Mantan Pegawai PT Wahana Raharja dan LEB Adukan Nasib ke DPRD Lampung

Senin, 8 Juni 2026 | 17:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDARLAMUNG—Direktur LBH Bandar Lampung Prabowo Pamungkas bersama mantan pegawai Wahana Raharja mengadu ke DPRD Lampung/Faiza

Article Header ImagePuluhan tahun mengabdi di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), sejumlah pegawai PT Wahana Raharja dan PT Lampung Energi Berjaya (LEB) kini hanya bisa menunggu kepastian hak mereka yang tak kunjung dibayarkan.

Bahkan, salah seorang pegawai PT LEB meninggal dunia sebelum sempat menerima haknya.

Kisah para pekerja itu terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPRD Lampung bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung serta sejumlah mantan pegawai PT Wahana Raharja, Senin 8 Juni 2026.

Direktur LBH Bandar Lampung, Prabowo Pamungkas, hadir mendampingi tujuh mantan pegawai PT Wahana Raharja yang hingga kini masih menunggu pembayaran hak-hak mereka.

Menurut Prabowo, berdasarkan putusan Pengadilan Hubungan Industrial Nomor 16/Pdt.Sus-PHI/2024/PN Tjk tertanggal 18 Desember 2024 yang telah berkekuatan hukum tetap dan diperkuat melalui putusan Mahkamah Agung Nomor 497 K/PDT.SUS-PHI/2025 tertanggal 30 April 2025, PT Wahana Raharja wajib membayarkan hak para pekerja.

“Kami sudah hampir empat tahun meminta hak sebagai pekerja dapat dibayarkan. Hingga kasasi dan putusan berkekuatan tetap bahwa pengadilan menyatakan pekerja ini berhak mendapatkan pesangon dan haknya,” kata Prabowo.

Ia menjelaskan, total kewajiban yang harus dibayarkan PT Wahana Raharja kepada tujuh pekerja tersebut mencapai Rp326 juta.

Baca Juga:  Peringati Hari Bhayangkara Ke 80 Tahun 2026, Polres Mesuji Gelar Doa Bersama Lintas Agama

“Alasan belum dibayarkan karena perusahaan tidak bisa membayar,” sambungnya.

Hak Pegawai PT LEB belum dibayar hingga meninggal

Nasib yang lebih memilukan dialami mantan pegawai PT LEB. Salah seorang pekerja bahkan meninggal dunia sebelum hak-haknya ditunaikan perusahaan.

“PT LEB diwakili ahli waris karena yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Berdasarkan penghitungan yang kami coba dengan PP 35, terdapat 281 juta untuk satu orang. Gajinya 100 juta, pesangon 144,7 juta dan penghargaan masa kerja 28 juta,” kata Prabowo.

Meski perkara pegawai PT LEB belum masuk ke pengadilan, LBH menyebut mereka telah mengantongi rekomendasi dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung.

“Dinas Tenaga Kerja juga berpendapat ini adalah hak yang harus ditunaikan,” tegasnya.

Menurut Prabowo, alasan yang diterima pihaknya terkait belum dibayarkannya hak pegawai PT LEB karena pimpinan perusahaan tengah menghadapi persoalan hukum.

LBH Bandar Lampung berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Sebab, kasus ini menunjukkan buruknya pengelolaan BUMD yang berdampak langsung terhadap para pekerja.

“Kami mendapatkan informasi masih banyak hak pekerja yang tertunggak,” ujarnya.

Menanti Hak Dibayarkan

Di hadapan anggota dewan, mantan pegawai PT Wahana Raharja, Yulina, tak kuasa menyembunyikan kekecewaannya. Perempuan yang telah mengabdi selama 28 tahun itu mengaku terpaksa mengundurkan diri setelah empat bulan tidak menerima gaji.

Baca Juga:  Heboh, Kemunculan Satwa Dilindungi Tapir di Kawasan Register 45 Mesuji

“Kami resign karena tidak digaji selama 4 bulan dan banyak hak kami yang tidak dibayarkan. Saya 2 tahun lagi pensiun. Karena mengundurkan diri, jadi saya tidak mendapatkan hak yang seharusnya kami dapatkan. Tapi masih ada hak yang bisa didapatkan, itu pun tidak dibayarkan,” ujarnya.

Menurut Yulina, setelah dirinya keluar, perusahaan justru masih merekrut pegawai baru. Karena itu, ia menilai alasan perusahaan yang mengaku tidak memiliki keuntungan tidak sepenuhnya dapat diterima.

“Kami berharap saat melepas aset itu hak kami bisa dibayar. Kami harap Gubernur ada sedikit perhatian dengan kami. Pegawai baru mungkin sudah selesai gajinya. Kami sudah tidak ada kepercayaan dengan Wahana,” katanya.

Cerita serupa disampaikan Yulianti. Selama 20 tahun bekerja di perusahaan tersebut, ia menjadi tulang punggung keluarga dan membesarkan anak-anaknya seorang diri.

“Saya single parent. Masa anak saya harus berhenti kuliah. Satu-satunya harapan saya adalah uang itu untuk modal menyambung hidup diri saya dan anak-anak,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca


Penulis : Desty Efriyani


Editor : Nara


Sumber Berita : DPRD Lampung

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Wagub Jihan: Kejuaraan Renang Piala Kemenpora Jadi Ajang Cetak Atlet Berkarakter dan Berprestasi
Wagub Lampung Dampingi Pendataan Sensus Ekonomi 2026, Ajak Masyarakat Dukung Data Berkualitas
Naik Damri Menuju Tiongkok
Kadis Kominfo Tanggamus Teken Kerja Sama Sertifikat Elektronik dengan BSSN, Tanggamus Jadi Pemanfaat TTE Tertinggi dari 21 Daerah
Wabup Tanggamus Pimpin Penertiban Pasar Gisting, Pedagang Hamparan Mulai Tertib Masuk Area Pasar
Batin Wulan Ikuti Puncak HUT Ke-46 Dekranas, Dekranasda Lampung Pamerkan Produk Unggulan
Krisis Daftar Ulang Calon Mahasiswa Baru: Bukti Lemahnya Tata Kelola Kementerian Pendidikan
Ketum JMSI: Jurnalisme Bukan Sekadar “Pemadam Kebakaran”

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 15:53 WIB

Wagub Jihan: Kejuaraan Renang Piala Kemenpora Jadi Ajang Cetak Atlet Berkarakter dan Berprestasi

Sabtu, 11 Juli 2026 - 15:49 WIB

Wagub Lampung Dampingi Pendataan Sensus Ekonomi 2026, Ajak Masyarakat Dukung Data Berkualitas

Sabtu, 11 Juli 2026 - 14:54 WIB

Naik Damri Menuju Tiongkok

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:39 WIB

Kadis Kominfo Tanggamus Teken Kerja Sama Sertifikat Elektronik dengan BSSN, Tanggamus Jadi Pemanfaat TTE Tertinggi dari 21 Daerah

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:37 WIB

Wabup Tanggamus Pimpin Penertiban Pasar Gisting, Pedagang Hamparan Mulai Tertib Masuk Area Pasar

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Naik Damri Menuju Tiongkok

Sabtu, 11 Jul 2026 - 14:54 WIB