Media Siber Indonesia, Berdaulat atau Cuma Penonton?

Sabtu, 11 April 2026 | 06:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Junaidi Ismail, SH |

DI TENGAH derasnya arus digitalisasi global, media siber Indonesia berada pada persimpangan penting yakni menjadi tuan di negeri sendiri atau sekadar penonton dalam ekosistem yang dikendalikan pihak luar.

Pernyataan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, dalam pelantikan pengurus JMSI Lampung di Balai Keratun Pemerintah Provinsi Lampung pada 10 April 2026, sejatinya bukan sekedar seruan organisasi.

Ini adalah peringatan keras bagi masa depan kedaulatan digital dan integritas jurnalistik di Indonesia.

Dua isu yang diangkat, kedaulatan digital dan tanggung jawab jurnalistik bukanlah wacana baru. Namun dalam konteks hari ini, keduanya menjadi semakin mendesak.

Ketika algoritma global mengatur arus informasi, dan kecepatan sering kali mengalahkan akurasi, media nasional dituntut untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berdaulat dan bermartabat.

Kedaulatan digital bukan hanya jargon politik atau ekonomi. Ini adalah kemampuan sebuah bangsa untuk mengendalikan data, infrastruktur, dan ekosistem informasinya sendiri.

Saat ini, sebagian besar distribusi informasi di Indonesia masih bergantung pada platform raksasa global seperti Google, Meta, dan lainnya. Ketergantungan tersebut bukan tanpa konsekuensi.

Pertama, data pengguna Indonesia yang merupakan “minyak baru” di era digital lebih banyak tersimpan dan dikelola di luar negeri.
Kedua, algoritma platform global menentukan visibilitas informasi, termasuk berita, tanpa mempertimbangkan kepentingan nasional.
Ketiga, model bisnis media lokal menjadi rapuh karena bergantung pada sistem monetisasi yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan.

Apa yang disampaikan Teguh Santosa sejatinya mengarah pada satu hal, Indonesia harus berani membangun ekosistem digital mandiri.

Negara-negara seperti China dan Korea Selatan telah membuktikan bahwa kemandirian platform bukan hal mustahil.

Mereka memiliki mesin pencari, media sosial, hingga layanan digital sendiri yang mampu bersaing di tingkat global. Indonesia, dengan jumlah pengguna internet yang besar, memiliki potensi serupa.

Namun, potensi tanpa keberanian politik dan kebijakan yang progresif hanya akan menjadi angka statistik.

Baca Juga:  APINDO Diharap Perkuat Ekosistem Usaha dan Pemberdayaan UMKM

Di sinilah peran pemerintah menjadi krusial, bukan sekedar regulator, tetapi juga fasilitator dan akselerator inovasi digital nasional.

Di sisi lain, kedaulatan digital tidak akan berarti tanpa integritas informasi. Media siber sebagai produsen utama konten memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk opini publik.

Sayangnya, realitas hari ini menunjukkan bahwa tidak semua media menjalankan fungsi jurnalistiknya dengan baik.

Fenomena clickbait, disinformasi, hingga berita yang provokatif menjadi tantangan nyata. Dalam logika ekonomi digital, klik sering kali lebih bernilai daripada kebenaran.

Namun, jika media terus terjebak dalam logika ini, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas, tetapi juga stabilitas sosial.

Di sinilah pentingnya penegasan Teguh Santosa bahwa JMSI harus menjadi garda terdepan dalam menyajikan informasi yang produktif dan konstruktif.

Media tidak boleh sekedar menjadi “pabrik berita”, tetapi harus menjadi institusi yang mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat konstitusi.

Tanggung jawab jurnalistik mencakup beberapa prinsip utama yakni verifikasi, akurasi, keberimbangan, dan independensi.

Prinsip-prinsip ini bukan sekedar norma etika, tetapi fondasi kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, media kehilangan relevansinya.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, media memiliki peran strategis dalam menjaga hubungan sosial.

Konten yang provokatif, diskriminatif, atau memecah belah bukan hanya melanggar etika jurnalistik, tetapi juga berpotensi merusak persatuan bangsa.

Kecepatan penyebaran informasi di era digital membuat satu berita bisa menjangkau jutaan orang dalam hitungan detik.

Jika informasi tersebut tidak akurat atau mengandung bias, dampaknya bisa sangat luas dan sulit dikendalikan.

Oleh karena itu, media harus memiliki kesadaran kolektif bahwa setiap konten yang dipublikasikan memiliki konsekuensi sosial.

Dalam hal ini, tanggung jawab jurnalistik bukan hanya soal profesionalisme, tetapi juga soal moralitas.

Kritik terhadap para pemangku kebijakan yang cenderung “santai dan berpangku tangan” patut menjadi refleksi bersama.

