Mahasiswa Indonesia Apresiasi Upaya Pelestarian Warisan Budaya China

Kamis, 23 Juli 2026 | 12:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alih-alih memegang kamera, Veldesen Yaputra, mahasiswa arsitektur sekaligus kreator konten asal Indonesia, berdiri tenang di depan sebuah bangunan kuno China. Dengan buku sketsa di tangannya, dia secara cermat menggambar kerumitan struktur kayu dan lekukan atap bangunan megah tersebut.[]

Alih-alih memegang kamera, Veldesen Yaputra, mahasiswa arsitektur sekaligus kreator konten asal Indonesia, berdiri tenang di depan sebuah bangunan kuno China. Dengan buku sketsa di tangannya, dia secara cermat menggambar kerumitan struktur kayu dan lekukan atap bangunan megah tersebut.[]

TAIYUAN- Alih-alih memegang kamera, Veldesen Yaputra, mahasiswa arsitektur sekaligus kreator konten asal Indonesia, berdiri tenang di depan sebuah bangunan kuno China. Dengan buku sketsa di tangannya, dia secara cermat menggambar kerumitan struktur kayu dan lekukan atap bangunan megah tersebut.

“Menurut saya, menggambar tidak semata-mata untuk merekam rupa suatu bangunan,” tuturnya. “Lebih dari itu, menggambar adalah upaya untuk menjalin keterikatan emosional dengannya.”

Veldesen merupakan salah satu tamu mancanegara yang menghadiri ajang Pekan Perlindungan Warisan Budaya Internasional (International Cultural Heritage Protection Week) 2026 bertema “Persatuan demi Kemakmuran, Warisan untuk Selamanya” (Unity for Prosperity, Heritage for Eternity). Acara tersebut dibuka pada Rabu (15/7) pekan lalu di kota tua Yuci di Jinzhong, Provinsi Shanxi, China utara.

Foto yang diabadikan pada 16 Juli 2026 ini menunjukkan Veldesen Yaputra, mahasiswa asal Indonesia, sedang mengunjungi sebuah menara kuno yang terletak di Yuci, Provinsi Shanxi, China utara. (Xinhua)

Acara itu mempertemukan para diplomat, pakar warisan budaya, akademisi asing, dan kreator media internasional untuk membahas perlindungan warisan budaya dan pembelajaran bersama antarperadaban. Bagi Veldesen, perjalanan tersebut bernilai akademis sekaligus personal.

Lahir pada 2001 di Pontianak, kota multibudaya di Provinsi Kalimantan Barat, dia tumbuh besar di tengah keberagaman kelompok etnis dan budaya. Rasa ingin tahu Veldesen terhadap akar budaya Tionghoanya telah mendorong dirinya untuk mulai mempelajari bahasa Mandarin sejak dini.

Pada 2017, dia bertolak ke China untuk mempelajari bahasa Mandarin sekaligus memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai budaya negara tersebut. Terpukau oleh kekayaan sejarah dan pesatnya pembangunan di China, Veldesen lantas melanjutkan pendidikan di Universitas Tsinghua, tempat dirinya mempelajari desain lingkungan sebelum melanjutkan program magister di bidang arsitektur.

Baca Juga:  Biro Perekonomian untuk Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Foto yang diabadikan pada 16 Juli 2026 ini menunjukkan Veldesen Yaputra, mahasiswa asal Indonesia, sedang mengunjungi sebuah menara kuno yang terletak di Yuci, Provinsi Shanxi, China utara. (Xinhua)

Studinya tersebut mengarahkannya untuk fokus pada arsitektur tradisional, revitalisasi pedesaan, dan pelestarian warisan budaya.

“China telah mengajarkan saya bahwa konservasi warisan budaya tidak sekadar tentang melestarikan bangunan tua,” ungkapnya. “Melainkan juga tentang merawat budaya, sejarah, dan vitalitas masyarakat.”

Selama kunjungannya ke Shanxi, yang kerap dijuluki sebagai “gudang harta karun arsitektur kuno China,” Veldesen mengaku sangat terkesan dengan kekayaan situs bersejarah di provinsi itu dan berbagai upaya untuk melindunginya.

Shanxi merupakan rumah bagi lebih dari 500 situs warisan budaya utama di bawah perlindungan negara, jumlah terbanyak di antara seluruh daerah setingkat provinsi di China. Di provinsi itu juga terdapat tiga Situs Warisan Dunia UNESCO, yaitu Kota Kuno Pingyao, Gua Yungang, dan Gunung Wutai.

Dalam beberapa tahun terakhir, Shanxi telah mengintegrasikan teknologi digital seperti pemindaian tiga dimensi (3D), pengarsipan digital, dan pameran imersif ke dalam bidang konservasi warisan budaya. Langkah itu membantu peninggalan budaya kuno menjangkau khalayak yang lebih luas, sekaligus memastikan kelestariannya.

