Upacara Kemerdekaan di Tengah Konflik Agraria: Petani Anak Tuha Ingatkan Negara, Kemerdekaan Belum Selesai

Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMPUNGTENGAH–Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, masyarakat yang berasal dari tiga kampung Kec. Anak Tuha, Kab. Lampung Tengah yang tergabung dalam Serikat Petani Lampung (SPL) menggelar upacara kemerdekaan pada 17 Agustus 2026 tepat di depan Tenda perjuangan yang berada di lahan konflik. Upacara tersebut tidak sekadar menjadi seremonial pengibaran Sang Saka Merah Putih, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi mereka untuk kembali mempertanyakan makna kemerdekaan di tengah situasi mereka hari ini yang masih berkonflik dengan PT. BSA.

Upacara dimulai pada pukul 09.00 WIB, yang diawali dengan pengibaran bendera Merah Putih, mengheningkan cipta untuk mengenang para pendahulu bangsa, serta dilanjutkan dengan pembacaan Teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, pembacaan Pancasila oleh Pemimpin Upacara yang diikuti oleh Peserta Upacara, dan ditutup dengan Doa.

Namun, terdapat satu bagian yang menjadi pesan utama dalam upacara tersebut: yaitu laporan simbolik oleh Pemimpin Upacara kepada Presiden Republik Indonesia. Dalam laporan tersebut, masyarakat mengawali dengan penyampaian:

*”Kepada Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia, hari ini kami berdiri dalam upacara memperingati kemerdekaan Republik Indonesia. Kami mengibarkan bendera merah putih. Kami menyanyikan lagu kebangsaan. Kami mengucapkan bahwa Indonesia adalah negara yang merdeka. Namun, izinkan kami menyampaikan satu kenyataan dari tanah tempat kami hidup dan menggantungkan penghidupan: bahwa kami, petani penggarap yang sampai hari ini masih berkonflik dengan PT. BSA, belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan itu. Kami memang telah merdeka dari penjajahan bangsa asing, tetapi bagi kami kemerdekaan belum selesai ketika ruang hidup dan tanah tempat kami bertani masih terancam dirampas, ketika kami harus berhadapan dengan kekuatan modal yang jauh lebih besar, dan ketika perjuangan mempertahankan tanah justru dapat membawa kami pada kriminalisasi.*

Baca Juga:  Bundokanduang Lampung Gelar Lomba Paduan Suara dan Menu Makan Bajamba

Masyarakat mendesak negara tidak boleh hanya hadir ketika bendera dikibarkan dan upacara berlangsung. Negara juga harus hadir ketika rakyat kehilangan tanahnya, ketika ruang hidup mereka terancam dirampas oleh kekuatan ekonomi dan politik yang jauh lebih besar, dan ketika hukum digunakan sebagai instrumen untuk membungkam dan mengkriminalisasi mereka yang sedang memperjuangkan haknya.

Baca Juga:  Rombongan 5 Jurnalis Hilang Kontak Hendak Meliput Aktivitas GAK

Atas dasar itu, masyarakat mempertanyakan kembali makna kemerdekaan:

*”Pada hari kemerdekaan ini kami tidak ingin hanya bertanya: “Apakah Indonesia sudah merdeka?”* *Kami ingin mengajukan pertanyaan yang lebih penting:*
*”Untuk siapa kemerdekaan itu hadir?” Sebab kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila rakyat masih kehilangan tanahnya, kemerdekaan akan menjadi sebatas slogan apabila petani masih takut mempertahankan sumber kehidupannya, dan kemerdekaan belum sepenuhnya hadir apabila rakyat yang mempertahankan ruang hidupnya justru diperlakukan sebagai orang yang mengganggu kepentingan pembangunan.”*

Sebagai penutup rangkaian upacara, masyarakat menyampaikan satu penegasan: bahwa mereka masih akan terus berjuang, mempertahankan hak atas tanah, dan menunggu negara menjalankan mandat konstitusinya untuk melindungi segenap rakyat dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selama masih ada rakyat yang kehilangan tanahnya, selama masih ada petani yang dikriminalisasi karena mempertahankan ruang hidupnya, dan selama keadilan agraria belum terwujud, perjuangan untuk menghadirkan kemerdekaan yang sesungguhnya masih harus diteruskan.[]


Penulis : Desty Efriyani


Editor : Nara


Sumber Berita : Lampung Tengah

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Wujudkan Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata 2026-2030
Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris
PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik
Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South
IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz
Israel Mengaku Hancurkan Infrastruktur Hizbullah
Gubernur Mirza Dorong FKLPID Jadi Penghubung Tenaga Kerja dan Dunia Industri
GAK Tak Terdeteksi Erupsi, Hujan Turun, Pemprov Lampung Perkuat Kesiapsiagaan

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 11:17 WIB

Wujudkan Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata 2026-2030

Sabtu, 12 September 2026 - 04:19 WIB

Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris

Jumat, 11 September 2026 - 19:18 WIB

PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik

Jumat, 11 September 2026 - 18:54 WIB

Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South

Jumat, 11 September 2026 - 18:43 WIB

IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik

Jumat, 11 Sep 2026 - 19:18 WIB

Xi Jinping

#indonesiaswasembada

Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South

Jumat, 11 Sep 2026 - 18:54 WIB

Orang-orang menghadiri upacara pemakaman seorang komandan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), yang tewas akibat serangan AS-Israel, di Teheran, Iran, pada 1 April 2026. (Xin)

#indonesiaswasembada

IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz

Jumat, 11 Sep 2026 - 18:43 WIB