Baca Juga:  Bupati Ayu Terima Pergunu Way Kanan

Selama ini, banyak kebijakan terkait media dan digital yang lebih bersifat seremonial daripada substantif.

Padahal, untuk mewujudkan kedaulatan digital dan memperkuat tanggung jawab jurnalistik, diperlukan langkah-langkah konkret.

Misalnya, penguatan regulasi yang melindungi media lokal, insentif bagi inovasi teknologi nasional, serta penegakan hukum terhadap penyebaran disinformasi. Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong literasi digital masyarakat.

Sebab, ekosistem informasi yang sehat tidak hanya bergantung pada media, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam memilah dan memahami informasi.

Sebagai organisasi yang mewadahi media siber, JMSI memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi media, khususnya di daerah.

Lampung, sebagai salah satu daerah yang memiliki dinamika media yang cukup tinggi, dapat menjadi contoh bagaimana media lokal bisa berkembang tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas.

Media daerah tidak boleh terus berada di bawah bayang-bayang media nasional atau platform global. Mereka harus berani berinovasi, baik dalam model bisnis maupun dalam produksi konten. Dengan dukungan organisasi seperti JMSI, hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

Apa yang disampaikan Teguh Santosa bukanlah sekedar retorika. Ini adalah panggilan untuk bertindak.

Kedaulatan digital dan tanggung jawab jurnalistik adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Tanpa kedaulatan digital, media akan terus bergantung dan kehilangan daya tawar. Tanpa tanggung jawab jurnalistik, media akan kehilangan kepercayaan dan legitimasi.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya, baik manusia maupun teknologi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengambil langkah strategis dan konsistensi dalam menjalankannya.

Sudah saatnya kita berhenti pada seremoni dan mulai bekerja secara nyata. Sebab, di era digital, siapa yang menguasai informasi, dialah yang menentukan arah masa depan bangsa. (*)

)Pengurus JMSI Lampung


Penulis : Junaidi Ismail


Editor : Rudi Alfian


Sumber Berita : Opini

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Tiga Hari Gempa, Warga Tempati Rumah di Xizang, Tiongkok
488 Keluarga Palestina Terdampak Operasi Militer Israel
Badan Karantina Indonesia Perkuat Fasilitasi Ekspor
Sinergi Disdik-Bunda PAUD Lampura, Wujudkan ‘STEAM’ Menyenangkan
1.300 Demonstan Ditangkap di Seantero Francis
Badan Karantina Indonesia Perkuat Fasilitasi Ekspor
Koalisi Arab Saudi Hancurkan Terowongan Rudal Houthi
Lampung Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Jaga Harga Pangan

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:22 WIB

Tiga Hari Gempa, Warga Tempati Rumah di Xizang, Tiongkok

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:15 WIB

488 Keluarga Palestina Terdampak Operasi Militer Israel

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Badan Karantina Indonesia Perkuat Fasilitasi Ekspor

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Sinergi Disdik-Bunda PAUD Lampura, Wujudkan ‘STEAM’ Menyenangkan

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:16 WIB

1.300 Demonstan Ditangkap di Seantero Francis

Berita Terbaru

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 26 Oktober 2026 ini memperlihatkan rumah-rumah prefabrikasi di lokasi relokasi warga desa yang terdampak gempa di Maru, wilayah Baqen, Kota Nagqu, Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya. (Xinhua)

Bencana

Tiga Hari Gempa, Warga Tempati Rumah di Xizang, Tiongkok

Selasa, 27 Okt 2026 - 12:22 WIB

Sebuah kendaraan militer Israel berpatroli saat operasi militer di Kota Hebron, Tepi Barat, pada 25 Oktober 2026. (Xinhua)

Berita Utama

488 Keluarga Palestina Terdampak Operasi Militer Israel

Selasa, 27 Okt 2026 - 12:15 WIB


Foto yang diabadikan pada 14 Oktober 2026 ini menunjukkan Dian Seri Rezeki Kusumastuti (ketiga dari kiri) selaku perwakilan pejabat dari Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyerahkan nota kesepahaman (MoU) secara simbolis kepada perwakilan pelaku usaha dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. (Badan Karantina Indonesia/Istimewa)

Berita Utama

Badan Karantina Indonesia Perkuat Fasilitasi Ekspor

Senin, 26 Okt 2026 - 19:22 WIB

Pengunjuk rasa terlihat di Lille, Francis, pada 24 Oktober 2026. Sekitar 410.000 orang ikut serta dalam gelombang baru aksi unjuk rasa di seantero Prancis pada Sabtu (24/10), lapor saluran berita BFM TV, mengutip Kementerian Dalam Negeri Prancis. (Xinhua)

Berita Utama

1.300 Demonstan Ditangkap di Seantero Francis

Senin, 26 Okt 2026 - 19:16 WIB