Oleh: Mardiana Putri, S. Pd, SMA Negeri 7 Bandar Lampung

Abstrak

Pemanfaatan dan pengelolaan laboratorium kimia sebagai fasilitas sekolah harus memperhatikan faktor kondisi dan mutu fasilitas, karena kedua faktor tersebut dapat berpengaruh secara langsung terhadap proses pendidikan. Pengelolaan  laboratorium  merupakan  suatu  usaha  untuk  mengelola  semua  perangkat  laboratorium  yang  diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Suatu laboratorium dapat dikelola dengan baik ditentukan dari beberapa faktor yang saling berkaitan satu sama lain. Secara umum pengelolaan laboratorium kimia meliputi : 1) Perencanaan, 2) Pengorganisasian, 3) Pelaksanaan, 4)  pengawasan. Pada laboratorium kimia SMAN 7 Bandar Lampung pengelolaan laboratorium kimia sudah  terlaksana dengan  baik.  Namun,  masih  belum  memenuhi  semua kriteria  yang  tercakup  dalam perangkat pengelolaan laboratorium.

Abstract

The use and management of chemical laboratories as school facilities must pay attention to the conditions and quality of the facilities, because these two factors can directly influence the educational process. Laboratory management is an effort to manage all laboratory equipment which is expected to improve the quality of learning. A laboratory that can be managed properly is determined by several factors that are interrelated with one another. In general, chemical laboratory management includes: 1) planning, 2) organizing, 3) implementation, 4) supervision. In the chemical laboratory of SMAN 7 Bandar Lampung the management of the chemical laboratory has been carried out well. However, it still does not meet all the criteria included in the laboratory management tools.

Keywords: Laboratory, chemistry, Management.

PENDAHULUAN

Laboratorium sangat erat kaitannya dengan kegiatan pembelajaran IPA yang menggunakan pendekatan keterampilan proses sains. Seperti yang diungkapkan oleh Nahdiyaturrahmah, dkk (2017) yang menyatakan bahwa untuk mewujudkan dan menerapkan pendidikan abad 21 yang menekankan HOTS (Higher Order Thinking Skills), integrasi literasi dan PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) dalam proses belajar mengajar, diperlukannya keterampilan proses sains dan pembelajaran di laboratorium. Sejalan dengan hal tersebut, menurut Maharani & Sasi (2019) laboratorium membutuhkan sebuah sistem yang dapat mengatur secara terencana, terorganisir, mekanisme berjalan secara efisien, memiliki tujuan yang jelas dan terdapat pula pengawasannya.

Proses pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Proses pembelajaran seperti ini menuntut agar dalam kegiatan belajar mengajar siswa dapat menemukan dan memahami fakta dan konsep untuk mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran kimia adalah pelajaran yang memungkinkan banyak kegiatan praktikum untuk memahami konsep-konsep kimia lebih dalam bahkan memungkinkan menemukan konsep baru. Meskipun kegiatan praktikum juga dapat dilakukan di dalam kelas, namun idealnya dilaksanakan di laboratorium karena alat-alat dan bahan-bahan kimia akan lebih aman digunakan di dalam laboratorium dari pada di dalam kelas. Laboratorium kimia merupakan kelengkapan wajib yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan penggunaan dan pemakaian bahan kimia maupun peralatan analisis (instrumentasi) (Decaprio, 2013).

Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang tidak memiliki sarana laboratorium yang lengkap. Selain itu, kenyataan juga menunjukkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki tenaga pengelola laboratorium. Tenaga pengelola laboratorium di sekolah dilakukan oleh para Guru IPA, karena sebagian besar sekolah tidak memiliki laboran. Para Guru yang bertugas mengelola laboratorium belum dapat melakukan tugasnya dalam pengelolaan laboratoriun dengan baik karena berbagai keterbatasan. Selain keterbatasan bekal keilmuan tentang pengelolaan laboratorium juga terkendala oleh terbatasnya waktu mengikuti pelatihan.

