Surat dari Timur Tengah: Menanti Damai di Gaza

Selasa, 13 Oktober 2026 | 23:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto yang diabadikan dari sebuah area di dekat perbatasan selatan Israel pada 6 Oktober 2026 ini memperlihatkan sejumlah kendaraan militer Israel bergerak di dalam wilayah Jalur Gaza. (Xinhua)

Foto yang diabadikan dari sebuah area di dekat perbatasan selatan Israel pada 6 Oktober 2026 ini memperlihatkan sejumlah kendaraan militer Israel bergerak di dalam wilayah Jalur Gaza. (Xinhua)

Oleh: Wang Zhuolun

YERUSALEM-Dari sebuah bukit di pinggiran Sderot, kota Israel yang paling dekat dengan Jalur Gaza, kehancuran di seberang perbatasan terlihat dengan jelas. Bangunan-bangunan yang hancur membentuk garis cakrawala yang tidak beraturan hanya beberapa kilometer dari tempat itu. Namun, kedua tempat tersebut terasa seolah berada di dunia yang berbeda.

Tiga tahun lalu, pada 7 Oktober 2023, serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel selatan memicu babak baru konflik berdarah di Gaza. Para militan memasuki Sderot dan menyerbu kantor polisi setempat, tempat pertempuran berkecamuk sepanjang malam. Pasukan Israel akhirnya menghancurkan bangunan tersebut saat merebutnya kembali.

Saya masih ingat ketika berlindung sambil berjongkok di antara reruntuhan saat meliput hari-hari awal perang: jet-jet tempur menggelegar di atas kepala, ketakutan membuat jalanan kosong, dan asap berbau menyengat menyelimuti udara. Tak jauh dari sana, setiap serangan Israel ke Gaza memicu kepulan asap ke langit.

Saat itu, tak seorang pun tahu berapa lama perang akan berlangsung, apalagi bagaimana dampaknya akan meluas melintasi perbatasan dan melanda sebagian besar kawasan Timur Tengah.

Warga Yahudi memandang ke arah Jalur Gaza yang berada di dekatnya dari Sderot, Israel selatan, pada 6 Oktober 2026. (Xinhua)

Tiga tahun kemudian, saya kembali. Reruntuhan itu telah lenyap. Di lokasi bekas kantor polisi itu kini berdiri sebuah alun-alun peringatan, dilengkapi tanaman hijau yang baru ditanam dan jalur pejalan kaki beraspal. Para pengunjung berhenti sejenak untuk melihat-lihat. Sderot perlahan-lahan kembali merasakan suasana kehidupan yang normal.

Dibutuhkan waktu kurang dari tiga tahun untuk mengubah reruntuhan menjadi sebuah alun-alun. Namun, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah perang menjadi perdamaian?

Baca Juga:  Targetkan Pramuka Aktif Di Setiap Tingkatan, Kwarran Kasui Kunjungi Tiap Gudep

Di Kota Bethlehem, Tepi Barat, Ali Mansour bercerita kepada saya bahwa dia tidak lagi bekerja sejak perang dimulai. Sebelum konflik, dia bepergian setiap hari untuk bekerja di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali Israel. Setelah konflik pecah, Israel secara drastis membatasi izin kerja bagi para pekerja Palestina, sehingga membuatnya kehilangan pekerjaannya.

Menurut Mansour, yang selama ini dia nantikan bukan sekadar pekerjaan, melainkan kesempatan untuk memulihkan martabat melalui kehidupan kerja yang normal.

Di Kota Tua Yerusalem, penjual suvenir asal Palestina, Rami Hamdan, merasakan dampak perang dengan cara yang berbeda. Di toko-toko yang dahulu ramai, para pedagang kini duduk tanpa banyak kegiatan, menanti pelanggan yang jarang datang.

“Saya sudah lama berhenti menonton berita. Saya bahkan tidak ingin tahu lagi apa yang sedang terjadi,” katanya. “Saya hanya ingin mengasingkan diri dari dunia yang dipenuhi perang tanpa akhir ini.”

Barangkali, inilah dampak perang yang paling lama membekas. Sebuah ledakan memiliki waktu, tempat, dan jumlah korban yang dapat dihitung. Peristiwa itu menjadi berita utama, lalu diabadikan dalam sebuah foto. Namun, lama setelah asap menghilang, perang tetap meninggalkan dampak dalam bentuk yang tak kasatmata, seperti keluarga yang berduka atas kehilangan orang-orang tercinta, para pekerja yang menunggu pekerjaan yang tak kunjung kembali, anak-anak yang tumbuh di tengah suara sirene serangan udara, serta orang-orang biasa yang menjalani hari demi hari dalam ketidakpastian.

