Luncurkan Buku “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung”, Bamsoet Apresiasi Gaya Kepemimpinan Presiden Prabowo

Rabu, 18 Februari 2026 | 13:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, meluncurkan buku berjudul “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung” dalam diskusi publik yang digelar di Parle Resto, Senayan Park, Jakarta. Buku karya jurnalis senior Joseph Osdar ini menghadirkan gambaran tentang praktik politik yang bekerja dalam senyap, tanpa panggung, tanpa sensasi, dan tanpa kebutuhan untuk mempertontonkan konflik.

“Buku ini merekam bagaimana politik sesungguhnya bekerja. Tidak selalu di depan kamera, tidak selalu di panggung besar, dan tidak selalu melalui pernyataan keras atau populis. Politik akal sehat justru sering hadir dalam ruang-ruang sunyi, dalam keputusan-keputusan yang tidak populer tetapi penting bagi bangsa,” ujar Bamsoet saat diskusi publik dan peluncuran buku “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung.”

Peluncuran buku ini dihadiri sejumlah tokoh antara lain Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, Menkomdigi RI Meutia Hafid, Dubes RI untuk Italia Junimart Girsang, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus Aris Marsudiyanto, Anggota Komisi III DPR RI F-PKS Habib Aboe Bakar Alhabsy, Mantan Ketua MK Prof. Jimly Asshiddiqie, Mantan Dubes Indonesia untuk Singapura Suryopratomo, Komut Pertamina Iwan Bule, Direktur Pertamina Simon Aloisius Mantiri, Pengusaha Jerry Hermawan Lo, Ketum FKPPI Pontjo Sutowo, Mantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutarman, Mantan Ketua DPR Setya Novanto, Wakil Ketua Dewan Pembina KADIN Indonesia Didik J. Rachbini, Tokoh PAN Soetrisno Bahir, Rocky Gerung, Akbar Faisal serta Pakar Politik Effendi Gazali.

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, salah satu pesan utama buku ini adalah pentingnya kedewasaan dalam mengelola perbedaan. Dalam demokrasi, perbedaan pandangan dan kepentingan merupakan keniscayaan. Namun, kualitas demokrasi ditentukan oleh cara para elite mengelola perbedaan itu.

Baca Juga:  Gelaran Budaya, 35 Tahun Hubungan Tiongkok-Brunei

“Kita lihat kemampuan Presiden Prabowo merangkul, menjembatani untuk mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada demi kepentinhan bangsa. Siapa yang tidak kenal misalnya Tom Lembong dan Hasto, yang berseberangan ketika Pilpres. Tetapi tiba-tiba kita dihentakkan oleh suatu keputusan, Tom Lembong dikasih abolisi, Hasto dikasih amnesti. Itulah yang ingin kita gambarkan,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Wakil Ketua Umum FKPPI/Kepala Badan Bela Negara dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini berharap peluncuran buku ini dapat memperkaya diskursus publik mengenai praktik politik yang sehat, rasional, dan berorientasi pada kepentingan bangsa, sekaligus menjadi penanda bahwa demokrasi Indonesia memiliki alternatif narasi selain politik panggung dan kegaduhan.

“Karena pada hakekatnya Pemimpin itu merangkul, bukan memukul. Menyayangi, bukan menyaingi. Mendidik, bukan membidik. Membina, bukan menghina. Mencari solusi, bukan mencari simpati. Serta membela, bukan mencela,” tegas Bamsoet.

Dalam buku ini, sang penulis Joseph Osdar menjadikan Bamsoet sebagai narasumber utama. Osdar menempatkan Prabowo dan Bamsoet sebagai contoh praktik politik rasional di tengah budaya politik yang sering kali emosional dan reaktif. Politik akal sehat, sebagaimana digambarkan dalam buku, adalah politik yang memahami kapan harus berbicara dan kapan harus bekerja. Termasuk memahami bahwa perbedaan pandangan dan kepentingan dalam demokrasi merupakan keniscayaan.

“Demokrasi tidak akan rusak karena perbedaan, tetapi Ia bisa rusak karena ketidakmampuan mengelola perbedaan. Politik tanpa panggung adalah politik yang tidak sibuk memperlebar jarak, tetapi berupaya menjembatani kepentingan demi stabilitas nasional agar investasi tumbuh, dunia usaha berkembang,” tegas Osdar.

