Seni Dekatkan Peradaban Mesir dan Tiongkok

Rabu, 2 September 2026 | 22:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah wisatawan menunggang unta di kompleks Piramida Giza, Mesir, pada 9 April 2026. (Xinhua)

Sejumlah wisatawan menunggang unta di kompleks Piramida Giza, Mesir, pada 9 April 2026. (Xinhua)

KAIRO- Mesir dan Tiongkok sama-sama memiliki peradaban kuno, dan para seniman dari kedua negara harus memanfaatkan kekayaan warisan budaya mereka untuk meningkatkan rasa saling pengertian serta mempererat hubungan antarmasyarakat, demikian disampaikan oleh seorang seniman ternama asal Mesir, Ahmed Nawar.

“Seni merupakan jembatan penting yang menghubungkan peradaban Mesir dan Tiongkok,” tutur Ahmed Nawar, profesor di Fakultas Seni Rupa Universitas Helwan, dalam sesi wawancara baru-baru ini dengan Xinhua-lintaslampung.com.

Nawar telah tiga kali mengunjungi Tiongkok. Pada 2013, dia mengikuti tur seni ke Tiongkok dalam program “Silk Road: Artists’ Rendezvous”, sebuah pengalaman yang masih membekas dalam ingatannya.

“Dalam perjalanan itu, saya menghabiskan waktu sekitar tiga pekan untuk membuat sketsa dan mengumpulkan inspirasi artistik di Beijing, Shanghai, Xi’an, dan kota-kota lainnya,” ujarnya.
Nawar sangat terkesan oleh kearifan artistik, kreativitas, dan keterampilan luar biasa yang dituangkan para perajin Tiongkok kuno ke dalam karya-karya arsitektur.

“Pengalaman tersebut memberikan pengaruh yang sangat mendalam terhadap karya seni saya,” kata Nawar.
Pengalaman Nawar di Tiongkok menjadi sumber inspirasi penting dalam penciptaan karya seninya. Dengan menjadikan lanskap, arsitektur kuno, pasar tradisional, dan masyarakat biasa di Tiongkok sebagai objek, Nawar menghasilkan lebih dari 30 sketsa yang kemudian dipamerkan di sejumlah galeri terkemuka di seluruh Mesir.

Baca Juga:  Revolusi Raja dan Rakyat, dari Sahara ke Jakarta
Foto yang diabadikan pada 29 Agustus 2026 ini memperlihatkan pemandangan salah satu sudut perkotaan di Kairo, Mesir. (Xinhua)

“Saya berinteraksi dengan masyarakat Tiongkok di tempat-tempat wisata, pasar, serta di jalan dan gang, sambil mengamati kehidupan sehari-hari mereka. Setiap tempat menghadirkan kesan keindahan dan inspirasi artistik yang unik bagi saya. Ketika berjalan melewati pasar tradisional di Xi’an, saya tidak bisa tidak teringat pada suasana yang familier di pasar Khan el-Khalili di kawasan kota tua Kairo,” kata Nawar.

Bagi Nawar, karya-karya tersebut layaknya “harta karun.”
“Setiap kali melihatnya sekarang, saya teringat kembali tempat-tempat di mana saya membuat karya tersebut, orang-orang yang saya temui, dan emosi yang saya rasakan pada saat itu. Kenangan-kenangan tersebut masih begitu jelas,” ujar seniman Mesir itu.

Nawar mengatakan dirinya pernah menggelar pameran tunggal di Pulau Zamalek, Kairo, yang menarik banyak pelajar, pencinta seni, dan kolektor lokal. Sebuah seminar tentang budaya dan seni Tiongkok juga digelar dalam pameran tersebut.

Baca Juga:  Mediasi Tanah; Warga vs PT BTLA Berlangsung Alot

“Orang-orang tidak hanya tertarik untuk mengapresiasi karya seni itu sendiri, tetapi juga ingin memahami Tiongkok yang ada di balik karya-karya tersebut. Pertukaran seni dapat memicu ketertarikan, memperdalam pemahaman, dan mendekatkan berbagai peradaban,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Nawar terus mengikuti perkembangan Tiongkok di berbagai bidang, termasuk sains dan teknologi, arsitektur dan teknik, serta memasukkan contoh-contoh terkait ke dalam pengajarannya di kelas.

“Jika saya tidak melihat sendiri pencapaian pembangunan Tiongkok, keindahan alamnya, serta kekayaan warisan sejarah dan budayanya, saya tidak akan dapat membawa pengalaman-pengalaman tersebut ke dalam pengajaran saya dan berbagi dengan para mahasiswa Mesir mengenai nilai seni tradisional Tiongkok dan praktik-praktik inovatif dalam seni kontemporer,” tuturnya.

Menurut Nawar, pertukaran dan kerja sama yang tulus di antara para seniman merupakan kekuatan penting untuk semakin mendekatkan masyarakat Mesir dan Tiongkok serta semakin memperdalam pertukaran budaya antara kedua negara.[]


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Wujudkan Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata 2026-2030
Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris
PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik
Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South
IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz
Israel Mengaku Hancurkan Infrastruktur Hizbullah
Gubernur Mirza Dorong FKLPID Jadi Penghubung Tenaga Kerja dan Dunia Industri
GAK Tak Terdeteksi Erupsi, Hujan Turun, Pemprov Lampung Perkuat Kesiapsiagaan

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 11:17 WIB

Wujudkan Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata 2026-2030

Sabtu, 12 September 2026 - 04:19 WIB

Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris

Jumat, 11 September 2026 - 19:18 WIB

PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik

Jumat, 11 September 2026 - 18:54 WIB

Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South

Jumat, 11 September 2026 - 18:43 WIB

IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik

Jumat, 11 Sep 2026 - 19:18 WIB

Xi Jinping

#indonesiaswasembada

Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South

Jumat, 11 Sep 2026 - 18:54 WIB

Orang-orang menghadiri upacara pemakaman seorang komandan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), yang tewas akibat serangan AS-Israel, di Teheran, Iran, pada 1 April 2026. (Xin)

#indonesiaswasembada

IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz

Jumat, 11 Sep 2026 - 18:43 WIB