Purbaya Yudhi Sadewa; Pajak Naik, Pecel Lele pun Hambar Terasa

Selasa, 9 September 2025 | 07:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PARA guru dan dosen mungkin mengucapkan “alhamdulillah” ketika Purbaya Yudhi Sadewa ditunjuk Presiden Prabowo menggantikan Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan.
Lah, emang kenapa, Bang?
Rupanya, Purbaya termasuk dalam kelompok orang yang sederhana.  Suka makan pecel lele juga sama dengan saya. Simak narasinya, wak!

Namanya, Purbaya Yudhi Sadewa. Lahir di Bogor pada 7 Juli 1964. Ia bukan sekadar manusia biasa. Selain ,  insinyur elektro dan nabi ekonomi. Dari S1 Teknik Elektro ITB, lalu melanjutkan MSc Ekonomi di Purdue University, Indiana, Amerika Serikat.

`Di kampus itu juga ia menamatkan S3 dan meraih PhD. Dari Purdue ia belajar cara menyambungkan angka-angka defisit dan surplus.`

Ia seorang doktor ekonomi, orang yang mampu memimpin Lembaga Penjamin Simpanan. Lalu, tiba-tiba dengan rendah hati duduk di bangku plastik warung pecel lele. Saat pejabat lain sibuk menakar kualitas daging wagyu, Purbaya sibuk memastikan sambal terasi cukup pedas untuk menampar lidahnya. Inilah paradoks epik, manusia dengan otak berlapis algoritma, tapi perutnya tetap rakyat jelata.

*Prabowo, sang Presiden*, tentu tidak asal pilih. Ia tidak sedang mencari menteri yang pandai memotret dengan angle estetik, atau yang sibuk pidato penuh jargon kosong. Ia butuh teknokrat yang bisa bicara angka dengan ekspresi wajah seolah sedang membaca kitab filsafat kuno. Purbaya, dengan wajah teduh dan sikap santun, adalah jawabannya. Di tangannya, fiskal bukan sekadar tabel Excel, melainkan semacam puisi kosmik tentang masa depan republik.

Baca Juga:  Demokrasi Pancasila dan Kedaulatan Ekonomi, Khozin Minta Kebijakan Tak Sekadar Wacana

Jangan salah, rekam jejaknya tak main-main. Saat pandemi menghantam, ketika bank-bank bergetar bagai daun kering diterpa badai, ia berdiri di garis depan LPS, memastikan simpanan rakyat tak hilang ke jurang. Dunia keuangan mengenalnya sebagai penjaga stabilitas,
semacam Gandalf yang berdiri di hadapan sistem perbankan dan berkata,“You shall not pass!” kepada krisis.

Namun, di balik segala keseriusan itu, ada juga humor kosmik yang membuat publik kagum. Ia masih naik bajaj, kadang bercampur dengan penumpang lain yang tak sadar sedang duduk di sebelah menteri masa depan. Ia masih menulis visi ekonomi di atas tisu kafe kaki lima, sementara di meja seberang mahasiswa ekonomi bingung menghitung inflasi.

Ketika Sri Mulyani, sang maestro fiskal, ratu pajak, digantikan, banyak yang terkejut. Tapi di situlah filosofi absurd politik Indonesia bekerja. Yang dianggap tak mungkin, tiba-tiba jadi kenyataan. Purbaya datang bukan dengan pedang, melainkan dengan senyum sederhana dan janji mulia. “Pertumbuhan 8 persen bukan hal mustahil, dan pajak tidak perlu dinaikkan.” Kata-kata ini langsung bergaung ke seantero negeri, lebih dahsyat dari konser Pestapora, lebih merdu dari pidato Putin.

Baca Juga:  Sssst, Jakarta Masih Ibukota nya...

Di era di mana rakyat selalu gelisah menunggu kapan lagi tarif naik, Purbaya hadir bagai pahlawan Marvel versi ekonomi. Ia berbisik kepada pedagang kaki lima, ia menepuk pundak karyawan pabrik, ia mengangkat semangat mahasiswa yang utangnya belum lunas, “Tenanglah, aku tidak akan menambah pajakmu.” Seketika, negeri ini bergetar oleh harapan baru, meski tetap saja harga cabe belum turun.

Maka tercatatlah di buku sejarah republik, dari Bogor ia berangkat, dari Purdue ia pulang, dari pecel lele ia belajar kesederhanaan, dari LPS ia menjaga stabilitas, dan kini dari kursi Menteri Keuangan ia berjanji mengubah angka-angka menjadi harapan. Entah benar entah hanya mitos, Purbaya sudah menjelma legenda.

Di ujung kisah, rakyat hanya ingin satu hal sederhana, jangan naikkan pajak, Pak Menteri. Karena kalau pajak naik, bahkan sambal pecel lele pun terasa hambar. []


Penulis : Abdullah


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : JMSI News Network

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Meriahkan Hari Bhayangkara Ke-80, Polres Mesuji Hadirkan Kesehatan, Kesejahteraan dan Kebersamaan Bagi Rakyat  
Pemprov Lampung Raih Penghargaan Adhi Manawa Nugraha Madya dari BKN
Pemprov Lampung Dorong Kawasan Industri Energi Katibung, Buka Peluang Kerja dan Perkuat Ekonomi Masyarakat
GREAT Institute: “State-Driven Economy” untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan
Sekber 3 Konstituen Dewan Pers Rapat Pemantapan Sarasehan Jilid 2
Tanaman Cakar Ayam dan Patah Tulang
Nyok Makan Kerak Telor Betawi
Mau Makan Soto Betawi di Jakarta?
Purbaya Yudhi Sadewa

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 18:49 WIB

Meriahkan Hari Bhayangkara Ke-80, Polres Mesuji Hadirkan Kesehatan, Kesejahteraan dan Kebersamaan Bagi Rakyat  

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:33 WIB

Pemprov Lampung Raih Penghargaan Adhi Manawa Nugraha Madya dari BKN

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:30 WIB

Pemprov Lampung Dorong Kawasan Industri Energi Katibung, Buka Peluang Kerja dan Perkuat Ekonomi Masyarakat

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:28 WIB

GREAT Institute: “State-Driven Economy” untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:25 WIB

Sekber 3 Konstituen Dewan Pers Rapat Pemantapan Sarasehan Jilid 2

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Pemprov Lampung Raih Penghargaan Adhi Manawa Nugraha Madya dari BKN

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:33 WIB

#indonesiaswasembada

Sekber 3 Konstituen Dewan Pers Rapat Pemantapan Sarasehan Jilid 2

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:25 WIB