PENGAMAT militer dan intelijen sekaligus pakar terorisme, Stanislaus Riyanta, memberikan dukungan penuh terhadap peluncuran film edukasi bertema toleransi dan keberagaman yang bertajuk Ageman.
Langkah sinematik ini dinilai sebagai terobosan krusial dan segar dalam memperkuat strategi kontra-radikalisasi, terutama bagi generasi muda.
Menurut Stanislaus, upaya pencegahan radikalisme dan terorisme tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan formal atau hukum semata. Diperlukan media yang dekat dan mampu menyentuh aspek psikologis masyarakat, khususnya para remaja yang rentan terhadap paparan ideologi kekerasan di media sosial.
“Intoleransi dan radikalisme adalah ancaman nyata yang kerap kali masuk melalui celah kerentanan sosial, seperti perundungan (bullying) serta minimnya ruang dialog di tengah masyarakat. Hadirnya film Ageman menjadi angin segar karena menggunakan pendekatan kreatif yang komunikatif untuk membentengi moral dan pikiran generasi muda kita,” ujar Stanislaus.
Ia menambahkan bahwa institusi pendidikan dan berbagai elemen masyarakat perlu memanfaatkan media visual seperti ini sebagai ruang diskusi. Dengan begitu, pemahaman tentang moderasi beragama dan indahnya keberagaman tidak lagi terasa kaku, melainkan menjadi refleksi yang mudah dipahami dalam kehidupan sehari-hari.
Film Ageman sendiri disutradarai oleh Jasper Lance dan diproduseri oleh eks aktivis gerakan radikal yang kini telah insaf, Ken Setiawan. Jalan ceritanya diadaptasi langsung dari kisah nyata transformasi perjalanan hidup Ken dari dunia radikalisme menuju komitmen kebangsaan dan moderasi beragama.
”Mas Ken itu sahabat saya, dan kita pernah study bareng di Yordania dan Israel. Jadi saya sangat mendukung ide berlian dan terobosan cara mengisi ruang kosong anak muda melalui film,” kata Stanislus.
Secara filosofis, judul Ageman (yang berarti pakaian atau keyakinan) membawa pesan mendalam bahwa perbedaan suku, ras, dan agama di Indonesia sejatinya adalah amanah lahiriah untuk saling mengenal dan melengkapi, bukan pemantik kebencian.
Melalui dukungan dari berbagai tokoh nasional dan pakar seperti Stanislaus Riyanta, film ini diharapkan dapat diputar secara luas melalui agenda nonton bareng (nobar) di lingkungan sekolah, universitas, hingga pondok pesantren di seluruh Indonesia guna mengumandangkan perdamaian dan merawat harmoni bangsa.[]
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Lampung
















