Perjalanan JMSI Lampung Merawat Harmoni, Meneguhkan Jurnalisme Bermartabat

Senin, 9 Februari 2026 | 13:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pagi di Kampung Lampung Cikoneng, Anyer, Banten, terasa teduh dan bersahaja. Angin laut berembus perlahan mengiringi halaman rumah-rumah yang berdiri kokoh sebagai penanda sejarah panjang masyarakat Lampung di tanah perantauan. Di kampung yang menyimpan jejak leluhur itu, rombongan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung datang bukan hanya sebagai tamu, melainkan sebagai saudara yang pulang menapaki akar budaya.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2026, namun suasananya jauh dari kesan seremonial. Langkah para insan pers justru menghadirkan ruang perjumpaan yang hangat antara jurnalisme, sejarah, dan nilai-nilai kebersamaan yang hidup dalam tradisi masyarakat. Sekitar 30 anggota JMSI Lampung tiba dengan membawa semangat silaturahmi. Sambutan masyarakat Kampung Cikoneng berlangsung sederhana tetapi penuh makna. Bahasa Lampung yang terdengar dalam percakapan warga seakan menghapus jarak geografis antara Lampung dan Banten. Identitas budaya tetap terjaga, diwariskan lintas generasi, menjadi pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi.

Bagi masyarakat Cikoneng, kampung ini bukan hanya sebagai tempat tinggal, melainkan ruang memori kolektif. Leluhur mereka datang dari tanah Lampung berabad lalu, membawa adat, bahasa, dan nilai kehidupan yang terus dipertahankan hingga kini. Kehadiran JMSI Lampung menghadirkan kembali rasa keterhubungan itu bahwa persaudaraan budaya tetap hidup meski dipisahkan laut dan waktu.
Kehangatan kunjungan itu terasa semakin kuat ketika Kepala Desa Cikoneng, Heri, menyampaikan rasa bahagianya atas kedatangan rombongan JMSI Lampung. Baginya, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda organisasi pers, melainkan tanda bahwa hubungan batin dengan tanah leluhur di Lampung tetap terjaga. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan bahwa masyarakat Cikoneng merasa masih diperhatikan oleh saudara-saudara mereka dari tanah asal. Ucapan terima kasih pun disampaikan dalam bahasa Lampung, bahasa yang hingga kini tetap hidup dalam keseharian warga kampung adat tersebut.
“Terima kasih atas kunjungan ini. Kami sangat senang,” ujarnya, Sabtu (8/2). Ia juga menegaskan kebahagiaan masyarakat menerima kedatangan para jurnalis dari Lampung.

Baca Juga:  Membangun dengan Hutang

Heri kemudian menjelaskan sejarah keberadaan masyarakat Lampung di Cikoneng yang kerap disalahpahami. Menurutnya, warga Lampung Cikoneng bukanlah imigran sebagaimana anggapan umum. Leluhur mereka datang ke Banten atas undangan Sultan Maulana Hasanuddin pada masa lampau, sebagai bagian dari hubungan sejarah dan pemerintahan kala itu. “Jadi kami ini bukan imigran, tetapi datang karena undangan Sultan Maulana Hasanuddin,” jelasnya, menegaskan identitas historis masyarakat Lampung Cikoneng.

Hal senada disampaikan tokoh masyarakat setempat, Agus Nikmatullah. Ia menilai kunjungan JMSI Lampung menjadi bukti bahwa ikatan persaudaraan antara masyarakat Lampung di Cikoneng dan tanah leluhurnya tetap kuat meski dipisahkan jarak geografis. Lebih dari itu, Agus mengaku bangga karena masyarakat Cikoneng masih mempertahankan bahasa Lampung sebagai bahasa sehari-hari. Di rumah, di lingkungan sosial, bahkan dalam kegiatan resmi kampung, bahasa Lampung tetap digunakan tanpa rasa canggung. “Di sini setiap hari kami menggunakan bahasa Lampung, baik dalam keluarga maupun dalam kegiatan resmi. Kami bangga dan tidak pernah merasa malu menggunakan bahasa Lampung,” tuturnya.

Ketua JMSI Lampung Ahmad Rovriwan menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi momentum penting bagi insan pers untuk kembali mendekat kepada masyarakat. Pers, menurutnya, tidak boleh kehilangan akar sosialnya. Di tengah derasnya arus informasi digital, jurnalisme tetap harus berpijak pada nilai kemanusiaan, kejujuran, dan tanggung jawab moral.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju makam Minak Sengaji Murub Damar, tokoh yang dihormati sebagai bagian dari sejarah masyarakat Lampung Cikoneng. Langkah rombongan melambat ketika memasuki area pemakaman. Suasana hening menghadirkan refleksi mendalam bahwa setiap perjalanan masa kini selalu berdiri di atas perjuangan generasi terdahulu.

