Oleh: Dr. Teguh Santosa*]
KETEGANGAN geopolitik antara dua raksasa dunia, Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok, dalam beberapa tahun terakhir ini sering kali dianalogikan sebagai sebuah keniscayaan sejarah yang suram.
Namun saya kira, pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington DC akhir September 2026 ini bukan pertemuan diplomatik biasa, melainkan sebagai momentum peredaan ketegangan (de-escalation) yang sangat dibutuhkan untuk stabilitas planet bumi.
Selama satu dekade terakhir, narasi dominan yang mewarnai hubungan Washington dan Beijing didominasi pesimisme struktural. Banyak pengamat yang mengacu langsung pada tesis terkenal Graham Allison mengenai Perangkap Thucydides Trap, sebuah jebakan historis yang menyatakan bahwa ketika kekuatan yang sedang naik daun (dalam hal ini Tiongkok) mengancam untuk menggantikan kekuatan hegemon yang ada (Amerika Serikat). Dalam analogi perangkap ini, perang sering kali menjadi hasil yang hampir tidak terhindarkan.
Dinamika persaingan di Laut China Selatan, perang dagang, pembatasan teknologi semikonduktor, hingga isu kedaulatan Taiwan telah membuat dunia berada di ambang ketakutan kolektif akan pecahnya Perang Dingin jilid kedua atau bahkan konfrontasi militer terbuka.
Pertemuan Trump dan Xi akhir September 2026 ini yang merupakan pertemuan kedelapan menghadirkan realisme baru yang cukup melegakan. Pertemuan ini membuktikan bahwa teori-teori hubungan internasional tidak boleh diposisikan sebagai takdir mutlak yang membelenggu para pemimpin dunia.
Baik Trump maupun Xi menunjukkan kapasitas pragmatisme politik yang melampaui determinisme struktural. Mereka menyadari bahwa biaya eskalasi konflik tanpa batas melampaui keuntungan jangka pendek politik unjuk kekuatan.
Jika kita membedah peristiwa ini melalui kacamata realisme ofensif yang digagas John Mearsheimer, situasi ini menghadirkan paradoks yang menarik tetapi sekaligus menjanjikan. Mearsheimer secara konsisten berargumen bahwa dalam sistem internasional yang anarkis, kekuatan besar didorong oleh ketakutan intrinsik untuk memaksimalkan kekuasaan demi kelangsungan hidup mereka.
Dalam pandangan Mearsheimer, benturan antara dua raksasa global adalah sebuah keniscayaan struktural karena masing-masing pihak akan terus berupaya mendominasi dan mencegah munculnya hegemon saingan.
Meskipun demikian, Mearsheimer juga mengakui bahwa para pemimpin yang rasional mampu memperhitungkan batas-batas kalkulasi strategis ketika biaya dari konflik ofensif menjadi terlalu mahal. Nah, pertemuan Trump dan Xi di Washington DC merefleksikan kesadaran rasional tersebut.
Di tengah kekhawatiran pecahnya perang dengan menggunakan senjata pemusnah massal modern, ketergantungan rantai pasok global yang rumit, serta kerapuhan ekonomi pasca-krisis, AS dan Tiongkok patut diduga menyadari presmis bahwa upaya untuk terus-menerus mengejar hegemoni regional tanpa rem pengaman justru akan menghancurkan keamanan nasional kedua negara itu sendiri.
Dari sudut pandang ini, ketika dihadapkan pada dilema keamanan dengan kalkulasi yang begitu rumit, great powers mengembangkan diplomasi tingkat tinggi.
Pertemuan Trump dan Xi menunjukkan bahwa diplomasi para pemimpin puncak dapat berfungsi sebagai katup pengaman. Donald Trump dengan gaya negosiasi transaksionalnya yang khas dan Xi Jinping dengan visi jangka panjangnya mengenai peremajaan (rejuvenation) bangsa Tiongkok berhasil menemukan titik keseimbangan baru di mana stabilitas ekonomi global menjadi kepentingan bersama yang mendesak.
Lebih jauh lagi, dialog konstruktif di Washington DC ini secara langsung menantang fatalisme Perangkap Thucydides. Graham Allison mengingatkan kita bahwa dari 16 kasus historis pergeseran kekuasaan besar di masa lalu, 12 di antaranya berujung pada perang besar.
