TIONGKOK-Penjualan teh dari China ke Myanmar dan Laos merupakan bagian dari Jalur Teh-Kuda Kuno (Ancient Tea-Horse Road atau Chamagudao), yang sering disebut sebagai jalur cabang dari Jalur Sutra Selatan/Barat Daya.
Dari pusat perkebunan teh di Provinsi Yunnan (seperti Pu’er dan Xishuangbanna), kafilah membawa teh melintasi perbatasan darat dan sungai menuju Asia Tenggara.
Kota Kunming, Pu’er (Simao), dan Xishuangbanna di Provinsi Yunnan menjadi titik awal keberangkatan kafilah penunggang keledai/kuda.
Karavan bergerak ke selatan melalui Mengla, melintasi wilayah perbatasan menuju Boten di Laos, lalu mendistribusikan teh sambil menukar komoditas lokal seperti garam batu.
Sementara cabang rute barat membentang dari Yunnan melewati daerah seperti Baoshan dan Lincang menuju kota-kota perdagangan di Negara Bagian Shan dan Mandalay di Myanmar.
Barter Komoditas
Teh Tiongkok (terutama teh hitam dan teh terkompresi/Pu’er) ditukar dengan rempah, hasil bumi, dan barang logam dari Asia Tenggara.
Seiring waktu, rute perdagangan kuno ini kini digantikan oleh infrastruktur modern seperti jalur darat, sungai Lancang-Mekong, serta jaringan rel kecepatan tinggi seperti Kereta Api China-Laos yang menghubungkan Mohan (China) dan Boten (Laos).
Kini, wilayah perbatasan dan pelabuhan darat di Yunnan berfungsi sebagai gerbang utama distribusi logistik dan komoditas antara China dan daratan Asia Tenggara.
Dibalik cerita ini, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, Tiongkok mampu mengungkap sejarah tempo dulu menjadi branding wisata.
Jalur sutra bisnis tempo dulu Tiongkok ini memaksa delegasi Indonesia untuk melihat seperti apa Ancient Tea-Horse Road atau Chamagudao. Analisa sederhana saya; kecintaan sejarah leluhur, dinarasikan sungguh-sungguh, terpadu saya yakin mendunia. Ditambah konsistensi dan semangat bersama nasional dan daerah.
Ini termasuk museum Ceng Ho yang terkenal itu. Terpelihara dan terus digaungkan. Mengagungkan leluhur dan mendapatkan keuntungan.
Bagaimana Lampung?
Sedemikian kah Indonesia? Apalagi Lampung? Saya sependapat dengan Ko Jimy. Sahabatnya sahabat saya Anton Kurniawan, yang kini menjadi Sekretaris JMSI Lampung. Orang Lampung (anak muda Lampung) jauh dari “mengenal” apalagi kagum dan bangga dengan sejarahnya. Padahal, di Cina, yang baru saja saya datangi, sangat memuliakan leluhur dan budaya tempo dulu.
Saya bangga dengan Kepemimpinan Mirza-Jihan soal Kamis Beradat. Harus didukung dan harus di kuatkan.
Soal mendatangkan uang dari sektor wisata, Lampung boleh lah mencontoh Tulangbawang Barat. Era kepemimpinan Umar, saya nilai sudah mendekat ala ala Tiongkok. Berani saya katakan, Tulangbawang, Mesuji dan daerah berbatasan lainnya sangat ketinggalan ketimbang Tulangbawang Barat.
Tulang Bawang Barat (Tubaba) jauh lebih maju dan menonjol dibanding Kabupaten Tulang Bawang (Tuba) dan Mesuji. Tubaba sukses membangun identitas daerah melalui konsep arsitektur modern yang sarat nilai filosofis dan budaya, menjadikannya tujuan wisata populer di Lampung.
Tulang Bawang Barat (Tubaba) sedikit demikit membangun landmark ikonik berarsitektur megah dan unik seperti Islamic Center Tulang Bawang Barat, Tugu Rato Nago Besanding, Tugu Empat Marga (Megou Pak), kawasan wisata ekologis Uluan Nughik, dan Taman Umbul Kapuk.
Keberanian Umar Ahmad patut di acungkan jempol. Beliau mampu mengangkat kemulian empat marga, kreatif, penataan ruang yang lumayan apik. Tinggal poles lebih sedikit dengan narasi menggigit, saya yakin Tuba Barat akan lebih dikenal di dunia luar.
Padahal, Lampung Barat, Pesisir Barat, Pesawaran dan daerah lainnya tak kalah eksotik ketimbang Tulang Bawang Barat. Dan saya yakin, Tuhan melukis ciptaan NYA dengan kelemahan dan kelebihan nya masing-masing.
Bagi mereka yang mampu melihat dengan baik, Insyaallah decak kagum serta syukur akan selalu di ucapkan manakala keindahan itu tersaji. Dan saya yakin, Lampung mampu menghadirkan kekaguman lain diluar Hainan dan Yunan Tiongkok. Tabik.
Penulis : Ahmad Novriwan
Editor : Romy
Sumber Berita : Tiongkok


![Peta Jalan Jual Beli Tiongkok ke Myanmar dan Laos [AN]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-20-at-13.18.10-800x600.jpeg)

![Gubernur Mirza di DPRD Provinsi Lampung saat Sidang Paripurna APBD. Pemprov yakinkan APBD berbasis kesejahteraan masyarakat [Na]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/07/Mirza-di-DPRD-Provinsi-Lampung-225x129.jpg)
![Lionel Messi harus menerima pil pahit dari Spanyol [Xin]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/07/Lionel-Messi-harus-menerima-pil-pahit-dari-Spanyol--225x129.jpg)




![Gubernur Mirza di DPRD Provinsi Lampung saat Sidang Paripurna APBD. Pemprov yakinkan APBD berbasis kesejahteraan masyarakat [Na]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/07/Mirza-di-DPRD-Provinsi-Lampung-129x85.jpg)
![Lionel Messi harus menerima pil pahit dari Spanyol [Xin]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/07/Lionel-Messi-harus-menerima-pil-pahit-dari-Spanyol--129x85.jpg)





