BANDARLAMPUNG- Di sebuah gang sempit di Pasir Gintung, Kota Bandar Lampung, botol plastik dan kantong kresek pernah menjadi pemandangan yang nyaris tak dipersoalkan. Ia hadir setiap hari terselip di selokan, menggantung di pagar rumah, atau menumpuk di sudut jalan menyatu dengan rutinitas warga kota. Sampah seolah menjadi bagian dari keseharian. Ia dibuang, ditinggalkan, lalu dilupakan.
Hingga suatu pagi, sekelompok mahasiswa menyusuri gang itu dengan membawa karung, poster edukasi, dan catatan kecil. Mereka tidak hanya membawa sapu dan kantong sampah, tetapi juga pertanyaan tentang mengapa sampah dibiarkan begitu saja dan mengapa persoalan itu jarang dipikirkan dan dicarikan solusinya. Mereka adalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Raden Intan Lampung, yang menjadikan sampah sebagai pintu masuk perubahan sosial. Bagi mereka, persoalan lingkungan bukan semata soal kebersihan fisik, melainkan cara manusia memperlakukan ruang hidupnya sendiri.

Sampah yang Dinormalisasi
Dari pengamatan lapangan selama KKN, para mahasiswa menemukan satu persoalan mendasar: sampah telah dinormalisasi. Ia dibuang tanpa dipilah, bercampur antara organik dan anorganik, lalu dianggap selesai ketika sudah keluar dari rumah. “Kami melihat sampah bukan lagi dianggap masalah,” ujar Barryzka Putra Aprilliyanto, salah satu mahasiswa KKN, Jumat (18/7/2025). “Ketika sesuatu dianggap biasa, orang berhenti mempersoalkannya.”
Normalisasi ini, menurut mahasiswa, bukan semata karena ketidakpedulian, melainkan karena minimnya ruang dialog tentang dampak jangka panjang kebiasaan membuang sampah. Pandangan tersebut diperkuat oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UIN Raden Intan Lampung, Fathul Mu’in, yang menilai persoalan sampah perkotaan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan seremonial. Sang dosen juga memotivasi mahasiswa untuk tidak malu dan risih membersihkan sungai-sungai di Pasir Gintung bak pandawaragroup.
“KKN ini tidak kami arahkan hanya pada kegiatan bersih-bersih,” kata Fathul Mu’in. “Mahasiswa didorong untuk membangun kesadaran dan sistem berpikir masyarakat, karena di situlah perubahan jangka panjang bisa terjadi.”
Upaya kecil di Pasir Gintung itu menjadi semakin relevan ketika diletakkan dalam konteks kota secara keseluruhan. Jumlah sampah di Kota Bandar Lampung terus meningkat dari tahun ke tahun. Volume sampah harian mencapai sekitar 770 ton per hari. Sebagian besar sampah tersebut berasal dari rumah tangga dan aktivitas pasar. Angka itu menggambarkan beban besar yang harus ditangani pemerintah kota. Dalam situasi demikian, pendekatan struktural semata tidak cukup. Perubahan perilaku di tingkat masyarakat menjadi kunci, dan di sinilah peran komunitas termasuk mahasiswa menjadi penting. Kreativitas mahasiswa KKN UIN Raden Intan Lampung, yang menyasar kesadaran warga dari lingkup paling kecil, dinilai sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam menekan laju timbulan sampah dari sumbernya.

