BEIJING-Pada hari musim gugur yang sejuk di Beijing, langit biru cerah kala itu membentang di atas ibu kota China tersebut seiring berkumpulnya para pemimpin dunia untuk menghadiri Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC Economic Leaders’ Meeting) 2014.
Langit biru cerah di atas Beijing tersebut kemudian dikenal sebagai “biru APEC,” meski beberapa pihak memandang fenomena tersebut sebagai momen sesaat yang terlihat pada periode perhelatan konferensi tingkat tinggi (KTT) itu saja.
Dalam jamuan penyambutan, Presiden China Xi Jinping secara langsung menepis keraguan tersebut, seraya menyampaikan harapan dan tekadnya bahwa “dengan upaya yang persisten, ‘biru APEC’ akan terus bertahan.” Lebih dari sepuluh tahun berlalu, janji yang diikrarkan Xi tersebut terwujud melalui tindakan konkret.
Hasilnya terlihat nyata di udara. Antara 2013 dan 2025, rata-rata konsentrasi PM2,5 di Beijing turun sebesar 69,8 persen. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Lingkungan Hidup (UNEP) memuji pencapaian kota tersebut dalam memperbaiki kualitas udara sebagai “Keajaiban Beijing.”
Kisah “biru APEC” mencerminkan nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat China: janji harus ditepati melalui tindakan. Filosofi ini juga memandu upaya China dalam menjalin hubungan yang lebih kuat dengan dunia. “Dia yang memiliki kredibilitas akan menghubungkan dunia,” kata Xi suatu ketika, mengutip dari “Guanzi”, sebuah koleksi tulisan China kuno, untuk menggarisbawahi pentingnya menyelaraskan ucapan dan perbuatan.
Setiap musim gugur, cahaya dari National Exhibition and Convention Center di Shanghai menerangi sebuah pertemuan global, tempat produk, teknologi, dan gagasan memusat di kota metropolis yang dinamis tersebut.
Dalam Pameran Impor Internasional China (China International Import Expo/CIIE) pertama pada 2018, Xi menyampaikan janji yang jelas: “CIIE, yang akan diselenggarakan setiap tahun, akan menampilkan kinerja yang baik, hasil yang bermanfaat, dan kesuksesan yang berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang.”
Delapan tahun berselang, CIIE telah berkembang menjadi platform global utama untuk bidang perdagangan, investasi, dan pertukaran budaya, yang menghubungkan bisnis, inovator, dan konsumen dari seluruh dunia.
Pameran yang merupakan ekshibisi tingkat nasional bertema impor pertama di dunia tersebut menjadi cerminan nyata atas komitmen Xi terhadap keterbukaan tingkat tinggi China. Selain CIIE, komitmen tersebut telah diwujudkan lewat berbagai langkah konkret, mulai dari peluncuran operasi kepabeanan khusus berskala pulau di Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan, hingga perluasan kebijakan bebas visa masuk dan transit.
Di dunia yang tengah menghadapi peningkatan ketidakpastian dan fragmentasi, tindakan-tindakan tersebut menyampaikan pesan yang jelas: China akan terus membuka pintunya lebih lebar bagi dunia. Komitmen Xi untuk menepati janjinya juga tecermin dalam kemitraan jangka panjang yang dibangun atas dasar pembangunan bersama.

Lebih dari setengah abad yang lalu, para engineer China bertolak ke Afrika Timur untuk membantu pembangunan jalur kereta Tanzania-Zambia, sebuah proyek unggulan yang membentang di seluruh kawasan tersebut. Pada Maret 2013, saat berdiri di hadapan makam para pakar China di Dar es Salaam, Tanzania, Xi memberikan penghormatan kepada mereka yang mengorbankan nyawa selama pembangunan jalur kereta tersebut, serta menyerukan kepada kedua negara untuk menghargai persahabatan yang mengakar kuat antara China dan Afrika.
