Peran Forecasting dalam Menjamin Ketersediaan Bahan Baku pada Kegiatan Usaha Pertanian

Minggu, 28 Juni 2026 | 11:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nurullia Febriati, M.Si, Dosen Fakultas Pertanian Unila

Nurullia Febriati, M.Si, Dosen Fakultas Pertanian Unila

Oleh: Nurullia Febriati, M.Si., Dosen Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Kegiatan usaha pertanian memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, menggerakkan ekonomi daerah, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, kegiatan ini menghadapi tantangan besar, dalam menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. Bahan baku pertanian yang dipengaruhi oleh musim, cuaca, luas tanam, produktivitas lahan, serangan hama, fluktuasi harga, sampai perubahan permintaan pasar. Hal ini memaksa pelaku usaha pertanian tidak hanya mengandalkan pengalaman atau perkiraan manual akan tetapi, menggunakan pendekatan yang lebih terukur melalui forecasting atau peramalan.

Forecasting atau peramalan bahan baku merupakan proses memperkirakan kebutuhan dan ketersediaan bahan baku pada masa mendatang berdasarkan data historis, tren produksi, pola permintaan, kondisi pasar, dan faktor lingkungan. Pada kegiatan usaha pertanian forecasting membantu pelaku usaha menentukan kapan bahan baku dibutuhkan, berapa jumlah yang harus disiapkan, dari mana sumber pasokannya, serta bagaimana strategi penyimpanan dan distribusinya. Peran forecasting menjadi semakin penting karena, perbedaan karakteristik bahan baku yang berbeda antara kegiatan di sektor pertanian dibandingkan sektor usaha lain. Banyak komoditas pertanian bersifat musiman, mudah rusak, dan memiliki kualitas yang sangat bergantung pada kondisi alam. Kopi, kakao, singkong, jagung, buah-buahan, sayuran, kelapa sawit, susu, dan daging membutuhkan perencanaan pasokan yang tepat agar kegiatan usaha dapat berjalan lancar.

Perencanaan kegiatan usaha tanpa forcasting atau peramalan yang baik, memiliki resiko kekurangan bahan baku, kelebihan stok, penurunan mutu, pemborosan biaya, bahkan kehilangan peluang pasar. Bagi kegiatan usaha pengolahan pangan forecasting memiliki fungsi sebagai dasar dalam menyusun rencana produksi. Salah satu contohnya adalah kegiatan usaha pengolahan kopi yang membutuhkan memperkirakan pasokan biji kopi dari petani pada musim panen tertentu. Usaha pengolahan singkong harus menghitung kebutuhan umbi segar agar produksi tepung, keripik, atau produk turunan lainnya tetap berjalan. Usaha pengolahan buah dan sayur perlu memastikan pasokan bahan baku sesuai dengan kapasitas alat, tenaga kerja, dan permintaan konsumen. Perencanaan bahan baku yang tepat mencegah gangguan produksi dan mengurangi pemborosan biaya.

Baca Juga:  APPMBGI Lampung: MBG Harus Dilanjutkan Untuk Gizi Anak dan Ekonomi Lokal

 

Peramalan atau forecasting dapat membantu pelaku usaha pertanian dalam mengelola pembelian bahan baku, persediaan, jadwal produksi, dan distribusi secara lebih efektif. Serta, berperan memperkuat hubungan antara pelaku usaha, petani, koperasi, kelompok tani, dan mitra pemasaran. Saat kebutuhan bahan baku dapat diperkirakan dengan jelas, petani dapat menyesuaikan pola tanam, waktu panen, volume produksi, dan standar mutu sesuai permintaan pasar. Kondisi ini menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan. Pelaku usaha memperoleh kepastian pasokan, sementara petani mendapatkan kepastian pasar dan peluang harga yang lebih stabil.

Dalam prosesnya, forecasting atau peramalan dapat dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari pencatatan sederhana hingga penggunaan teknologi digital. Data produksi tahun sebelumnya, tren penjualan, kalender musim, luas lahan, produktivitas, permintaan konsumen, dan harga pasar dapat menjadi dasar dalam menyusun peramalan. Pada skala yang lebih maju, dapat juga memanfaatkan aplikasi digital, sensor pertanian, data cuaca, citra satelit, hingga kecerdasan buatan untuk menghasilkan prediksi yang lebih akurat. Pemanfaatan teknologi ini membantu pelaku usaha mengambil keputusan secara lebih cepat, tepat, dan berbasis data.

