Johan Rosihan: Jangan Kelola Pangan Secara Normal di Tengah Dunia yang Tidak Normal

Selasa, 7 April 2026 | 17:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan, melontarkan peringatan keras kepada pemerintah agar tidak mengelola sektor pangan dengan pendekatan biasa di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya eskalasi konflik Iran–Israel–AS yang berdampak pada energi, pupuk, dan rantai pasok pangan.

Pernyataan itu disampaikan Johan dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, Perum Bulog, serta BUMN pangan di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

“Dunia sedang tidak normal, tapi cara kita mengelola pangan masih terasa normal. Ini berbahaya,” tegas Johan.

Ia mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup diukur dari kondisi stok saat ini, meskipun pemerintah menyampaikan adanya surplus dan ketersediaan beras yang relatif aman. Menurutnya, ancaman utama justru berada pada kemampuan sistem pangan nasional dalam menghadapi guncangan global yang bisa terjadi dalam waktu cepat.

“Masalah kita bukan sekadar stok hari ini, tapi ketahanan sistem ke depan. Kalau terjadi gangguan global pada energi, pupuk, dan logistik, dampaknya akan langsung terasa pada harga pangan di dalam negeri,” ujarnya.

Baca Juga:  TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Tarik Pasukan

Johan menilai Indonesia saat ini berisiko menghadapi skenario krisis yang lebih kompleks, yaitu tekanan simultan dari konflik global, kenaikan biaya energi dan pupuk, serta potensi gangguan produksi akibat faktor iklim seperti El Nino.

“Kalau tiga tekanan ini terjadi bersamaan, maka dalam beberapa bulan ke depan kita berpotensi menghadapi kenaikan harga pangan yang signifikan. Negara harus bergerak lebih cepat sebelum itu terjadi,” katanya.

Dalam rapat tersebut, Johan menyampaikan tiga langkah strategis yang mendesak untuk dilakukan pemerintah. Pertama, pembentukan komando krisis pangan nasional yang terintegrasi lintas sektor dan mampu bekerja secara real-time untuk merespons dinamika harga, stok, dan distribusi.

Kedua, pengamanan sektor hulu, khususnya ketersediaan pupuk dan input produksi, guna memastikan keberlanjutan produksi pangan dalam menghadapi potensi kenaikan biaya akibat tekanan global.

Ketiga, penguatan cadangan pangan tidak hanya pada beras, tetapi juga pada komoditas strategis lain seperti jagung, kedelai, dan protein hewani, mengingat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor pada sejumlah komoditas tersebut.

Baca Juga:  Musrenbang RKPD 2027, Perkuat Sinergi Lintas Pemerintahan untuk Akselerasi Pembangunan Daerah

Johan juga menyoroti masih adanya gejolak harga di lapangan sebagai indikator bahwa persoalan pangan tidak semata pada ketersediaan, tetapi juga pada distribusi dan efektivitas stabilisasi.

“Stok boleh aman di atas kertas, tapi kalau harga di lapangan masih bergejolak, artinya sistem kita belum sepenuhnya siap,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah harus mengedepankan pendekatan antisipatif, bukan reaktif, dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, krisis pangan modern tidak lagi dimulai dari sawah, tetapi dari dinamika global yang memengaruhi seluruh rantai pasok.

“Jangan tunggu harga naik baru bertindak. Kalau negara terlambat, rakyat yang akan lebih dulu merasakan dampaknya,” kata Johan.

Ia menutup dengan menekankan bahwa ketahanan pangan adalah bagian dari kedaulatan negara yang harus dijaga melalui kebijakan yang cepat, terintegrasi, dan berbasis pada pembacaan risiko global secara akurat.(*)


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Nara


Sumber Berita : DPR RI

Temukan berita-berita menarik Lintas Lampung di Google News
*Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

Berita Terkait

Putusan Sela Kasus Dendi Dibacakan 10 April 2026
DPR RI Apresiasi Polri Berhasil Tangkap Buron Narkoba Andre ‘The Doctor’ di Malaysia
Lestari Moerdijat: Dana IndonesiaRaya Harus Mampu Dorong Ekosistem Kebudayaan yang Lebih Inklusif
Apresiasi Penandatanganan Peratutan Presiden Tentang Ditjen Pesantren, HNW: Harus Bisa Menguatkan dan Memajukan Pesantren
Wagub Jihan Nurlela Pimpin Rapat Evaluasi Program Prioritas Desaku Maju
Manortor Meriahkan Halal bi Halal Persatuan Batak Muslim Satataring Lampung
Panen Raya, Padi Mesuji Untuk Siapa
Polres Mesuji Intensifkan Patroli Malam Untuk Jaga Kamtibmas
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 7 April 2026 - 18:04 WIB

Putusan Sela Kasus Dendi Dibacakan 10 April 2026

Selasa, 7 April 2026 - 18:00 WIB

DPR RI Apresiasi Polri Berhasil Tangkap Buron Narkoba Andre ‘The Doctor’ di Malaysia

Selasa, 7 April 2026 - 17:59 WIB

Lestari Moerdijat: Dana IndonesiaRaya Harus Mampu Dorong Ekosistem Kebudayaan yang Lebih Inklusif

Selasa, 7 April 2026 - 17:57 WIB

Johan Rosihan: Jangan Kelola Pangan Secara Normal di Tengah Dunia yang Tidak Normal

Selasa, 7 April 2026 - 17:49 WIB

Apresiasi Penandatanganan Peratutan Presiden Tentang Ditjen Pesantren, HNW: Harus Bisa Menguatkan dan Memajukan Pesantren

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Putusan Sela Kasus Dendi Dibacakan 10 April 2026

Selasa, 7 Apr 2026 - 18:04 WIB