Pandan Maluku Menemukan Kehidupan Baru di Hainan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto tanpa keterangan tanggal ini menunjukkan tanaman daun pandan yang dibudidayakan di bawah tegakan hutan di Wanning, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua)

Foto tanpa keterangan tanggal ini menunjukkan tanaman daun pandan yang dibudidayakan di bawah tegakan hutan di Wanning, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua)

HAIKOU-Di Indonesia, daun pandan dikenal sebagai “jiwa hijau” dapur. Beberapa lembar daun pandan yang digunakan dalam kue lapis, ketan, atau hidangan penutup dingin sudah cukup untuk memberikan aroma khas yang mengingatkan pada wangi nasi yang dibungkus menggunakan daun bambu.

Tidak banyak orang mengetahui bahwa daun istimewa yang berasal dari Kepulauan Maluku itu kini tumbuh subur ribuan kilometer jauhnya di Hainan, China selatan.

Sejak tahun 1950-an, warga China perantauan yang kembali dari Indonesia dan berbagai wilayah lainnya menetap di Xinglong, sebuah kawasan di Wanning, Provinsi Hainan, serta membawa tradisi kuliner berbahan dasar pandan ke daerah tersebut.

“Ketika masih kecil, kami selalu menanam beberapa pohon pandan di halaman. Setiap kali membuat kue Nyonya atau memasak kari, kami tinggal memetik beberapa lembar. Aroma itu adalah aroma rumah,” kenang Liang Jinhua, warga China perantauan yang kembali menetap di Xinglong.

Keluarga Liang membuka Restoran Indonesia Isana di Xinglong. Pada Februari 2023, restoran tersebut memperoleh sertifikasi sebagai “Restoran Pelestari Cita Rasa Kuliner Indonesia” dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Guangzhou.

Bagi Liang, pandan bukanlah sekadar bahan masakan, melainkan juga benang budaya yang menghubungkan para warga China yang telah kembali dari perantauan dengan tanah leluhur dan tanah air kedua mereka.

Namun, selama empat hingga lima dekade pertama setelah ditanam di Hainan, budi daya pandan hanya dilakukan secara terpencar dalam skala kecil dan tidak pernah berkembang menjadi industri yang sesungguhnya.

Perubahan terjadi berkat adanya inovasi ilmiah. Sejak tahun 1980-an, Institut Penelitian Rempah dan Minuman di bawah Akademi Ilmu Pertanian Tropis China (Chinese Academy of Tropical Agricultural Sciences/CATAS) mulai mengumpulkan serta melestarikan sumber daya plasma nutfah pandan, hingga akhirnya berhasil mengembangkan varietas unggul bernama “Zongxiang Banlan” yang dikenal memiliki aroma kuat.

Baca Juga:  Gubernur Mirza Minta APTISI Siapkan SDM Unggul

Ji Xunzhi, seorang peneliti di institut tersebut, menjelaskan bahwa pandan tidak menghasilkan bunga maupun buah dan hanya dapat diperbanyak melalui tunas akar. Selama ini, rendahnya tingkat kelangsungan hidup bibit menjadi kendala utama dalam budi daya skala besar.
Tim peneliti berhasil mengatasi kendala tersebut dengan mengembangkan teknik perbanyakan cepat berbasis kultur jaringan untuk menyediakan bibit yang sehat dan seragam. Mereka juga mengembangkan pupuk organik khusus guna meningkatkan intensitas aroma daun, serta melakukan uji toksikologi secara menyeluruh guna memberikan dasar ilmiah bagi keamanan pangan.

Dukungan kebijakan juga menjadi faktor penting. Sebelumnya, pandan tidak tercantum dalam katalog nasional bahan pangan yang disetujui di China, dan produk olahan pandan sempat ditarik dari pasaran setelah adanya laporan terkait belum tersedianya standar yang berlaku.

Pada 2023, standar keamanan pangan daerah Hainan untuk pandan tersebut mulai resmi berlaku, menjadikan Hainan sebagai satu-satunya provinsi di China yang saat ini memperbolehkan produksi dan pengolahan pangan berbahan dasar pandan secara legal.

