Revisi UU Pemerintahan Aceh Harus Perkuat Kewenangan Fiskal Dan Implementasi Syariat Islam

Rabu, 22 Oktober 2025 | 15:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


JAKARTA – Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Nasir Djamil menegaskan bahwa revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) harus difokuskan pada tiga aspek utama, yakni kewenangan daerah, kebijakan fiskal, dan pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Tiga hal tersebut dinilai sebagai pilar utama dalam menjaga kekhususan dan keistimewaan Aceh sebagai daerah otonomi khusus.

Nasir menjelaskan, evaluasi terhadap pelaksanaan UUPA selama hampir dua dekade menunjukkan perlunya peningkatan kualitas dan kejelasan dalam pengaturan ketiga aspek tersebut. Ia menilai revisi UUPA bukan hanya untuk memperbarui regulasi, tetapi juga untuk memastikan hak dan kekhususan Aceh benar-benar dijalankan secara optimal.

“Sebenarnya yang dievaluasi itu ada tiga hal. Pertama soal kewenangan, kedua soal fiskal, dan ketiga soal pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Tiga hal inilah yang harus dievaluasi dan ditingkatkan kualitasnya,” ujar Nasir

Djamil kepada Parlementaria usai mendengar aspirasi dari Gubernur Aceh di Banda Aceh, Provinsi Aceh, Selasa (21/10/2025).

Baca Juga:  20.000 Lulusan SMP Terserap di Pondok Pesantren

Dalam hal fiskal, Nasir menyoroti pentingnya pengaturan dana otonomi khusus agar tidak memiliki batas waktu dan tetap berkelanjutan. Ia menilai, keberlanjutan dana tersebut menjadi bentuk nyata pengakuan negara terhadap status kekhususan Aceh.

“Bukan hanya soal dana otonomi khusus yang diharapkan bisa mencapai 2,5 persen, tetapi juga agar dana itu berlaku selamanya tanpa jeda. Pelaksanaan syariat Islam juga perlu dibiayai oleh APBN sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan negara terhadap keistimewaan Aceh,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nasir mengusulkan agar dalam revisi UUPA nanti dibentuk kementerian atau lembaga khusus yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kekhususan dan keistimewaan Aceh. Menurutnya, selama ini belum ada instansi yang secara tegas memiliki tanggung jawab tersebut di tingkat nasional.

“Selama ini kan belum jelas siapa yang bertanggung jawab. Mungkin nanti perlu ada kementerian atau lembaga di bawah presiden yang memastikan pelaksanaan kekhususan dan keistimewaan Aceh berjalan dengan baik,” katanya.

Baca Juga:  Sampah Bantargebang Renggut Korban Jiwa

Terkait hubungan revisi UUPA dengan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki, Nasir menilai dokumen perdamaian tersebut tetap menjadi inspirasi dan dasar historis lahirnya UUPA. Ia menyebut sebagian besar butir MoU telah diakomodasi dalam UUPA, namun masih perlu dilihat kembali poin-poin yang belum sepenuhnya terserap.

“MoU Helsinki itu semacam inspirasi. Sebagian besar sudah ada dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh, tapi nanti kita lihat mana yang belum diserap. Dalam UUPA sendiri, MoU Helsinki sudah dicantumkan dalam penjelasan sebagai bentuk pengakuan bahwa perjanjian itu menjadi tonggak lahirnya perdamaian dan dasar terbentuknya UU Pemerintahan Aceh,” ujar Nasir.

Nasir menegaskan bahwa revisi UUPA harus tetap berpijak pada koridor hukum nasional dan hierarki peraturan perundang-undangan yang berlaku, agar hasil revisi nantinya memiliki kepastian hukum sekaligus memperkuat semangat perdamaian di Aceh.


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Desty


Sumber Berita : DPR RI

Temukan berita-berita menarik Lintas Lampung di Google News
*Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

Berita Terkait

Pengelola Tol Bakter Gelar Operasi Microsleep
Presiden Prabowo Gelontorkan Rp 839 Miliar untuk Way Kambas
Misbakhun : OJK jadi Penguat Pengawasan Sistem Keuangan
Badan Pengkajian MPR Gelar FGD, Bahas Penguatan Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat
Buka Puasa Bersama, MES Perkuat Sinergi Pemangku Kepentingan Ekonomi Syariah
JMSI Kolaka Raya Berbagi
Musrenbang Penyusunan RKPD Pesawaran 2027, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Dorong Penguatan SDM
TP. PKK Provinsi Lampung Bersama DWP Bagikan 500 Paket Takjil di Hari Terakhir Kegiatan Ramadan Berbagi
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 16:07 WIB

Pengelola Tol Bakter Gelar Operasi Microsleep

Sabtu, 14 Maret 2026 - 16:03 WIB

Presiden Prabowo Gelontorkan Rp 839 Miliar untuk Way Kambas

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:59 WIB

Misbakhun : OJK jadi Penguat Pengawasan Sistem Keuangan

Sabtu, 14 Maret 2026 - 11:59 WIB

Badan Pengkajian MPR Gelar FGD, Bahas Penguatan Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat

Sabtu, 14 Maret 2026 - 09:26 WIB

Buka Puasa Bersama, MES Perkuat Sinergi Pemangku Kepentingan Ekonomi Syariah

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Pengelola Tol Bakter Gelar Operasi Microsleep

Sabtu, 14 Mar 2026 - 16:07 WIB

#indonesiaswasembada

Presiden Prabowo Gelontorkan Rp 839 Miliar untuk Way Kambas

Sabtu, 14 Mar 2026 - 16:03 WIB

#indonesiaswasembada

Misbakhun : OJK jadi Penguat Pengawasan Sistem Keuangan

Sabtu, 14 Mar 2026 - 15:59 WIB

#indonesiaswasembada

Buka Puasa Bersama, MES Perkuat Sinergi Pemangku Kepentingan Ekonomi Syariah

Sabtu, 14 Mar 2026 - 09:26 WIB