Film edukasi kebangsaan berjudul Ageman merupakan karya visual sinematik sebagai media edukasi mengenai pentingnya moderasi beragama dan nilai toleransi di Indonesia.
Secara filosofis, kata Ageman diserap dari bahasa Jawa, Sunda, dan Bali yang berarti pakaian, pedoman, atau keyakinan. Judul ini menyimpan pesan mendalam bahwa identitas suku, agama, ras, dan budaya merupakan amanah yang melekat sejak lahir untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk memicu kebencian.
Film ini mengangkat kisah inspiratif perjalanan hidup Ken Setiawan kisah eks radikalisme yang insyaf dan kini Ia mendedikasikan hidupnya untuk menyuarakan pentingnya moderasi beragama dan mengampanyekan pencegahan intoleransi, radikalisme, serta terorisme di tengah masyarakat.
Melalui perjalanan hidup Ken Setiawan yang inspiratif, film ini diharapkan dapat menjadi media edukasi yang menyentuh dan memberikan pemahaman mendalam bagi semua kalangan.
.Film Ageman yang mendapat dukungan yang mengalir deras dari berbagai pihak, termasuk diantaranya Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Lampung
Dukungan tersebut disampaikan Kepala Kanwil Kemenag Lampung Zulkarnain saat bertemu Kru dan talent Film Ageman di Aula Pepadun Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Rabu (23/9/2026).
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) dan jajarannya secara aktif mendukung pemutaran film bertema toleransi dan moderasi beragama bertejuk Ageman untuk ditonton bersama (nonton bareng atau nobar) sebagai sarana edukasi masyarakat
Zulkarnain mengatakan, pesan toleransi yang diangkat dalam film tersebut relevan dengan semangat moderasi beragama.
Menurut dia, keberagaman keyakinan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dikelola dengan sikap saling menghormati.
Dalam pertemuan Kru dan Telent Fulm Ageman, Kakanwil Kemenag Lampung Zulkarnain, S.Ag., M.Hum mengarpesiasi dan akan menginstruksikan kepada seluruh jajaran Kepala madrasah dan pimpinan pondok pesantren se Lampung agar dapat mengadendakan pemutaran dan diskusi film AGEMAN ini.
Karena film Ageman tersebut dinilai sangat edukatif mengingat propinsi Lampung adalah propinsi yang begitu majemuk dan plural karena perbedaan
Zulkarnain mengibaratkan keberagaman seperti sebuah pertunjukan musik. Menurut dia, harmoni justru lahir dari berbagai alat musik yang memiliki karakter berbeda.
“Ketika ada alat musik petik, alat musik tiup, piano atau keyboard, kemudian semuanya saling memahami dan mengambil peran, maka tercipta harmoni dan keindahan,” ujarnya.
Menurut Zulkarnain, analogi tersebut juga menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang agama, budaya, dan pandangan yang beragam.
Zulkarnain menyatakan siap ,mendukung dan terus konsisten mendorong penguatan moderasi beragama dan peningkatan toleransi antarumat beragama di wilayah Lampung
Medium visual seperti film Ageman bisa jadi dijadikan instrumen penting untuk membumikan nilai-nilai kerukunan dan menjaga Lampung agar tetap damai serta kondusif.
Sementara itu, Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap pesan inklusif dalam film ini dapat mengetuk hati seluruh lapisan masyarakat.
“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai di tengah perbedaan.
Harapannya, Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” pungkas Firsada[]
Penulis : Desty Efriyani
Editor : Nara
Sumber Berita : Lampung
















