Reformasi DK PBB Batasi Keterwakilan Negara Maju

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekjen PBB dan Prabowo di Hambalang [Sekneg]

Sekjen PBB dan Prabowo di Hambalang [Sekneg]

PBB-Tujuan akhir dari reformasi Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah untuk mengubah situasi di mana negara-negara maju memiliki keterwakilan yang berlebihan, kata seorang utusan Tiongkok pada Kamis (22/10). Reformasi DK PBB harus berfokus pada peningkatan representasi dan suara negara-negara berkembang, kata Fu Cong, perwakilan tetap Tiongkok untuk PBB.

“DK PBB, sebagai inti dari mekanisme keamanan kolektif, harus mencerminkan realitas politik internasional dan memberikan kesempatan kepada lebih banyak negara berkembang serta negara-negara kecil dan menengah yang memiliki kebijakan luar negeri independen untuk ambil bagian dalam pengambilan keputusan Dewan Keamanan,” kata Fu Cong dalam pertemuan Majelis Umum PBB tentang reformasi DK PBB.

“Secara khusus, kita harus memperbaiki ketidakadilan historis yang diderita Afrika serta membuat prioritas dan pengaturan khusus untuk tuntutan Afrika.”

Fu mengatakan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengubah situasi di mana komposisi DK PBB tidak seimbang antara Utara dan Selatan, di mana satu blok telah lama mendominasi, dan negara-negara maju memiliki keterwakilan yang berlebihan. Dia menyampaikan soal perlunya menghormati konsensus negara-negara anggota dan mematuhi solusi terpadu. Reformasi DK PBB merupakan proyek sistemis, dan keseluruhan lima kelompok isu yang dibahas semuanya penting. Oleh karena itu, reformasi ini harus ditangani melalui solusi terpadu.

Baca Juga:  Warga Palestina Terluka, Bentrok Pemukim vs Pasukan Israel

Sebelum para pihak mencapai konsensus yang jelas, setiap upaya untuk terburu-buru mengadopsi “model terkonsolidasi”, mendesak dimulainya negosiasi berbasis teks, atau bahkan memaksakan tenggat waktu yang tidak realistis, serta mengambil pendekatan “selangkah demi selangkah” atau “sepotong-sepotong” hanya akan memperparah perbedaan dan perselisihan di antara para pihak, yang tidak kondusif bagi perkembangan jangka panjang PBB dan kepentingan bersama negara-negara anggota, paparnya. Fu mengatakan bahwa negosiasi antarpemerintah (intergovernmental negotiation/IGN) harus menjadi saluran utama.

“IGN adalah satu-satunya platform resmi bagi negara-negara anggota untuk membahas reformasi DK PBB, dan perannya tak tergantikan,” katanya. “Tiongkok mendukung semua pihak untuk terus melanjutkan dialog dan konsultasi di platform ini guna membangun konsensus, serta dengan tegas menentang segala upaya untuk meluncurkan platform alternatif.”

Baca Juga:  Wagub Lampung Pimpin Padamkan Api TPA Bandarjaya

Tiongkok mencatat bahwa semakin banyak negara anggota yang menyatakan minatnya untuk membentuk kursi regional bergilir di DK PBB. Dibandingkan dengan usulan untuk memperluas dua kategori kursi yang ada saat ini, konsep tersebut lebih adil dan lebih demokratis. Tiongkok berharap negara-negara anggota akan terus melakukan pembahasan mendalam mengenai gagasan-gagasan reformasi baru, menggabungkan berbagai pemikiran, dan secara aktif mengeksplorasi gagasan-gagasan reformasi yang mendapat dukungan luas di kalangan negara-negara anggota, ujarnya.

Dalam kerangka IGN, Tiongkok siap untuk terus bekerja sama dengan semua pihak, saling menghormati, serta melakukan pertukaran dan konsultasi secara jujur dengan kedudukan yang setara, guna memastikan bahwa reformasi DK PBB bergerak ke arah yang mendukung kepentingan bersama negara-negara anggota dan perkembangan yang sehat bagi tujuan PBB, serta memberikan kontribusi positif bagi pembangunan sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara, kata Fu.[]


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Kerja sama Indonesia-Tiongkok Buka Jalan Pengembangan Talenta
Memaknai Visi Xi Jinping Tentang Tata Kelola Global
Turki, Qatar, Pakistan, dan Indonesia Teken MOU Pertahanan
Ketua MPR RI Apresiasi Prestasi SMA YP Unila
Pemprov Lampung Perkuat Pemberdayaan Masyarakat
Dukung Green Policing, Polres Mesuji Kerja Bakti
Bebas Visa Tiongkok, Kemenpar Genjot Promosi Wisata Indonesia
16 Tewas dan 54 Luka, Gempa Bermagnitudo 7,0 di Xizang

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:38 WIB

Reformasi DK PBB Batasi Keterwakilan Negara Maju

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:08 WIB

Kerja sama Indonesia-Tiongkok Buka Jalan Pengembangan Talenta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:57 WIB

Memaknai Visi Xi Jinping Tentang Tata Kelola Global

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:47 WIB

Turki, Qatar, Pakistan, dan Indonesia Teken MOU Pertahanan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Ketua MPR RI Apresiasi Prestasi SMA YP Unila

Berita Terbaru

Sekjen PBB dan Prabowo di Hambalang [Sekneg]

Berita Utama

Reformasi DK PBB Batasi Keterwakilan Negara Maju

Jumat, 23 Okt 2026 - 23:38 WIB

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 14 Juni 2024 ini menunjukkan peserta wisuda kelompok kedua dengan program pelatihan bersama di bidang teknik metalurgi berfoto bersama sesudah acara kelulusan di depan pintu gerbang Central South University (CSU) di Tiongkok tengah. (Xinhua)

Berita Utama

Kerja sama Indonesia-Tiongkok Buka Jalan Pengembangan Talenta

Jumat, 23 Okt 2026 - 23:08 WIB

Presiden China Xi Jinping (ketiga dari kanan) bertemu dengan keluarga mendiang premier atau kepala pemerintah Negara Bagian Tasmania, Jim Bacon, di Negara Bagian Tasmania

Berita Utama

Memaknai Visi Xi Jinping Tentang Tata Kelola Global

Jumat, 23 Okt 2026 - 20:57 WIB

Foto yang diabadikan pada 24 September 2026 ini menunjukkan sejumlah kapal dalam latihan militer bersandi

Berita Utama

Turki, Qatar, Pakistan, dan Indonesia Teken MOU Pertahanan

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:47 WIB

Berita Utama

Ketua MPR RI Apresiasi Prestasi SMA YP Unila

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:04 WIB