Baca Juga:  Segel Karhutla, Ujian Ketegasan Negara
Seorang pejalan kaki melintasi lokasi peringatan terkait putaran terbaru konflik Gaza di Tel Aviv, Israel, pada 6 Oktober 2026. (Xinhua)

Selama tiga tahun terakhir, pertempuran telah meluas menjadi konflik regional. Konflik tersebut meluas dari Gaza ke perbatasan Israel-Lebanon dan Laut Merah, sebelum meningkat menjadi konfrontasi militer langsung berskala besar yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Roket, rudal, dan drone berulang kali melintasi langit Timur Tengah.

Selama tiga tahun ini, entah sudah berapa kali saya menulis kata “eskalasi” dan frasa “gencatan senjata mulai berlaku”. Berulang kali, tepat ketika perang tampak hampir berakhir, babak pertempuran baru justru kembali pecah.

Meluasnya medan pertempuran terus menguji pemahaman saya tentang perang selama ini. Sebagai koresponden yang meliput langsung dari garis depan, saya belajar bahwa situasi terburuk sekalipun bisa segera tergantikan oleh keadaan yang lebih buruk, dan sesuatu yang tampak seperti akhir bisa jadi justru merupakan awal dari sesuatu yang lebih buruk.

Sebelum meninggalkan Sderot, saya bertemu dengan Shalom Levi, seorang warga setempat. Kini berusia 60 tahun, dia menghabiskan seluruh hidupnya di dekat perbatasan Gaza.

Dalam bahasa Ibrani, “shalom” merupakan sapaan sekaligus kata yang berarti “damai”. Levi bercerita kepada saya bahwa orang tuanya memilih nama tersebut untuk mengungkapkan harapan mereka akan perdamaian.

Di belakangnya berdiri alun-alun peringatan yang dibangun di atas bekas reruntuhan kantor polisi. Di baliknya terbentang Gaza, yang masih porak-poranda akibat perang.

Monumen-monumen baru telah berdiri di atas puing-puing. Rumput-rumput baru tumbuh di tanah yang hangus terbakar. Namun, seorang pria yang namanya berarti “Damai” masih menunggu hingga namanya menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar harapan.

*]Reporter Xinhua News


Penulis : Oleh: Wang Zhuolun


Editor : Heri Suroyo


Sumber Berita : Opini

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Menko AHY: Indonesia Harus Jadi kekuatan Berpengaruh
Bupati Ayu Buka TMMD Ke -130 TA 2026
39 Crash Cushion Perkuat Sistem Keselamatan di Tol BTB
Kasubsektor Bersama Camat RJU  Tangani ODGJ
Lampung Dukung Kontingen LPTG Ikuti Swayamvara Tripitaka Gatha Nasional XII di Jambi
Rencanakan Program, Lurah Kasui Kunjungi Warganya
AS-Israel Penyebab Timbulnya Bahaya Lingkungan
Inafis Polres Mesuji Olah TKP Jasad Wanita di Kebun Sawit

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 06:24 WIB

Menko AHY: Indonesia Harus Jadi kekuatan Berpengaruh

Selasa, 13 Oktober 2026 - 23:42 WIB

Surat dari Timur Tengah: Menanti Damai di Gaza

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Bupati Ayu Buka TMMD Ke -130 TA 2026

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:47 WIB

39 Crash Cushion Perkuat Sistem Keselamatan di Tol BTB

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:22 WIB

Kasubsektor Bersama Camat RJU  Tangani ODGJ

Berita Terbaru

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia (RI) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pidato utama bertajuk

Berita Utama

Menko AHY: Indonesia Harus Jadi kekuatan Berpengaruh

Rabu, 14 Okt 2026 - 06:24 WIB

Foto yang diabadikan dari sebuah area di dekat perbatasan selatan Israel pada 6 Oktober 2026 ini memperlihatkan sejumlah kendaraan militer Israel bergerak di dalam wilayah Jalur Gaza. (Xinhua)

Berita Utama

Surat dari Timur Tengah: Menanti Damai di Gaza

Selasa, 13 Okt 2026 - 23:42 WIB

Berita TNI

Bupati Ayu Buka TMMD Ke -130 TA 2026

Selasa, 13 Okt 2026 - 18:55 WIB

Berita Utama

39 Crash Cushion Perkuat Sistem Keselamatan di Tol BTB

Selasa, 13 Okt 2026 - 18:47 WIB

Berita Utama

Kasubsektor Bersama Camat RJU  Tangani ODGJ

Selasa, 13 Okt 2026 - 13:22 WIB