BERBAGI

Laporan : Vona/CJ
BANDARLAMPUNG – Sabtu (19/1) ini, perbincangan publik seluruh lapisan strata sosial masih hangat, mulai komentar pedas bikin naik tensi dan adu urat, hingga adu senyum antar relawan beda jagoan meski saling silang pendapat, terangkum bak kepingan postulat.

Sejurus, tanpa sadar upaya kreatif banyak orang merekam digital jalannya proses penting Debat Pertama Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2019 bertema Hukum, HAM, Korupsi dan Terorisme, di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (17/1) justru larut jadi rekam digital itu sendiri.

Aksi nonton bareng (nobar) seantero negeri, atas presisi debat kandidat sebagai salah satu metode kampanye pemilu modern, turut memperkaya ‘ghirah elektoral’ yang diyakini KPU dapat meningkatkan besaran 77,5 persen target partisipasi politik dari sekitar 193 juta pemilih Pemilu 2019.

BACA JUGA  Generasi Milenial Harus Paham Wawasan Kebangsaan

Sekian banyak rekam digital nobar tercatat, pilihan redaksi jatuh pada suara anak muda satu ini, yang membuat kening berkernyit sesaat, lantaran sorotan isu seksi yang jadi daya pikatnya cermati usai debat.

Deradikalisasi. Temanya agak berat, ‘Dilan pun takkan kuat, biar dia saja’, mewakili suara ketat, unsur pemilih muda, pemilih pemula yang dengan rentang usianya, kadang masih suka ambil nekat.

BACA JUGA  Generasi Milenial Perlu Dibekali Nilai Kebangsaan

Dialah Thadaru Yusra Purnama, Ketua Bravo 5 Milenial Lampung, organ sayap Bravo 5. Akrab disapa Daru, yang Kamis (17/1) lalu sukses mengorganisir nobar debat perdana pilpres yang dihelat Bravo 5 Lampung, di sekretariatnya, Gedung Darmapala.

Nama bangunan dua lantai di Jalan Pagar Alam 61 (Gang PU), Kedaton, Bandarlampung, yang diambil dari nama LBH Darmapala besutan mendiang Alfian Husin –pendiri Yayasan Alfian Husin, yang kini sekaligus jadi markas pemenangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here