Kopi Keliling di Lampung Fest Warnai Dinamika Ekonomi Rakyat

Senin, 24 November 2025 | 15:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lampung Fest 2025 yang mengusung tema “Coffee and Tourism” menampilkan ragam kopi premium lewat lomba manual brew, coffee pairing competition, hingga kopi tubruk kreasi. Namun di luar Paviliun Kopi, delapan pedagang kopi keliling justru mencuri perhatian dengan penjualan yang tak kalah tinggi, mencapai ratusan cangkir per hari selama festival.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kopi di Lampung bukan hanya komoditas ekspor berkelas, tetapi juga bagian dari ekonomi rakyat yang hidup dan digerakkan dari pinggir jalan.

Penjualan Capai 50–100 Cangkir Per Hari

Dengan harga Rp 8.000–12.000 per cangkir, para pedagang keliling menjadi pilihan banyak pengunjung yang membutuhkan kopi cepat dan terjangkau.

Adi (28), pedagang asal Bandar Lampung, mengaku penjualannya melonjak selama festival.

“Di hari biasa selama festival, bisa 50–70 cup. Tapi pas Sabtu dan Minggu, bisa sampai 100 cup, bahkan emoat 150 cup. Dari sore sampai malam nggak berhenti,” ujarnya, Kamis (23/11/2025).

Yusuf (32), pedagang dari Metro, mengatakan kopi keliling menyasar segmen berbeda dari booth premium.

“Kami nggak bersaing sama kafe atau barista. Kami jual kopi cepat, murah, dan cukup buat orang yang butuh minum langsung. Hasil dari sini lumayan buat kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Baca Juga:  Wagub Lampung Sambut Kunjungan Wamenko Kumham Imipas, Dorong Penguatan Sinergi dalam bidang Hukum

Baik Adi dan Yusuf mengaku Lampung Fest menjadi momentum bagus bagi pedagang seperti mereka.

“Di festval ini kami tidak perlu keliling, orang yang datang. Ada ribuan pengunjung setiap hari, itu sangat terasa untuk kami,” ujar Yusuf.

Jika dihitung, delapan pedagang keliling yang beroperasi di sekitar area festival bisa menjual ratusan higga seribuan cangkir per hari secara total, menunjukkan tingginya permintaan kopi di level street vendor.

Diminati Pengunjung karena Murah dan Aksesibel

Beberapa pengunjung mengaku memilih kopi keliling karena kepraktisan.

“Jujur, saya bukan pecinta kopi serius. Beli saja, yang penting cepat dan murah. Kalau sedang kelelahan berjalan begini, es kopi susu Rp 10.000 ya sudah cukup,” ujar Nanda (22), pengunjung asal Sukarame.

Pendapat berbeda disampaikan Rusdy (45), pengunjung asal Bukit Kemiling Permai. Menurutnya, pedagang keliling tetap memiliki tempat selama mereka menjaga kebersihan dan konsistensi rasa.

“Tidak harus seenak kopi di kafe-kafe. Buat saya yang penting bersih, harganya masuk akal, dan tidak terlalu manis. Ada dua pedagang di sini yang rasanya lumayan,” katanya.

Rusdy menilai, kontras antara booth kopi premium dan kopi keliling memperlihatkan rentang pelaku dalam ekosistem kopi Lampung, dari industri kreatif hingga pelaku mikro di jalanan.

Baca Juga:  Hadiri HUT Ke-64 PWRI, Wagub Jihan Ajak Purna Tug Terus Berkontribusi untuk Lampung

“Keduanya mencerminkan wajah kopi Lampung yang berlapis dan dinamis,” ujarnya.

Bagian dari Ekosistem Festival

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Bobby Irawan, menilai keberadaan kopi keliling justru memperkaya ekosistem festival.

Menurutnya, keberagaman pelaku, dari barista profesional hingga pedagang mikro, menunjukkan bahwa budaya kopi Lampung hidup di semua lapisan masyarakat.

“Festival ini punya banyak lapisan pengunjung. Ada yang datang untuk mencicip kopi premium, ada yang hanya ingin menikmati suasana sambil minum kopi sederhana. Pedagang keliling mengisi kebutuhan itu,” ujarnya.

Ia menegaskan, dalam kegiatan berskala besar seperti Lampung Fest, keragaman pelaku ekonomi kreatif adalah hal yang tidak bisa dihindari dan justru berkontribusi pada perputaran ekonomi masyarakat.

“Festival seperti ini kami rancang sebagai ruang besar. Di sini pelaku bisa bertemu, belajar, dan melihat peluang. Soal peningkatan teknik atau kualitas, itu bagian yang bisa didorong oleh komunitas dan industrinya,” katanya.


Penulis : Desty


Editor : Hadi


Sumber Berita : Pemprov Lampung

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Polres Mesuji Bantu Air Bersih untuk Warga Desa Labuhan Permai
19 Tahun Warga Menanti, Bupati Egi Pastikan Akses Baru Ranji Diperbaiki Tahun Ini
Yaman Kian tak Aman, Milisi Houthi Terus Menggempur
Tantangan Ponpes Kian Berat, Berhadapan dengan Tekhnologi dan AI
Rahasia PBB Bocor, Ada Mata-mata Israel di UNICEF
Iran Siap Nego Damai, Kalau AS Gak Dustai MOU
Bahaya, Wabah Flu Burung Naik Lagi
Rial Kalbadi Pimpin Langit Biru Indonesia ASRI Way Kanan 

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 23:25 WIB

Polres Mesuji Bantu Air Bersih untuk Warga Desa Labuhan Permai

Minggu, 9 Agustus 2026 - 22:26 WIB

19 Tahun Warga Menanti, Bupati Egi Pastikan Akses Baru Ranji Diperbaiki Tahun Ini

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Yaman Kian tak Aman, Milisi Houthi Terus Menggempur

Minggu, 9 Agustus 2026 - 10:14 WIB

Tantangan Ponpes Kian Berat, Berhadapan dengan Tekhnologi dan AI

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:48 WIB

Rahasia PBB Bocor, Ada Mata-mata Israel di UNICEF

Berita Terbaru

Bagi-bagi Air di Musim Kemarau [Nr]

#indonesiaswasembada

Polres Mesuji Bantu Air Bersih untuk Warga Desa Labuhan Permai

Minggu, 9 Agu 2026 - 23:25 WIB

Pasukan Houthi di Yaman

#indonesiaswasembada

Yaman Kian tak Aman, Milisi Houthi Terus Menggempur

Minggu, 9 Agu 2026 - 17:22 WIB

Sekdaprov Dr Marindo Kurniawan Saat Membaca Sambutan Gubernur Lampung di FKPP di Lampung Selatan [Lin]

#indonesiaswasembada

Tantangan Ponpes Kian Berat, Berhadapan dengan Tekhnologi dan AI

Minggu, 9 Agu 2026 - 10:14 WIB

Ilustrasi Berita Mata-Mata

#indonesiaswasembada

Rahasia PBB Bocor, Ada Mata-mata Israel di UNICEF

Minggu, 9 Agu 2026 - 09:48 WIB