Laporan: Putri Nova

LAMPUNG TIMUR– Petani asal Lampung Timur mulai mengembangkan jenis jeruk impor asal Jepang yang disebut  Jeruk Dekopon.

Jeruk tersebut mulai dikembangkan sejak tahun 2018 lalu. Jeruk dekopon memiliki sedikit perbedaan dengan jeruk-jeruk lainnya yang sering beredar di pasaran.

Jeruk dekopon memiliki ukuran lebih besar jika dibandingkan dengan jeruk lokal. Kulitnya pun lebih tebal, dagingnya tidak memiliki biji, dan bentuknya selintas mirip dengan buah pir.

Salah seorang petani yang mengembangkan jeruk dekopon adalah Ngatimin. Ia mengaku mulai menanam jeruk tersebut sejak pertengahan 2018 lalu. Jeruk yang baru menghasilkan panen sekali ini ditanam di atas kebun seluas 500 meter persegi lebih.

“Saya mulai tanam sejak tahun 2018 lalu setelah 5 bulan buahnya baru ada. Awal mulanya saya tanam sekitar 50 batang, lalu saya tambahkan hingga saat ini berjumlah 100 batang pohon. Setelah lebaran tahun ini, baru 2 tahun sejak mulai tanam pohon jeruk dekopon,” Terang bapak usia 70 tahun itu.

BACA JUGA  Kemah Bersama Peringati HUT Pramuka

“Tapi ya minat pembeli disini kurang sih, apalagi harga perkilonya yang lumayan mahal dan hanya dapat 1 buah,” keluhnya.

Hal itu disebabkan masih asingnya jenis buah impor ini di kalangan masyarakat Lampung Timur. Jeruk ini memang sudah ramai di jumpai di daerah Jawa, namun di daerah Lampung sendiri masih jarang diketahui.

Akan tetapi Jeruk asal negeri Sakura ini memiliki beberapa kelebihan, seperti lebih kaya vitamin C. Bentuknya pun lebih besar dan rasanya lebih segar. Selain ukurannya yang berbeda dengan jeruk lokal, dekopon memiliki ciri khas, yakni benjolan kecil di bagian atas jeruk.

Dengan perawatan yang cenderung mudah dan minim biaya, jeruk dekopon memang dapat menjadi primadona baru bagi dunia pertanian Indonesia.

BACA JUGA  Kreativitas Seni SMAN SAGA nan Rancak

Di negeri asalnya sendiri jeruk dekopon tergolong buah yang cukup mahal. Harganya berkisar 800 yen atau sekitar 80.000 Rupiah per buah.

Dengan produktivitas per pohon mencapai 15-25 kilogram, jeruk dekopon merupakan potensi yang dapat terus dikembangkan agar lebih maksimal.

Di kebunnya yang lain, Ngatimin juga mengembangkan jeruk BW yang memiliki rasa unik yakni asam dan segar. Setiap tahun, Ngatimin dan keluarga membuka kebun jeruk BW secara umum. Warga yang ingin membeli bisa langsung memetik di kebun lalu menimbangnya.

Saat ditanya apakah kebun jeruk dekopon miliknya juga akan di buka secara umum saat panen, ngatimin mengaku belum berencana ke sana.

“Belum tau juga, nih. Kalau BW kan banyak tuh jumlah di tiap pohonnya. Wong, dekopon paling banyak ya 40 buah per pohon,” ujarnya. “Lihat besok dulu pas panen berikutnya yang kedua”.[*]

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here