Memang tidak sedikit pandangan yang menilai pertemuan tertutup yang berlangsung singkat tersebut gagal membuahkan kesepakatan berarti terkait masalah-masalah utama seperti kecerdasan buatan (AI), perdagangan global, isu kedaulatan Taiwan, hingga konflik di Iran. Kendati demikian, kedua belah pihak sepakat untuk memperpanjang jeda perang dagang mereka hingga 10 Januari mendatang.
***
Sejarah bukanlah cetakan dan pola kaku yang harus diulang secara membabi buta. Kepemimpinan politik yang matang hari ini mampu belajar dari kesalahan masa lalu untuk menghindari jebakan psikologis dan struktural tersebut.
Namun demikian peredaan ketegangan ini tidak berarti bahwa persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta-merta lenyap. Kompetisi di bidang teknologi masa depan, kecerdasan buatan, pengaruh diplomatik di Global South, serta norma-norma tata kelola global akan tetap berlangsung sengit.
Ada perbedaan mendasar antara persaingan yang dikelola dengan aturan main yang jelas dengan konfrontasi buta yang menuju pada jurang kehancuran. Pertemuan di Washington DC memilih jalan pertama, meletakkan pagar pembatas yang kokoh bagi hubungan bilateral kedua negara.
Bagi negara-negara berkembang dan kawasan strategis seperti Asia Tenggara, peredaan ketegangan ini membawa angin segar yang luar biasa. Selama ini, polarisasi antara Washington dan Beijing memaksa banyak negara di dunia untuk “memilih kubu”, yang pada akhirnya mengancam kedaulatan dan pembangunan ekonomi nasional mereka.
Penurunan tensi global ini memberikan ruang napas bagi diplomasi independen dan aktif, memungkinkan kerja sama multilateral berjalan tanpa bayang-bayang paksaan geopolitik yang destruktif.
Dari perspektif geopolitik saya menilai, apa yang terjadi di Washington DC membuktikan bahwa tatanan dunia multipolar masa kini menuntut bentuk keterlibatan baru. Kepemimpinan global tidak lagi merupakan monopoli satu kekuatan tunggal, melainkan tentang bagaimana kekuatan-kekuatan utama mampu mengelola gesekan melalui mekanisme dialog yang berkesinambungan.
Pragmatisme strategis yang ditampilkan oleh Trump dan Xi menjadi penanda penting bahwa perdamaian bukanlah tentang absennya konflik, melainkan tentang kemampuan mengelola perbedaan secara damai.
Tentu saja, tantangan terbesar kini berada pada implementasi di tingkat birokrasi dan lapangan dari kesepakatan-kesepakatan yang dicapai. Retorika positif di Washington harus diterjemahkan secara konsisten ke dalam kebijakan konkret di lapangan, mulai dari pelonggaran tarif dagang tertentu, pembukaan saluran komunikasi militer yang lebih transparan, hingga kolaborasi dalam menghadapi isu-isu lintas batas seperti perubahan iklim dan ketahanan pangan global.
Kita harus mengapresiasi keberanian politik kedua pemimpin yang memilih jalan perundingan alih-alih membiarkan ego nasional menyeret dunia ke dalam malapetaka. Politik kekuasaan tidak harus selalu bermuara pada tragedi. Ketika para pemimpin besar menyadari bahwa kelangsungan hidup umat manusia bergantung pada kerja sama minimal, rasionalitas kemanusiaan dapat mengalahkan dorongan struktural menuju perang.
Pada akhirnya, pertemuan Trump dan Xi di Washington DC pada September 2026 ini akan dikenang sebagai tonggak penting di mana dunia, walaupun untuk sementara, berhasil mengelak dari takdir buruk Perangkap Thucydides. Ini adalah kemenangan diplomasi atas arogansi kekuatan, dan bukti nyata bahwa batas-batas realisme politik dapat diperluas melalui kebijaksanaan kenegarawanan.
Saya berharap dunia kini dapat menatap masa depan dengan optimisme yang lebih terukur, di mana perdamaian global dijaga bukan oleh irasionalitas yang kebetulan, melainkan oleh komitmen untuk bersama-sama menjaga perdamaian dunia. []
*]Direktur Geopolitik GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta
Penulis : Teguh S
Editor : Nara
Sumber Berita : Jakarta








![Di Tuyal Kerjasama Ikan Tangka Indonesia-Tiongkok ditandatangani [kkp]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/09/Ikan-Tangkap-225x129.jpg)





![Di Tuyal Kerjasama Ikan Tangka Indonesia-Tiongkok ditandatangani [kkp]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/09/Ikan-Tangkap-129x85.jpg)