Dua tahun kemudian, dalam pembicaraan dengan presiden Zambia saat itu, Edgar Lungu, Xi menegaskan kembali bahwa China akan bekerja sama dengan Zambia dan Tanzania dalam pengoperasian jalur kereta tersebut guna “mendorong pembangunan dan kesejahteraan kawasan di sepanjang jalur kereta itu.”
Pada September 2024, Xi bersama Presiden Tanzania Samia Suluhu Hassan dan Presiden Zambia Hakainde Hichilema menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Beijing untuk proyek revitalisasi jalur kereta tersebut. Pada November 2025, upacara peletakan batu pertama dilaksanakan di Zambia. Setelah direvitalisasi, jalur kereta itu diharapkan dapat meningkatkan konektivitas regional secara signifikan, dengan kapasitas kargo tahunan meningkat menjadi setidaknya 2,4 juta ton dan waktu pengiriman dipangkas hingga hampir dua pertiganya.
“China membantu kami membangun jalur kereta ini di masa lalu, dan kini membantu kami menjadikannya lebih baik serta lebih modern. China selalu menepati janjinya,” ujar Solomon Mwakasanga (74), seorang warga yang mulai bekerja di layanan kereta tersebut pada 1970 sebagai juru tulis dan telah pensiun pada 2005 sebagai kepala pengawas stasiun senior. Di seluruh Afrika, upaya China mengubah janji menjadi kemajuan, sekaligus mendukung upaya modernisasi benua tersebut.
Mulai dari penerapan penuh kebijakan bebas bea masuk bagi seluruh 53 negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengan China hingga pengembangan proyek-proyek mata pencaharian yang “kecil namun indah”, seperti Sanggar Kerja Luban (Luban Workshop) dan teknologi Juncao, kerja sama China-Afrika kian berfokus pada pewujudan manfaat nyata.
Paul Frimpong, direktur eksekutif Pusat Afrika-China untuk Kebijakan dan Advisori (Africa-China Center for Policy and Advisory), sebuah wadah pemikir yang berbasis di Ghana, menilai “China akan senantiasa menjadi mitra yang paling dapat diandalkan bagi Afrika dalam perjalanan Afrika menuju modernisasi.” Janji yang ditepati di masa krisis memberikan arti yang sangat besar. Saat pandemi COVID-19 melanda dunia, Xi menegaskan tekad kuat China untuk memperkuat kerja sama internasional sebagai negara besar yang bertanggung jawab.
China saat itu menjadi negara pertama yang mengusulkan vaksin COVID-19 sebagai barang publik global dan bekerja sama dengan negara-negara berkembang untuk memproduksi vaksin secara lokal, serta mengerahkan sumber daya untuk membantu menjembatani “kesenjangan kekebalan” global. Komitmen Xi untuk menepati janji juga tercermin dalam upaya berkelanjutan China selama bertahun-tahun untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi semua. Pada September 2020, Xi mengumumkan China akan berupaya mencapai puncak emisi karbon dioksida sebelum 2030 dan mencapai netralitas karbon sebelum 2060.
Selama beberapa tahun terakhir, China mengambil langkah-langkah nyata untuk mewujudkan visi ini menjadi aksi. Negara tersebut membangun sistem energi terbarukan terbesar di dunia dan mengembangkan rantai industri energi bersih paling komprehensif, sembari terus meningkatkan efisiensi energi dan mempercepat transisi hijau global.
Menurut Sekretaris Eksekutif UN Climate Change Simon Stiell, “China memiliki reputasi baik dalam menepati apa yang dijanjikannya.” Kepemimpinan yang ditunjukkan China serta kontribusinya dalam mendorong kemajuan teknologi dan memberikan dukungan kepada negara-negara berkembang di Global South dapat mendorong negara-negara lain untuk meningkatkan upaya mereka, kata Stiell. Sebagaimana dikatakan Xi, “Kami, rakyat China, sangat mementingkan tindakan nyata dalam menepati janji. Kami akan melakukan apa pun demi memenuhi komitmen kami.” []
Penulis : Heri S
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Jakarta

















