Oleh: Rudi Alfian*)
BERMETAMORFOSISKAH Pekan Raya Lampung saat menjadi Lampung Fest 2025? tampaknya masih bersifat kosmetik dari pada substantif. Sementara ini, hanya branding dan desain pamflet yang berbeda.
Apakah perubahan nama ini akan membawa keuntungan secara ekonomis bagi masyarakat? Atau hanya semata arena hiburan? Masih perlu di telisik lebih dalam.
Jika kita melihat bahwa konsep acaranya tidak banyak berubah. Gratis masuk saja tidak cukup untuk membuat acara ini lebih menarik jika tidak ada perubahan signifikan dalam konten dan pengalaman yang ditawarkan.
Mungkin Gubernur muda ingin meninggalkan kesan era sebelumnya, tapi apakah perubahan nama saja sudah cukup untuk menunjukkan perubahan yang signifikan? Kita tunggu saja bagaimana Lampung Festival 2025 akan berjalan. Apakah perubahan ini akan membawa dampak positif bagi masyarakat Lampung.
Kritik Negatif Pekan Raya Lampung
Sejumlah unsur elemen masyarakat Sai Bumi Ruwa Jurai kompak mengkritik pelaksanaan PRL yang tahun lalu diserahkan pengelolaannya pada event organizer.
Alih-alih meriah, warga Bandar Lampung dan turis domestik harus menanggung kecewa. Biaya untuk tiket masuk saja Rp15 ribu – Rp50 ribu rupiah.
Calon pembeli tiket harus antre untuk mendapat tiket seharga Rp15 ribu dengan syarat harus menyebutkan nama, tanggal lahir, alamat email dan nomor kontak whatsapp, baru bisa mendapat tiket dengan bukti barkot.
Beban pengunjung selesai?tentu belum. Parkir motor bayar lagi Rp10 ribu, kalau mobil Rp20 ribu rupiah.
Banyaknya keluhan dari warga, mengakibatkan PRL 2024 era Gubernur Arinal Djunaidi sepi peminat, atau bisa dikatakan menjadi PRL yang terburuk.
Antisipasi Gubernur di Lampung Fest 2025
Gubernur Lampung melalui Dinas Pariwisata yang menggandeng komunitas Lampung kreatif perlu mengantisipasi beberapa hal untuk meningkatkan kualitas acara Lampung Festival dengan berkaca pada pengalaman buruk Pemprov Lampung tahun lalu.
Kendati demikian, menggandeng anak muda kreatif tidak juga memberikan garansi absolut acara Lampung Fest 2025 bisa sukses dan diterima oleh semua kalangan.
Sebab, pengelolaan anggaran yang sampai kini masih abu-abu akan terus di lirik publik. Walaupun di atas panggung politik santun Yay Mirza, menyebut Lampung Fest 2025 tidak mendapat infusan dana dari APBD Pemprov Lampung.
Dengan melakukan perubahan signifikan dalam konsep dan pelaksanaan acara, Lampung Fest dapat membawa dampak bagi masyarakat Lampung dan meningkatkan citra positif provinsi tersebut.
Kita tunggu saja bagaimana Lampung Festival 2025 berjalan. Perubahan ini akan membawa dampak pada perekonomian masyarakat kelas bawah? Mungkin silang sengkarut tata kelola Forum Lampung Kreatif (FOLK) ini juga harus lebih dahulu clearn. Jika tidak khawatir akan jadi pergunjingan di kedai Coffee Sattak Sugur.
*Pemerhati Kepariwisataan Asal Lampung Utara
Penulis : Rudi Alfian
Editor : Nara I Afkar
Sumber Berita : Lampung
*Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.