Pemanfaatan dan pengelolaan laboratorium Kimia sebagai fasilitas sekolah harus memperhatikan faktor kondisi dan mutu fasilitas, karena kedua faktor tersebut dapat berpengaruh secara langsung terhadap proses pendidikan. Hal ini sejalan dengan pendapat yang diungkapkan oleh Roehrich & Patrick (2003: vii) bahwa: Setiap sekolah menengah harus mampu memanfaatkan dan mengatur fasilitas yang ada untuk berbagai kegiatan laboratorium. Sehubungan dengan hal tersebut, maka semua unsur yang terlibat dalam pengelolaan laboratorium harus memiliki kompetensi, yaitu kemampuan, sikap, dan keterampilan yang harus dimiliki dan mampu diterapkan oleh pengelola laboratorium (kepala, teknisi, dan laboran) sebagai tenaga kependidikan dalam pelaksanaan tugas pengelolaan laboratorium.

Manajemen laboratorium Kimia yang efektif adalah manajemen laboratorium yang mampu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam pengelolaan laboratorium secara konsisten dan berkesinambungan serta mengelola sumberdaya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen laboratorium Kimia berkaitan dengan proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap kegiatan laboratorium Kimia.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tugas pokok pengelola laboratorium adalah melaksanakan tugasng bersifat akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program kerja laboratorium, pelaksanaan program, pembinaan terhadap teknisi dan laboran, penilaian kinerja teknisi dan laboran, dan evaluasi hasil pelaksanaan program laboratorium (Permenpan Nomor 21 Tahun 2010). Berdasarkan regulasi tersebut dapat disimpulkan, bahwa pengelola laboratorium harus berkualifikasi dan berpengalaman minimal yang dipersyaratkan, serta telah bersertifikat dengan tugas pokok utama bidang manajerial dan akademik (profesional) meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pembinaan, penilaian, pemantauan, evaluasi, dan laporan.

  1. Perencanaan Laboratorium Kimia
Baca Juga:  Resep Carrot Cake Jahe, Dessert Menyehatkan

Perencanaan sarana dan prasarana laboratorium harus memenuhi prinsip-prinsip: 1) perencanaan sarana dan prasarana sekolah harus betul-betul merupakan proses intelektual, 2) perencanaan di dasarkan pada analisis kebutuhan, 3) perencanaan sarana dan prasarana sekolah harus realistis, sesuai dengan kenyataan anggaran, 4) visualisasi hasil perencanaan sarana dan prasarana sekolah harus jelas dan rinci, baik jumlah, jenis, merek, dan harganya. Dengan perencanaan program tersebut diharapkan tujuan pembelajaran kimia akan tercapai sehingga dapat menghasilkan mutu pembelajaran kimia yang diinginkan. Perencanaan laboratorium di SMAN 7 Bandar Lampung sudah cukup baik

Ventilasi udara dan pencahayaan di laboratorium kimia sudah memadai, juga ketersedian air yang mudah sehingga mempermudah dalam melakukan praktikum.

2. Pengorganisasian Laboratorium kimia

Menurut Terry pengorganisasian ialah penentuan, pengelompokkan, dan penyusunan macam-macam kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan, penempatan orang-orang (pegawai), terhadap kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor-faktor physik yang cocok bagi keperluan kerja dan penunjukkan hubungan wewenang, yang dilimpahkan terhadap setiap orang dalam hubungannya dengan pelaksanaan setiap kegiatan yang diharapkan.

Dalam hal ini pengorganisasian pada pengelolaan laboratorium Kimia di SMAN 7 Bandar Lampung secara umum cukup baik. Sekolah tersebut memiliki pengelola laboratorium yang meliputi kepala laboratorium dan laboran yang cukup kompeten. Namun hal ini belum bisa dikatakan lengkap dikarenakan Permendiknas No. 26 tahun 2008 pasal 1 ayat 1 sudah dijelaskan bahwa hendaknya standar tenaga laboratorium mencakup kepala laboratorium, teknisi laboratorium, dan laboran.