Cai Duhao, kepala Biro Pertanian dan Urusan Pedesaan Kota Wanning, mengatakan bahwa pemerintah setempat telah menyusun rencana khusus pengembangan industri yang berfokus pada “selembar daun pandan”, serta memberikan berbagai insentif, termasuk subsidi untuk metode tumpang sari di bawah tegakan hutan, dengan tujuan menjadikan Wanning sebagai “Kampung Pandan China”. Selain itu, Wanning juga berencana membangun jalur penting untuk memperluas industri pandan ke berbagai wilayah China sekaligus menghubungkannya dengan pasar luar negeri.

Saat ini, luas lahan budi daya pandan di Hainan telah mencapai sekitar 2.000 hektare. Nanqiao di Kota Wanning sendiri memiliki sekitar 300 hektare lahan pandan, menjadikannya sebagai basis budi daya pandan terbesar yang terkonsentrasi di pulau tersebut.

Baca Juga:  5 Jurnalis Hilang Kontak, Barang Dan Mobil Masih Tertinggal Di Hotel Carita

Dalam beberapa tahun terakhir, teh lemon pandan dan kopi pandan kian populer di pasaran, sementara produk mi pandan, kue, deterjen, aromaterapi, hingga tanaman hias yang berbahan dasar atau berkaitan dengan pandan terus bermunculan. Bahkan, muncul ungkapan “segala sesuatu bisa dipadukan dengan pandan” di kalangan industri.

Hal lain yang juga patut diperhatikan adalah semakin eratnya pertukaran di bidang pertanian antara Hainan dan Indonesia. Pada April tahun ini, delegasi dari Universitas Hainan mengunjungi Indonesia untuk mendorong kerja sama secara aktif melalui Aliansi Universitas Kawasan Tropis.

Pada Juli lalu, delegasi ekonomi dan perdagangan Hainan mengunjungi Jakarta untuk menggelar dan menghadiri Simposium Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan China (Hainan)-Indonesia, dengan sektor pertanian menjadi salah satu bidang utama yang dibahas. Dalam beberapa tahun terakhir, CATAS juga telah menjalin kerja sama dengan Universitas Brawijaya di Indonesia untuk melakukan penelitian bersama mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman tropis.

Sebagai tanaman yang telah lama digunakan di Indonesia untuk keperluan pangan dan obat-obatan, perkembangan industri pandan di Hainan menjadi gambaran nyata pertukaran serta pembelajaran bersama antara kedua negara di bidang pertanian tropis.
Perjalanan daun pandan melintasi laut merupakan kisah nyata tentang pewarisan budaya masyarakat China perantauan, sekaligus menjadi kekuatan inovasi ilmiah dan dukungan kebijakan. Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang terjalin melalui selembar daun hijau sederhana ini pun terus berjalan semakin erat.[]


Penulis : Desty Efriyani


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Forum Bisnis BRICS 2026 Digelar di New Delhi
Xi Jinping dan Prabowo Hadiri KTT BRICS
35 Tewas dan 54 Hilang akibat Kebakaran Kapal di Filipina
Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata
Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris
PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik
Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South
IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 21:23 WIB

Forum Bisnis BRICS 2026 Digelar di New Delhi

Sabtu, 12 September 2026 - 21:03 WIB

Xi Jinping dan Prabowo Hadiri KTT BRICS

Sabtu, 12 September 2026 - 20:53 WIB

35 Tewas dan 54 Hilang akibat Kebakaran Kapal di Filipina

Sabtu, 12 September 2026 - 11:17 WIB

Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata

Sabtu, 12 September 2026 - 04:19 WIB

Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris

Berita Terbaru

Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar

#indonesiaswasembada

Forum Bisnis BRICS 2026 Digelar di New Delhi

Sabtu, 12 Sep 2026 - 21:23 WIB

Prabowo-Xi Jinping

#indonesiaswasembada

Xi Jinping dan Prabowo Hadiri KTT BRICS

Sabtu, 12 Sep 2026 - 21:03 WIB

Kapal Filipinan yang terbakar [NHK]

#indonesiaswasembada

35 Tewas dan 54 Hilang akibat Kebakaran Kapal di Filipina

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:53 WIB