Ziarah itu bukan sekadar tradisi, tetapi simbol penghormatan terhadap sejarah dan identitas. Di hadapan makam leluhur, para jurnalis seakan diingatkan bahwa profesi pers pun memiliki tanggung jawab serupa: menjaga ingatan kolektif bangsa, merawat kebenaran, dan menyampaikan cerita dengan integritas. Momentum tersebut menghadirkan makna baru bagi peringatan Hari Pers Nasional. Pers tidak hanya berbicara tentang kecepatan informasi atau kompetisi pemberitaan, tetapi tentang bagaimana media hadir sebagai penjaga nilai sosial. Di Kampung Cikoneng, jurnalisme menemukan kembali wajahnya yang paling mendasar mendengar, memahami, dan merawat hubungan dengan masyarakat.

Baca Juga:  DWP Lampung Inginkan Ibu jadi Garda Terdepan Kesehatan Keluarga

Di era media digital yang serba cepat, perjalanan ke Kampung Cikoneng seolah menjadi jeda reflektif. Para insan pers diajak kembali pada esensi profesi: menghadirkan berita yang tidak hanya informatif, tetapi juga bermakna. Jurnalisme bermartabat lahir bukan dari sensasi, melainkan dari kedekatan dengan realitas sosial dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.
Dari Kampung Cikoneng, JMSI Lampung membawa pulang pesan sederhana namun mendalam: bahwa jurnalisme yang kuat tumbuh dari akar budaya, dari empati terhadap masyarakat, dan dari komitmen menjaga kepercayaan publik. Sebab pada akhirnya, pers yang bermartabat bukan hanya tentang apa yang ditulis, tetapi tentang nilai yang dihidupkan.

Dari Kampung Cikoneng, JMSI Lampung membawa pulang kesadaran baru bahwa jurnalisme tidak cukup hanya cepat dan informatif. Ia harus sehat secara etika, kuat dalam integritas, dan berpihak pada kepentingan publik. Sebab di tengah derasnya arus informasi digital, kepercayaan masyarakat menjadi fondasi utama keberlangsungan pers. Perjalanan JMSI Lampung ke Kampung Cikoneng bukan hanya tentang mengenang sejarah atau mempererat silaturahmi budaya, melainkan juga meneguhkan komitmen bersama terhadap cita besar pers Indonesia: Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat sebuah harapan bahwa jurnalisme bermartabat akan terus menjadi cahaya yang menerangi perjalanan bangsa ke masa depan.


Penulis : Fathul Mu'in


Editor : Ahmad Novriwan

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Anies Jadi Penasehat Kerajaan Arab Saudi
Peduli Lansia Kurang Mampu, Ketua Bhayangkari Gelar Baksos di Desa Budi Aji
Kunker ke Mapolsek Simpang Pematang, Kapolres Tekankan Jaga Sinergitas Polri dan Bhayangkari
Marindo Kurniawan Kunjungi Ombudsman RI Lampung, Bahas Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
Konstituen Dewan Pers di Lampung Siap Sukseskan HPN 2027
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Apresiasi UNHAN KKDN di Lampung
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Terima Rektor Unhan RI
Jihan Nurlela: MBG Instrumen Penting Mencetak SDM Unggul

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:14 WIB

Anies Jadi Penasehat Kerajaan Arab Saudi

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:04 WIB

Peduli Lansia Kurang Mampu, Ketua Bhayangkari Gelar Baksos di Desa Budi Aji

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:00 WIB

Kunker ke Mapolsek Simpang Pematang, Kapolres Tekankan Jaga Sinergitas Polri dan Bhayangkari

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:15 WIB

Marindo Kurniawan Kunjungi Ombudsman RI Lampung, Bahas Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:13 WIB

Konstituen Dewan Pers di Lampung Siap Sukseskan HPN 2027

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Anies Jadi Penasehat Kerajaan Arab Saudi

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:14 WIB

#indonesiaswasembada

Peduli Lansia Kurang Mampu, Ketua Bhayangkari Gelar Baksos di Desa Budi Aji

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:04 WIB

#indonesiaswasembada

Konstituen Dewan Pers di Lampung Siap Sukseskan HPN 2027

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:13 WIB