Baca Juga:  Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal Hadiri Pengukuhan Srikandi Jaga Desa, Dorong Peran Perempuan Membangun Desa

Keberhasilan forecasting atau peramalan sangat bergantung pada kualitas data akan tetapi, banyak pelaku usaha pertanian belum memiliki sistem pencatatan yang rapi. Data produksi, stok, penjualan, kebutuhan bahan baku, dan permintaan pasar sering kali belum terdokumentasi dengan baik. Pasalnya data merupakan dasar utama dalam pengambilan keputusan usaha. Oleh sebab itu, digitalisasi manajemen bahan baku perlu diperkuat, baik di tingkat petani, koperasi, UMKM, maupun perusahaan agroindustri. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha juga perlu berperan dalam membangun sistem forecasting atau peramalan bahan baku pertanian. Pemerintah dapat menyediakan data produksi dan pasar yang terbuka. Perguruan tinggi dapat mendukung melalui riset, pelatihan, dan pendampingan teknologi dan dunia usaha dapat membangun kemitraan berbasis data dengan petani dan kelompok tani.

Hal ini memperlihatkan bahwa forecasting atau peramalan bukan sekadar kegiatan menghitung kebutuhan bahan baku namun, strategi dalam membangun kegiatan usaha pertanian yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Peramalan yang tepat membantu memastikan ketersediaan bahan baku sesuai jumlah, waktu, mutu, dan harga yang dibutuhkan. Perencanaan yang baik menciptakan kestabilan kegiatan usaha pertanian, sehingga petani memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik, dan produk pertanian lokal memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di pasar nasional maupun global. Melalui pemanfaatan forecasting atau peramalan masa depan kegiatan usaha pertanian tidak lagi hanya ditebak, tetapi dapat direncanakan dengan lebih cerdas.


Penulis : Nurullia Febriati


Editor : Ahmad Novriwan

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Jaga Situasi Kamtibmas, Polsek Simpang Pematang Rutin Gelar Patroli dan KRYD
Praktik Culas Proyek SMKN 2 Kotabumi Terungkap!, Panitia Berdalih Miskomunikasi
Temui Tokoh Adat Jabung, Gubernur Mirza Hadirkan Solusi Pendidikan, Infrastruktur, dan Lapangan Kerja
Pemprov Lampung Perkuat Pengendalian Inflasi, Lakukan Langkah Pengendalian dan Pengawasan Komoditas Strategis
Yorrys Umumkan Pembentukan Pansus Papua Sebagai Langkah Strategis
Tak Sesuai Spesifikasi, P2SP Bongkar Ulang Proyek Revitalisasi SMKN 2 Kotabumi
Pemprov Lampung Perkuat Sinergi Bersama Forkopimda, Wujudkan Pembangunan yang Inklusif dan Berkelanjutan
Milad ke – 3 dan Rakernas Persadin Sukses, Perkuat Konsolidasi Nasional dan Arah Organisasi

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 22:54 WIB

Jaga Situasi Kamtibmas, Polsek Simpang Pematang Rutin Gelar Patroli dan KRYD

Senin, 6 Juli 2026 - 22:49 WIB

Praktik Culas Proyek SMKN 2 Kotabumi Terungkap!, Panitia Berdalih Miskomunikasi

Senin, 6 Juli 2026 - 17:56 WIB

Temui Tokoh Adat Jabung, Gubernur Mirza Hadirkan Solusi Pendidikan, Infrastruktur, dan Lapangan Kerja

Senin, 6 Juli 2026 - 17:54 WIB

Pemprov Lampung Perkuat Pengendalian Inflasi, Lakukan Langkah Pengendalian dan Pengawasan Komoditas Strategis

Senin, 6 Juli 2026 - 13:45 WIB

Yorrys Umumkan Pembentukan Pansus Papua Sebagai Langkah Strategis

Berita Terbaru

Wakil Ketua DPD RI, Yorrys Raweyai, mengumumkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Papua sebagai langkah strategis untuk menangani berbagai persoalan yang terus berkembang di Tanah Papua.[Hs]

#indonesiaswasembada

Yorrys Umumkan Pembentukan Pansus Papua Sebagai Langkah Strategis

Senin, 6 Jul 2026 - 13:45 WIB