3R sebagai Jalan Tengah
Berangkat dari kesadaran tersebut, mahasiswa KKN memilih pendekatan 3R, yakni Reduce, Reuse, Recycle. Konsep ini tidak mereka hadirkan sebagai jargon teknis, melainkan diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari warga. Reduce diperkenalkan melalui ajakan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Reuse dikenalkan lewat pemanfaatan ulang barang rumah tangga yang masih layak. Sementara Recycle disampaikan sebagai peluang pengelolaan, bukan sekadar urusan membuang sampah.
Pendekatan ini dilakukan melalui diskusi informal, edukasi lingkungan, serta praktik langsung bersama warga dan anak-anak. Mahasiswa lebih banyak berdialog dan memberi contoh ketimbang memberi instruksi. “Mahasiswa tidak datang menggurui,” kata Lurah Pasir Gintung, Ekopurwanti. “Mereka berdialog, mendengar, lalu mengajak. Itu yang membuat warga mau terlibat.”
Langkah kecil yang meninggalkan jejak hingga kini adalah pemasangan plang edukasi tentang sampah di sejumlah titik strategis, termasuk di lingkungan sekolah dan ruang publik. Plang tersebut memuat informasi sederhana tentang waktu terurai sampah plastik dan dampaknya bagi lingkungan. Bukan larangan keras, melainkan pesan yang mengajak orang berhenti sejenak dan berpikir.
Plang-plang itu perlahan membentuk ingatan kolektif. Anak-anak membaca, bertanya, lalu membawa percakapan itu ke rumah. “Sampai sekarang plangnya masih ada,” ujar seorang warga, Ahmad. “Anak-anak sering baca, dan itu jadi bahan obrolan.” Keberadaan plang edukasi tersebut memberi efek jangka panjang. Anak-anak menjadi lebih kritis, sementara orang tua mulai lebih berhati-hati dalam membuang sampah.

Dampak yang Masih Bertahan
Meski masa KKN telah berakhir, sejumlah dampak program masih dirasakan. Sebagian warga mulai terbiasa memilah sampah rumah tangga, beberapa titik lingkungan tetap dijaga kebersihannya, dan edukasi 3R masih diteruskan oleh kader lingkungan setempat. “Kami melihat ada perubahan perilaku, meski kecil,” ujar lurah. “Tapi perubahan kecil yang konsisten itu penting.”
Hal senada disampaikan dosen pembimbing lapangan. Menurutnya, keberhasilan KKN tidak selalu diukur dari skala program, melainkan dari apakah nilai yang ditanamkan masih hidup setelah mahasiswa pulang. “Di Pasir Gintung, kami melihat itu,” kata Fathul Mu’in, Jumat, (10/10/2025). “Kesadaran lingkungan mulai tumbuh, dan itu modal sosial yang besar.”
Program pengelolaan sampah berbasis 3R ini dijalankan oleh KKN Kelompok 92 Kelurahan Pasir Gintung, yang terdiri dari 18 mahasiswa lintas disiplin. Mereka berasal dari beragam program studi, mulai dari Sejarah Peradaban Islam, Ekonomi, Ekonomi Syariah, Manajemen Bisnis Syariah, Perbankan Syariah, Akuntansi Syariah, Hukum Tatanegara, Hukum Ekonomi Syariah, Hukum Keluarga, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, hingga Psikologi Islam.
Kelompok ini diisi oleh Yanti Sari, Alwiyan Nurholis, Zidane Despriansena, Muhamad Fahri Arisandi, Ika Ariyani, Ike Nursella, Tamara Syahrani, Nabila Ahdania Widani, Nadya Zuleika, Renita Agustina, Resta Daulia, Ayesa Hanindra Hutasuhut, Ayu Apri Lestari, Barryzka Putra Aprilliyanto, M. Raihan Akbar, Erick Bahagya, Jalu Ananta, dan Lusiana Hidayah. Keragaman latar belakang keilmuan tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun pendekatan yang tidak hanya teknis, tetapi juga sosial, edukatif, dan kultural.
Apa yang dilakukan mahasiswa UIN Raden Intan Lampung di Pasir Gintung mungkin tampak sederhana dalam skala kota. Namun justru di situlah kekuatannya. Perubahan lingkungan sering kali bermula dari interaksi kecil yang berulang, bukan semata dari kebijakan besar. Di gang-gang sempit itu, sampah kini tak lagi sepenuhnya dipandang sebagai hal sepele. Ia menjadi pengingat bahwa kota dibentuk bukan hanya oleh infrastruktur, tetapi juga oleh kesadaran warganya. Dan dari tangan-tangan muda mahasiswa, kesadaran itu telah ditanam dan masih tumbuh hingga hari ini.[]
Penulis : Desty Efriyani
Editor : Ahmad Novriwan
Sumber Berita : Lampung
*Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.















