Kelapa Diburu, dari Bogor Hingga Tiongkok

Jumat, 23 Oktober 2026 | 14:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA-Setiap siang saat cuaca terik, Asep (57), seorang pensiunan asal Bogor, Jawa Barat, rutin meminum air kelapa muda. Baginya, kebiasaan itu adalah cara menjaga kesehatan sekaligus menikmati masa pensiun. Bagaimana dengan kelapa Lampung?

“Rasanya beda aja, lebih alami dan seger di badan. Udah gitu, kan, sehat, nggak pake pemanis buatan,” tutur Asep kepada Xinhua di Bogor pada Sabtu (17/10).

Dia lebih menyukai air kelapa murni tanpa tambahan gula, sesekali dengan sedikit perasan jeruk nipis. Menurut Asep, kelapa jauh lebih baik ketimbang minuman manis kekinian.

“Kalau minum soda atau es boba gitu, kan, manisnya kebangetan dan bikin tenggorokan gatal. Kelapa mah bikin badan langsung adem dan enteng,” ujarnya.

Kebiasaan sederhana seperti itu hanyalah satu sisi dari kelapa. Buah yang dahulu dikenal sebatas pelengkap hidangan dan penyegar dahaga ini kini menopang usaha kecil di dalam negeri sekaligus diburu pasar dunia.

“Orang sekarang minum kopi nggak pakai susu lagi, sudah pakai kelapa, santan,” kata Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, saat membuka peringatan Hari Kelapa Sedunia (World Coconut Day) 2026 di Manado, Sulawesi Utara, pada 8 Oktober.

Menurut dia, tren itu terjadi di Tiongkok, India, dan tempat lainnya sehingga kelapa menjadi rebutan. Dia juga menyebut kelapa akan menjadi salah satu komoditas utama yang dikembangkan pemerintah, mulai dari pembibitan hingga industri pengolahannya.

Segar Tapi Bukan Obat Ajaib

Ahli gizi lepas di Jakarta, Milda Hasna (25), membenarkan bahwa kelapa kaya manfaat.

“Buah kelapa sebagai pangan alami memang memiliki kandungan gizi yang bermanfaat untuk kesehatan, seperti kandungan elektrolit yang terdapat di dalam air kelapa,” ungkapnya.

Namun, Milda mengingatkan bahwa label superfood yang kerap dilekatkan pada kelapa sebetulnya tidak memiliki definisi baku dalam ilmu gizi. “Karena dalam ilmu gizi tidak ada satu makanan yang bisa memenuhi semua kebutuhan gizi,” jelasnya.

Label tersebut juga memunculkan berbagai mitos, salah satunya keyakinan bahwa air kelapa hijau adalah penawar racun instan.

“Saat ini belum ada bukti penelitian ilmiah yang menunjukkan efektivitas air kelapa hijau sebagai penetral racun dan mempercepat pembersihan obat di dalam darah,” papar alumnus Universitas Negeri Semarang (UNNES) itu.

Menurut Milda, air kelapa hijau murni berfungsi untuk hidrasi, bukan untuk menetralkan racun. Dia juga menilai klaim bahwa mengonsumsi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) setiap pagi dapat membakar lemak perut secara instan sebagai informasi keliru tanpa bukti klinis.

Sebaliknya, daging buah kelapa dan santan perlu dikonsumsi secara bijak karena padat kalori.

“Berdasarkan Data Komposisi Pangan Indonesia, 100 gram daging kelapa tua mengandung energi sekitar 359 kalori dan 34,7 gram lemak, sedangkan 100 gram santan murni mengandung sekitar 324 kalori dan 34,3 gram lemak,” jelasnya kepada Xinhua melalui WhatsApp pada Minggu (18/10).

Baca Juga:  Pelantikan Pejabat; 'Abah' Lukman Kembali Benahi RSUAM

Milda menambahkan, konsumsi berlebih dapat membuat asupan energi melampaui kebutuhan harian dan meningkatkan risiko kenaikan berat badan. Tingginya asam lemak jenuh pada santan dan minyak kelapa juga dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam pedoman yang diperbarui pada Juli 2023, merekomendasikan agar asam lemak jenuh tidak mencakup lebih dari 10 persen total asupan energi.

