BERBAGI
Ketua Yayasan Umitra Andi Surya dan Rektor Umitra Reni Madrie-Net

Laporan: Vona/Heri
JAKARTA-Universitas MITRA Indonesia, santuni anak-anak usia sekolah korban tsunami di tiga pos bantuan kecamatan Kalianda dan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (11/1).

Santunan dalam wujud peralatan sekolah dan buku tulis. Selain itu, aneka makanan anak-anak. Bantuan dari Dr. H. Andi Surya selaku Ketua Yayasan Mitra Lampung yang menaungi Universitas Mitra Indonesia diserahkan langsung oleh Tim Umitra Peduli.

“Trauma Healing menjadi fokus bantuan kami agar anak-anak kembali ceria dan optimis
menghadapi hari-hari yang dirasa sulit namun tetap semangat menata masa depan”.
Sebutnya.

Dr. Hj. Armalia Reny Madrie AS, MM, Rektor Umitra Indonesia mengatakan bantuan ini
merupakan salah satu pengejawantahan dari terapi trauma healing.

“Anak-anak merupakan bagian dari generasi masa yang akan datang, jangan sampai bencana dan musibah itu mengganggu konsentrasi belajar dan mengajar mereka,” ujar Bunda Reny liwat rilis yang disampaikan Andy kepada lintaslampung.

Lalai Urus Anaknya

Dibalik aktivitas sosial yang dilakukan Yayasan Umitra liwat Andi Surya dan Reni, selaku owners, fakta lain menyatakan semua yang dilakukan kamuflase belaka.

BACA JUGA  Ini Penyebab Pemadaman Listrik Di Sebagian Wilayah Lampung Semalam 

Ternyata, salah satu korban tsunami Lampung-Banten, (alm) Pernanda merupakan ‘anaknya’ (baca;mahasiswa-red) Yayasan Umitra yang ikut menjadi korban tsunami Kalianda. Nanda (panggilan alm) bersama adiknya Putri menjadi korban keganasan tsunami di Laguna Helau.

Melalui salah satu keluarga korban, Yayasan Umitra hingga kini belum juga memperlihatkan empati dan simpatinya kepada keluarga besar Nanda.

“Baru disuruh ngisi berkas-berkas untuk ngurus asuransi,”ujar keluarga korban yang
enggan dituliskan namanya. “Alhamdulillah belum tu diterima dari Yayasan,”kata keluarga korban.

BACA JUGA  10 Bus Trans Bandar Lampung Mulai Beroperasi

“Setelah meminta KTP, keterangan kematian dan lain-lain, hingga kini belum follow up nya,”imbuh keluarga alm. Naifnya, baru karangan bunga besar dan panjang saja yang sempat singgah dan terpampang di halaman muka rumah korban. “Kalau karangan bunga itu menjadi sebuah bentuk simpati atau empati, ya baru itu. Yang lain belum,”kata keluarga korban lagi.

“Ini kan namanya pencitraan. Agar dipilih kembali menjadi anggota DPD RI untuk kali
kedua. Mana sisi kamanusiaan yang diperjuangkan dan jeritkan bos Yayasan Umitra selama ini?  Bohong semua itu,”ujar pihak keluarga.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi lintaslampung masih menunggu konfirmasi baik dari
Ketua Yayasan maupun Rektor Umitra Lampung.[*]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here