIB

Presiden Mesir Dukung Keamanan Arab Saudi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:04 WIB

Permata Gelar Istighosah Di Kasui

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:28 WIB

Pemukim Israel Serang Diplomat Eropa di Tepi Barat

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:22 WIB

IRGC Iran: Supertanker Kedua Meledak Usai Hantam Ranjau Laut

Berita Terbaru

Foto yang diabadikan pada 14 Oktober 2026 ini menunjukkan Menteri Transmigrasi Republik Indonesia Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mempelajari pertanian cerdas dalam kunjungannya di Chongqing, Tiongkok barat daya. (Xinhua)

Berita Utama

Mentrans RI Jajaki Kerja Sama di Chongqing, Tiongkok

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:38 WIB

Foto yang bersumber dari Pusat Media Houthi ini memperlihatkan peluncuran rudal yang diduga mengarah ke Mocha di Yaman, pada 9 Agustus 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Presiden Mesir Dukung Keamanan Arab Saudi

Minggu, 18 Okt 2026 - 14:32 WIB

Berita Utama

Permata Gelar Istighosah Di Kasui

Minggu, 18 Okt 2026 - 14:04 WIB

Para petani Palestina terlihat di sebuah pos pemeriksaan militer Israel setelah pasukan tersebut mencegah mereka memanen zaitun di lahan mereka, di Desa Salem, sebelah timur Nablus, di Tepi Barat, pada 17 Oktober 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Pemukim Israel Serang Diplomat Eropa di Tepi Barat

Minggu, 18 Okt 2026 - 11:28 WIB

Foto yang diabadikan menggunakan ponsel ini memperlihatkan kapal-kapal niaga yang terdampar di perairan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara, pada 29 Mei 2026. (Xinhua)

Berita Utama

IRGC Iran: Supertanker Kedua Meledak Usai Hantam Ranjau Laut

Minggu, 18 Okt 2026 - 08:22 WIB