Veldesen yakin pengalaman China menawarkan pelajaran yang berharga bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Kesamaan terbesar antara China dan Indonesia adalah arsitektur tradisionalnya berhubungan erat dengan alam, budaya, dan masyarakat setempat,” tuturnya. “Bangunan bukanlah monumen yang berdiri sendiri. Bangunan berkembang seiring dengan kehidupan masyarakat.”

Baca Juga:  Jaga Stabilitas Ekonomi, Pemprov Lampung Perkuat Pengendalian Inflasi dan Layanan Pertanahan

Di saat yang sama, dia menyatakan bahwa banyak desa tradisional di Indonesia yang menghadapi tantangan modernisasi, pengembangan pariwisata, dan memudarnya teknik bangunan tradisional.

Menurut Veldesen, kedua negara memiliki potensi yang signifikan untuk menjalin kerja sama dalam bidang perlindungan warisan budaya.

Dia berharap semakin banyak arsitek muda, peneliti, dan mahasiswa dari kedua negara akan memiliki kesempatan untuk bertukar gagasan dan saling belajar dari pengalaman satu sama lain. Dia juga melihat potensi kerja sama yang besar di bidang teknologi digital, termasuk pemindaian 3D, kecerdasan buatan (AI), serta dokumentasi digital warisan budaya.

Hal yang tak kalah penting, ujarnya, adalah partisipasi masyarakat.

“Melindungi bangunan kuno saja tidak cukup. Masyarakat setempat harus tetap menjadi bagian dalam proses tersebut, agar warisan budaya terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujar Veldesen.

Selama kunjungannya, Veldesen terus mendokumentasikan arsitektur kuno Shanxi melalui sketsa. Dia berharap gambar-gambarnya dapat membantu lebih banyak anak muda mengapresiasi keindahan dan makna budaya dari bangunan-bangunan tradisional.

“Ketika Anda menggambar setiap detailnya dengan cermat, Anda mulai memahami kearifan para perajin kuno beserta kisah di balik arsitektur tersebut,” paparnya.

Ke depannya, Veldesen berharap dapat menjadi jembatan antara China dan Indonesia, untuk mendorong pertukaran di bidang pelestarian warisan budaya, arsitektur, dan pengembangan budaya.

“Saya meyakini bahwa warisan budaya dapat semakin mendekatkan masyarakat. Melalui kerja sama yang lebih erat dan pembelajaran bersama, China dan Indonesia dapat bahu-membahu melindungi masa lalu sekaligus menginspirasi generasi mendatang,” ujar Veldesen.[]


Penulis : Desty Efriyani


Editor : Nara


Sumber Berita : Xinhua

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Pemprov Lampung Dukung PPDS Anestesiologi Unila, Perkuat Layanan Kegawatdaruratan dan SDM Kesehatan
Pengurus Bundokanduang Minangkabau Provinsi Lampung 2026-2030, Resmi Dikukuhkan
Guncang Industri Sinema Indonesia, Dua Siswi MTs Muhammadiyah Bintangi Film ‘Ageman’
Suling Jembatani Pertukaran Budaya Tiongkok-Indonesia
BERITA FOTO: GAK, Gubernur Lampung Putuskan KBM Daring
6 Bandara Masih Ditutup Imbas Abu Vulkanik GAK
SMA YP Unila Gelar Smanila Run, Meriahkan Youth Project IX dengan Ribuan Peserta
Dampak Abu Vulkanik GAK, 3 Bandara Ditutup Sementara Hingga Pukul 13.30 Wib

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 20:45 WIB

Pemprov Lampung Dukung PPDS Anestesiologi Unila, Perkuat Layanan Kegawatdaruratan dan SDM Kesehatan

Minggu, 6 September 2026 - 20:42 WIB

Pengurus Bundokanduang Minangkabau Provinsi Lampung 2026-2030, Resmi Dikukuhkan

Minggu, 6 September 2026 - 20:39 WIB

Guncang Industri Sinema Indonesia, Dua Siswi MTs Muhammadiyah Bintangi Film ‘Ageman’

Minggu, 6 September 2026 - 19:00 WIB

Suling Jembatani Pertukaran Budaya Tiongkok-Indonesia

Minggu, 6 September 2026 - 18:08 WIB

BERITA FOTO: GAK, Gubernur Lampung Putuskan KBM Daring

Berita Terbaru

Seorang staf dari Tiongkok sedang membimbing warga Indonesia memainkan replika Suling Tulang Jiahu, di Jakarta. (Xinhua)

#indonesiaswasembada

Suling Jembatani Pertukaran Budaya Tiongkok-Indonesia

Minggu, 6 Sep 2026 - 19:00 WIB

#indonesiaswasembada

BERITA FOTO: GAK, Gubernur Lampung Putuskan KBM Daring

Minggu, 6 Sep 2026 - 18:08 WIB