  1. Pelaksanaan Laboratorium Kimia

Di SMAN 7 Bandar Lampung, secara umum pelaksanaan sudah cukup baik terlihat dari esesuaian kegiatan dan layanan dengan program yang telah direncanakan. Namun, terdapat kendala sumber daya manusia (SDM) dan ketersediaan sarana prasarana laboratorium IPA. Akan tetapi kendala tersebut masih bisa diatasi dengan guru IPA yang harus lebih kreatif dalam mengatasi hal tersebut sehingga kegiatan praktikum tetap dilaksanakan.

3. Pengawasan Laboratorium kimia

Supervisi atau pengawasan laboratorium kimia di SMAN 7 Bandar Lampung dilihat dari laporan laboran kepada Kepala Laboratorium baik secara formal maupun informal. Laporan kepala laboratorium tersebut dilakukan dua kali dalam satu tahun. Untuk semester pertama subtansi yang di supervise yaitu menegnai adminitrasi, dimana pengecekan kelengkapan administrasi dari perencanaan, dan pengorganisasian. Kemudian untuk semester ke dua substansi yang disupervisi adalah supervisi yang bertujuan untuk melihat bagaimana kegiatan di laboratorium apakah berjalan dengan baik atau tidak. Tak hanya itu Setiap kegiatan pengelolaan laboratorium kimia juga disupervisi termasuk kinerja pengelola dan guru kimia dalam kegiatan praktikum. Disamping itu, kondisi dan peralatan yang diperlukan juga dilaporkan kepada kepala sekolah sebagai acuan untuk pengadaan ditahun depan. Pengawasan dapat dirumuskan sebagai proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu standard, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan, dan bilamana perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana, yaitu selaras dengan standard (ukuran).

KESIMPULAN

Pengelolaan laboratorium kimia di SMAN 7 Bandar Lampung di mulai dari :

  1. perencanaan pengadaan sarana prasarana sudah cukup baik, Ventilasi udara dan pencahayaan di laboratorium kimia sudah memadai, juga ketersedian air yang mudah sehingga mempermudah dalam melakukan praktikum.
  2. Pengorganisasian terlaksana dengan cukup baik,. Akan tetapi masih terdapat kekurangan pada tenaga pengelola yaitu adanya teknisi khusus laboratorium.
  3. Pelaksanaan, dari perencanaan yang telah disusun secara umum sudah terlaksana sesuai dengan perencanaan dan jadwal penggunaan laboratorium kimia juga disesuaikan dengan kebutuhan dari masing-masing guru.
  4. Pengawasan secara umum sudah dilaksanakan melalui supervisi, mentoring dan evaluasi yang dilakukan dua kali dalam setahun oleh pihak-pihak yang bertujuan sebagai bahan perbaikan dan pengembangan dalam pengelolaan laboratorium kimia sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran kimia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kemendiknas (2011). Pedoman Penilaian Kinerja Kepala Laboratorium/Bengkel Sekolah/Madrasah. Jakarta: Kemendiknas

Kemenpan (2010). Permenpan Nomor 21 Tahun 2010 tentang Tugas Pokok Kepala Laboratorium/Bengkel Sekolah/Madrasah. Jakarta: Kemenpan

Maharani, R.I & Sasi, F. A. 2019. Analisis Cek List Bahan Laboratorium di Laboratorium Biologi FMIPA UNNES. Jurnal Teknologi dab Manajemen Pengelolaan Laboratorium.

Nahdiyaturrahmah, dkk. 2020. Pengelolaan Laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (Ipa) Smp Negeri 2 Singaraja.  Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sains Indonesia (JPPSI) Volume 3

Peraturan Mentri Pendidikan Nasional. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana. Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini