LAYAR sinema karya anak-anak muda Bumi Ruwa Jurai kembali bergetar membawa pesan mendalam. Lewat film bertajuk “Ageman”, penonton diajak menyelami lorong-lorong kelam radikalisme, luka perundungan (bullying), hingga pentingnya memahami esensi beragama di tengah keberagaman Indonesia.
Film Ageman yang di sutradarai oleh Jasper Lance dan di produseri langsung oleh Ken Setiawan secara harfiah diserap dari bahasa Jawa, Sunda, dan Bali yang merujuk pada pakaian, pedoman, atau keyakinan. Filosofi ini memposisikan identitas suku, agama, ras, dan budaya sebagai amanah yang melekat sejak lahir sebuah anugerah untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk memelihara kebencian.
Sutradara film “Ageman”, Jasper Lance, mengungkapkan bahwa alur cerita film ini terinspirasi dari potret nyata transformasi hidup Ken Setiawan, mantan aktivis gerakan radikal yang kini mengabdikan hidupnya mendirikan NII Crisis Center dan menjabat sebagai Kabid Pemuda dan Pendidikan FKPT Lampung demi membumikan moderasi beragama.
“Melalui transformasi hidup Ken Setiawan, film ini diharapkan mampu menjadi cermin jernih yang memberikan pemahaman mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat,” tutur Jasper.
Gagasan mengangkat isu ini berawal dari keikutsertaan Jasper dalam berbagai diskusi dan talk show yang menghadirkan Ken Setiawan di sekolah, kampus, hingga lembaga keagamaan. Dari sana, ia menyadari satu hal pahit: intoleransi, radikalisme, dan perundungan bukanlah isapan jempol, melainkan realitas yang nyata dan masif. Keprihatinan Jasper kian menebal saat mencermati data resmi.
Pada November 2025, Divisi Humas Polri merilis ada 110 anak usia 10–18 tahun di 23 provinsi yang teridentifikasi direkrut jaringan terorisme.Tak berselang lama, pada Januari 2026, Densus 88 kembali menemukan 70 anak terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui komunitas media sosial True Crime Community (TCC). Menurut Jasper, kasus intoleransi dan perundungan sering kali menjadi pintu masuk kerentanan seseorang terhadap ajaran ekstremisme.
“Intoleransi dan radikalisme adalah fenomena kompleks. Ada faktor manipulasi ideologi agama, namun ada pula faktor psikologis-sosial seperti bullying dan kondisi keluarga yang retak (broken home),” ungkapnya.
Jasper menjelaskan bahwa perundungan dan luka emosional menciptakan krisis harga diri serta rasa terisolasi pada remaja. Di saat kondisi mental anak muda dalam keadaan rapuh, kelompok radikal hadir memanfaatkan celah tersebut dengan menawarkan “penerimaan” dan janji instan “jalan pintas menuju surga” melalui pembacaan kitab secara sepotong-sepotong. Melalui film “Ageman”, Jasper juga menyampaikan renungan mendalam mengenai batas tipis antara fanatisme kelompok dan ketulusan
“Ketika seseorang terlalu mencintai agamanya secara berlebihan hingga terjebak fanatisme, ia cenderung membenci kelompok lain karena fokusnya telah bergeser dari kebenaran menjadi ego kelompok. Agama hanya dijadikan benteng pemisah dan alat merasa lebih suci,” paparnya.
Sebaliknya, lanjut Jasper, ketika seseorang sungguh-sungguh mencintai Tuhannya, cinta itu tidak akan melahirkan kebencian melainkan ketulusan untuk mengasihi seluruh ciptaan-Nya.
“Sebab, ia menyadari setiap manusia yang ditemui apa pun warna kulit dan cara berdoanya adalah mahakarya dari Tuhan yang sama. Mencintai Sang Pelukis berarti menghargai setiap goresan kanvas-Nya,” pungkas Jasper penuh makna.
Sementara itu, Eksekutif Produser Film “Ageman” sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap pesan inklusif dalam karya ini mampu mengetuk pintu hati masyarakat luas.
“Film ini menjadi momentum agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan di tengah perbedaan, sehingga Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi intoleransi maupun radikalisme,” tutup Firsada.[]
Penulis : Romy Agus
Editor : Rudi Alfian
Sumber Berita : Lampung
