Rezeki Lapak Kelapa

Minat masyarakat terhadap kelapa juga menghidupkan usaha kecil. Ini dirasakan langsung oleh seorang pedagang bernama Wati (50) yang sudah empat tahun berjualan kelapa di lapak kecilnya di Bogor.

Untuk menjaga pasokan, dia rutin mendatangkan ratusan butir kelapa dari penyuplai di Cisarua dan Rangkasbitung. Pada hari kerja, lapaknya menjual 40 hingga 50 butir dengan harga Rp15.000 per butir, dan omzet sekitar Rp600.000 hingga Rp750.000 per hari.

“Nah, kalau akhir pekan, Sabtu dan Minggu, bisa naik sampai 80 butir, omzetnya bisa tembus Rp1,2 jutaan per hari,” ujar Wati saat ditemui Xinhua di lapaknya pada Minggu.

Es kelapa yang diracik dengan gula dan es batu menjadi penyumbang omzet terbesar. Meski begitu, permintaan kelapa utuh murni tetap datang dari para lansia, ibu hamil, dan pelanggan yang sedang memulihkan diri dari demam.

Diburu Dunia

Di tingkat global, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa terbesar. Menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), produksi kelapa Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 17,99 juta ton, di atas India dan Filipina.

Permintaan luar negeri sempat melonjak pada 2025, terutama untuk kelapa bulat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kelapa bulat Indonesia pada Januari-Oktober 2025 mencapai 208,2 juta dolar AS, naik 143,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tiongkok menjadi tujuan utama dengan nilai 171,3 juta dolar AS, atau lebih dari 80 persen dari total ekspor kelapa bulat Indonesia pada periode tersebut. Data Bea Cukai kota Haikou yang dikutip Xinhua-lintaslampung menunjukkan bahwa sepanjang 2025, pelabuhan-pelabuhan di Provinsi Hainan, Tiongkok, mengimpor 516.000 ton kelapa dari Indonesia. Angka itu naik 34,3 persen dan mencakup 87,2 persen dari total impor kelapa melalui Hainan.

Rute pelayaran langsung dari Pontianak dan Palembang ke Pelabuhan Yangpu di Hainan juga telah beroperasi. Tiongkok pun membuka akses karantina bagi kelapa segar asal Indonesia untuk dikonsumsi langsung sejak November 2024, dan kiriman perdananya tiba di Fuzhou, Provinsi Fujian, pada April 2025.

Baca Juga:  Pemprov Lampung Dorong Inovasi Kampus dan Penguatan UMKM

Tingginya harga di pasar ekspor ketika itu turut mengerek harga kelapa di dalam negeri. Menteri Perdagangan Budi Santoso pada akhir November 2025 menilai kondisi itu menguntungkan petani.

“Selama ini, perasaan baru kali ini harga kelapa itu bagus. Artinya petani baru menikmatinya sekarang,” ujarnya kala itu.

Mengejar Nilai Tambah

Meski ekspor kelapa bulat melonjak pada 2025, nilai terbesar justru datang dari produk olahan. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor kelapa dan produk turunannya pada Januari-Oktober 2025 mencapai 2,48 miliar dolar AS, dan sekitar 81 persen di antaranya berasal dari produk turunan.

Minyak kelapa menjadi penyumbang terbesar dengan nilai sekitar 1,06 miliar dolar AS, disusul minuman kelapa senilai 347,29 juta dolar AS dan kelapa parut kering senilai 260,05 juta dolar AS. Sabut dan tempurungnya pun dapat diolah menjadi serat sabut, arang, dan karbon aktif.

Namun, sektor hulunya masih tertinggal. Agus Rosyid, pengawas mutu hasil pertanian di Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dalam sebuah webinar pada Juli lalu menyebut produktivitas kebun kelapa nasional baru sekitar 1,1 ton per hektare per tahun, jauh di bawah potensinya yang mencapai 3,5 hingga 5 ton.

