TEHERAN-Komando militer utama Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, pada Minggu (20/9) memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat (AS) dan negara-negara tertentu di Timur Tengah melakukan kesalahan apa pun, mereka akan menjadi target serangan yang “menyakitkan.”
Markas besar itu mengatakan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media Iran bahwa pihaknya memiliki informasi intelijen yang menunjukkan bahwa Washington telah memutuskan dalam sebuah pertemuan baru-baru ini di Eropa untuk kembali melancarkan tindakan terhadap Teheran dengan dukungan dari negara-negara tertentu di kawasan tersebut.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa jika AS melakukan kesalahan apa pun terhadap Iran, seluruh pangkalan dan kepentingan AS di kawasan tersebut akan menjadi sasaran “serangan yang berkelanjutan, efektif, dan menyakitkan tanpa batasan atau syarat apa pun.”
Markas besar itu juga memperingatkan bahwa jika negara-negara regional terus menerapkan apa yang disebutnya sebagai kebijakan berstandar ganda terhadap Iran dan bersekutu dengan “agresi” AS, mereka “tidak dapat lagi mengharapkan pengendalian atau sikap menahan diri dari angkatan bersenjata Iran yang kuat.”
Peringatan itu muncul setelah dilaporkan adanya pertemuan di Jerman antara para komandan militer tertinggi dari AS, Israel, dan beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Mesir, untuk membahas perang dengan Iran dan ketegangan regional.
Mengutip dua pejabat Israel, outlet berita AS Axios melaporkan pada Selasa (15/9) bahwa Kepala Komando Pusat (CENTCOM) AS Brad Cooper, yang memimpin pertemuan tersebut, meyakinkan kelompok itu bahwa “militer AS tidak akan menarik diri dari kawasan tersebut meski terjadi serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS.” Cooper juga memberi penjelasan kepada mereka mengenai rencana-rencana untuk meningkatkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Pada Minggu yang sama, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan tidak akan ada peluang untuk kembali ke tahap negosiasi sebelumnya mengenai penghentian perang di kawasan itu atau pembukaan kembali Selat Hormuz, kecuali jika Washington memenuhi persyaratan Teheran, mengakui hak-hak “sah” bangsa Iran, dan memenuhi kewajibannya.
Qalibaf mengatakan bahwa persyaratan Teheran telah disampaikan kepada Washington melalui para mediator.
Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai penghentian perang di kawasan tersebut di semua front, termasuk Lebanon. Berdasarkan MoU itu, kedua pihak dijadwalkan mengadakan negosiasi dalam waktu 60 hari, dengan tenggat waktu pada 17 Agustus, untuk mencapai kesepakatan final, namun nasib perundingan tersebut masih belum jelas di tengah eskalasi yang terjadi belakangan ini.
Menyusul serangan AS-Israel, Teheran membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz, sementara pasukan AS memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju atau dari pelabuhan-pelabuhan Iran.[]
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Jakarta







![WARGA Iran sumpah setia dengan pemimpinn barunya, Mojtaba Khamenei, di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran. [Xin]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/08/Iran-Mosad-225x129.jpg)

![Zhao Leji, ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPC) Tiongkok, bertemu dengan Ahmad Muzani, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Indonesia, di Beijing, ibu kota Tiongkok, pada 20 September 2026. [Xinhua]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/09/Muzani-225x129.jpg)



![WARGA Iran sumpah setia dengan pemimpinn barunya, Mojtaba Khamenei, di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran. [Xin]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/08/Iran-Mosad-129x85.jpg)


