M. Syukur: Keluhan Presiden Soal Hilangnya Budaya Santun Menjadi Kritikan Bersama

Kamis, 17 Agustus 2023 | 20:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan : Heri Suroyo

JAKARTA – Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD, Rabu (16/8/2023) mengundang banyak atensi masyarakat. Di hadapan para anggota MPR dan tamu undangan Jokowi sempat menyinggung soal semakin pudarnya budaya santun dan budaya budi pekerti luhur bangsa seiring maraknya serangan fitnah dan kedengkian kepada dirinya.

Jokowi menyinggung kata bodoh, plonga-plongo, fir’aun, tolol yang menurutnya jauh dari kesantunan.
Keberadaan media sosial selain punya peran untuk mengetahui permasalahan rakyat di pinggiran, namun juga berisi soal ejekan, makian dan fitnah.

Menanggapi penyampaian Pidato Presiden Jokowi yang mengeluhkan memudarnya rasa kesantunan dan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketua Kelompok DPD di MPR M. Syukur menilai apa yang disampaikan oleh Jokowi sebenarnya memberikan pesan atas fenomena perilaku elit yang akhir-akhir ini tidak mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia.

“Saya kira ini merupakan kritik bagi kita semua sebagai elit politik, kelompok intelektual, akademisi, tokoh publik yang menjadi teladan masyarakat untuk selalu menjaga etika dan kesantunan dalam menyampaikan pendapat meskipun itu berbeda’, kata Syukur

Baca Juga:  Indonesia dan Makau Bidik Kerja Sama

Menurut Syukur elit politik harus mencontoh para pendiri bangsa ini, meskipun mereka berbeda pendapat ataupun pandangan soal pilihan politik namun mereka masih bisa saling menghargai dan menghormati.

“Kita bisa mengambil keteladanan dari Pak Natsir Ketua Partai Masyumi dengan Pak Kasimo pendiri Partai Katolik meskipun mereka berlawanan secara politik tetapi mereka masih bisa menjaga silaturrahmi. Ini adalah contoh yang baik yang bisa ditiru oleh kita dan masyarakat dibawah”, ungkap Syukur

Syukur yang juga anggota DPD RI dari Propinsi Jambi menambahkan adanya ketiadaan etika dan kesantunan dalam berekspresi dan berpendapat sangat berbahaya kalau dibiarkan apalagi menjelang kontestasi pemilu, dampaknya bisa mengancam kohesi sosial dan mengoyak-ngoyak persatuan antar anak bangsa. Oleh karena itu, elit politik dan kaum intelektual perlu menjadi contoh keteladanan melalui sikap, perilaku, dan perbuatan sehari-hari.

Baca Juga:  Kapolres Mesuji Laksanakan Jumat Curhat, Serahkan Bantuan Sembako Kepada Ojek Pangkalan Pomela

“Apalagi dengan adanya media sosial baik seperti facebook, IG, Youtub, TikTok bisa di isi dengan pesan dan kampanye poisitif, pendapat atau kritik konstruktif, sehingga media sosial tidak dipenuhi oleh berita-berita bohong, hujatan, dan hinaan dengan menyerang sana sini tanpa beradab”, terang Syukur.

Untuk meneguhkan kembali jati diri bangsa yang mulai terkikis di era digital ini, menurut Syukur perlu ada revitalisasi terhadap nilai-nilai Pancasila agar masyarakat tidak salah arah dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan melihat data survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) (1/6/2022), yang menyebutkan hanya 64, 4 persen masyarakat yang hafal isi Pancasila ini menunjukan bahwa tingkat pemahaman dan ingatan masyarakat akan ajaran-ajaran Pancasila dalam lima sila masih perlu ditingkatkan dan dikuatkan lagi.

“Ini menjadi pekerjaan kita bersama terutama elit politik untuk terus melakukan sosialisasi dan internalisasi di masyarakat untuk mengenalkan isi ajaran Pancasila agar bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari”, tutup Syukur.(*)

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Wagub Jihan Dorong Ruang dan Akses Setara bagi Anak Penyandang Disabilitas
Pemprov Lampung Matangkan Persiapan PORNAS KORPRI XVIII 2027, Target Sukses Prestasi hingga Dampak Ekonomi
Putin-Salman Sepakat Diplomasi Jalan Keluar dari Krisis Timur Tengah
Sinergi dan Kolaborasi GTRA Mesuji, Perkuat Komitmen Reforma Agraria
Jasad ABK Arupadhatu 1 Terindentifikasi, PFI Minta Pencarian Dibuka Lagi
Gubernur Lampung Dorong Unila Jadi Motor Hilirisasi
Kemdiktisaintek Kaji Biaya Pendidikan Gratis Hingga Perguruan Tinggi
BMKG Prediksi awal Musim Hujan Bulan November Lebih Lambat

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 09:46 WIB

Wagub Jihan Dorong Ruang dan Akses Setara bagi Anak Penyandang Disabilitas

Kamis, 24 September 2026 - 09:44 WIB

Pemprov Lampung Matangkan Persiapan PORNAS KORPRI XVIII 2027, Target Sukses Prestasi hingga Dampak Ekonomi

Rabu, 23 September 2026 - 21:39 WIB

Putin-Salman Sepakat Diplomasi Jalan Keluar dari Krisis Timur Tengah

Rabu, 23 September 2026 - 18:22 WIB

Sinergi dan Kolaborasi GTRA Mesuji, Perkuat Komitmen Reforma Agraria

Rabu, 23 September 2026 - 16:14 WIB

Jasad ABK Arupadhatu 1 Terindentifikasi, PFI Minta Pencarian Dibuka Lagi

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Wagub Jihan Dorong Ruang dan Akses Setara bagi Anak Penyandang Disabilitas

Kamis, 24 Sep 2026 - 09:46 WIB

#indonesiaswasembada

Sinergi dan Kolaborasi GTRA Mesuji, Perkuat Komitmen Reforma Agraria

Rabu, 23 Sep 2026 - 18:22 WIB

#indonesiaswasembada

Jasad ABK Arupadhatu 1 Terindentifikasi, PFI Minta Pencarian Dibuka Lagi

Rabu, 23 Sep 2026 - 16:14 WIB