Sekitar 98 persen dari 3,2 juta hektare kebun kelapa nasional merupakan perkebunan rakyat. Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan kawasan hilirisasi kelapa seluas 151.554 hektare pada 2026, dengan bantuan berupa benih, pupuk organik, serta biaya persiapan lahan dan penanaman.

Di Manado, Zulhas menyebut varietas kelapa butuh waktu enam hingga tujuh tahun untuk berbuah sehingga Indonesia perlu varietas baru yang bisa berbuah dalam tiga tahun.

“Kita harus bergerak cepat agar Indonesia bukan hanya menjadi penghasil kelapa,” ujarnya. Menurut dia, Indonesia juga harus menjadi pemain utama dalam industri kelapa dunia.

Sementara pemerintah mengejar hilirisasi, bagi Wati di Bogor, kelapa bukanlah tren sesaat. Menurutnya, komoditas ini tidak pernah lekang oleh waktu dan selalu memiliki segmen pasarnya sendiri, mulai dari pelepas dahaga, bahan baku masakan, hingga ramuan tradisional.

Lampung memiliki potensi kelapa dan pisang yang cukup besar. Setiap hari, kelapa dan pisang yang berasal dari Lampunng capai ribuan butir memasuki Jakarta. Selain memasok Jakarta, kelapa berasal dari Sai Bumi Ruwa JuraiĀ  juga masuk sebagian ke pasar Jawa Barat dan sekitar. Bagaimana dengan hilirasi Kelapa versi Lampung? Yang pasti, pengusaha asal Lampung sudah melirik bisnis ini dengan membuka ribuan hektar tanaman kelapa di Lampung Selatan. Bagaimana dengan kebijakan Pemprov Lampung terhadap hilirisasi kelapa dan pisang?[]


Penulis : Ferdiyanto & Romy Agus


Editor : Nara J.Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Bebas Visa Tiongkok, Kemenpar Genjot Promosi Wisata Indonesia
16 Tewas dan 54 Luka, Gempa Bermagnitudo 7,0 di Xizang
APBD 2027 Instrumen Pembangunan, Lampung Fokus pada Produktivitas dan Kesejahteraan
Tugas Perguruan Tinggi Perkuat Ekonomi Daerah
Lampung Perkuat Dukungan bagi Santri dan Pesantren
Rusia Siap Berunding dengan AS dan Ukraina
Mesir Siap Bela Arab Saudi, Bukan Serang Yaman
Dua Tahun Prabowo, Andre Rosiade Minta Kritik Pemerintah Dilihat Secara Objektif

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Bebas Visa Tiongkok, Kemenpar Genjot Promosi Wisata Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:55 WIB

16 Tewas dan 54 Luka, Gempa Bermagnitudo 7,0 di Xizang

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:32 WIB

Kelapa Diburu, dari Bogor Hingga Tiongkok

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:32 WIB

APBD 2027 Instrumen Pembangunan, Lampung Fokus pada Produktivitas dan Kesejahteraan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Tugas Perguruan Tinggi Perkuat Ekonomi Daerah

Berita Terbaru


Foto yang diabadikan pada 25 Mei 2026 ini memperlihatkan penampilan tarian tradisional Bali dalam acara Sales Mission yang digelar oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia di Guangzhou, Tiongkok selatan. (Xinhua)

Berita Utama

Bebas Visa Tiongkok, Kemenpar Genjot Promosi Wisata Indonesia

Jumat, 23 Okt 2026 - 15:00 WIB


Tenda-tenda sedang didirikan untuk warga yang terdampak gempa di sebuah sekolah dasar di wilayah Baqen di Kota Nagqu, Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya, pada 23 Oktober 2026. (Xinhua)

Bencana

16 Tewas dan 54 Luka, Gempa Bermagnitudo 7,0 di Xizang

Jumat, 23 Okt 2026 - 14:55 WIB

Berita Utama

Kelapa Diburu, dari Bogor Hingga Tiongkok

Jumat, 23 Okt 2026 - 14:32 WIB

Bandar Lampung

Tugas Perguruan Tinggi Perkuat Ekonomi Daerah

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:29 WIB