Baca Juga:  Mudahkan Pencarian Korban, Pemilik KM Virgo Transport 8 Diminta Angkat Bangkai Kapal

Buku ini juga menyoroti bagaimana relasi politik yang dibangun atas dasar saling menghormati peran kelembagaan mampu menciptakan stabilitas politik jangka panjang. Menurut Osdar, hubungan politik yang sehat tidak harus selalu diekspresikan melalui koalisi formal atau pernyataan publik yang demonstratif.

“Terpenting dalam politik adalah kejelasan tujuan dan komitmen kebangsaan. Ketika tujuan nasional menjadi titik temu, maka ego personal dan kepentingan jangka pendek harus dikesampingkan,” jelas Osdar.

Hal senada diungkapkan pengamat politik Rocky Gerung. Ia menegaskan bahwa politik tidak boleh semata-mata diukur dari elektabilitas, melainkan harus berangkat dari etika dan moralitas. Ia menilai, dalam diri Prabowo Subianto terdapat sense of keperwiraan yang tercermin dalam sikap dan keputusan politiknya, termasuk saat menghadapi momentum krusial pada Pemilihan Presiden Indonesia 2019.

“Waktu itu Pak Prabowo minta masukan apa yang perlu disampaikan di debat. Saya sarankan beliau membawa buku The Great Disruption karya Francis Fukuyama dan menanyakan kepada Pak Joko Widodo bagian mana yang menarik. Itu untuk menguji kedalaman literasi kepemimpinan,” ujar Rocky.

Rocky menilai strategi tersebut secara politik berpotensi memberi keuntungan elektoral besar. Namun ia melihat Prabowo memilih jalan berbeda dengan tidak menggunakan pendekatan yang bisa mempermalukan lawan di atas panggung debat.

“Beliau menolak karena tidak ingin menghina Presiden Jokowi di panggung. Di situ saya melihat ada etika dan moralitas yang didahulukan. Politik bagi beliau bukan sekadar soal menang, tetapi juga menjaga martabat,” papar Rocky. (*)

Laporan : Heri Suroyo


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Desty


Sumber Berita : DPR RI

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Mentrans RI Jajaki Kerja Sama di Chongqing, Tiongkok
Presiden Mesir Dukung Keamanan Arab Saudi
Permata Gelar Istighosah Di Kasui
Pemukim Israel Serang Diplomat Eropa di Tepi Barat
IRGC Iran: Supertanker Kedua Meledak Usai Hantam Ranjau Laut
Jakarta Game On 2026 Dorong Eekosistem Game dan Ekonomi Kreatif
Kapolres Mesuji Gelar Subuh Keliling Serap Aspirasi Masyarakat
APINDO Diharap Perkuat Ekosistem Usaha dan Pemberdayaan UMKM
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:38 WIB

Mentrans RI Jajaki Kerja Sama di Chongqing, Tiongkok

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:32 WIB

Presiden Mesir Dukung Keamanan Arab Saudi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:04 WIB

Permata Gelar Istighosah Di Kasui

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:28 WIB

Pemukim Israel Serang Diplomat Eropa di Tepi Barat

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:22 WIB

IRGC Iran: Supertanker Kedua Meledak Usai Hantam Ranjau Laut

Berita Terbaru

Foto yang diabadikan pada 14 Oktober 2026 ini menunjukkan Menteri Transmigrasi Republik Indonesia Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mempelajari pertanian cerdas dalam kunjungannya di Chongqing, Tiongkok barat daya. (Xinhua)

Berita Utama

Mentrans RI Jajaki Kerja Sama di Chongqing, Tiongkok

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:38 WIB

Foto yang bersumber dari Pusat Media Houthi ini memperlihatkan peluncuran rudal yang diduga mengarah ke Mocha di Yaman, pada 9 Agustus 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Presiden Mesir Dukung Keamanan Arab Saudi

Minggu, 18 Okt 2026 - 14:32 WIB

Berita Utama

Permata Gelar Istighosah Di Kasui

Minggu, 18 Okt 2026 - 14:04 WIB

Para petani Palestina terlihat di sebuah pos pemeriksaan militer Israel setelah pasukan tersebut mencegah mereka memanen zaitun di lahan mereka, di Desa Salem, sebelah timur Nablus, di Tepi Barat, pada 17 Oktober 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Pemukim Israel Serang Diplomat Eropa di Tepi Barat

Minggu, 18 Okt 2026 - 11:28 WIB

Foto yang diabadikan menggunakan ponsel ini memperlihatkan kapal-kapal niaga yang terdampar di perairan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara, pada 29 Mei 2026. (Xinhua)

Berita Utama

IRGC Iran: Supertanker Kedua Meledak Usai Hantam Ranjau Laut

Minggu, 18 Okt 2026 - 08:22 WIB