BERBAGI

Laporan : Heri Suroyo
YOGYAKARTA – Kekhawatiran penurunan nilai tukar rupiah dapat diimbangi jika UMKM dijadikan fokus penguatan sebagai pondasi perekonomian Indonesia.

Anggota DPD RI Dapil Yogyakarta GKR. Hemas menyampaikan hal itu saat jadi pemateri dalam Sarasehan Pengembangan UMKM Dalam Menyongsong Pasar Global, di Kampus STIE YKPN Yogyakarta (1/11).

“Pasalnya, menurut data dari Kemenko Perekonomian menyebutkan profil ekonomi Indonesia terdiri dari perusahaan besar ada 1 persen, perusahaan menengah ada 5,1 persen, dan perusahaan mikro dan kecil ada  93,4 persen. Artinya pelaku ekonomi UMKM menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong kemajuan ekonomi di Indonesia,” katanya.

BACA JUGA  Media Berperan Besar Sukseskan Pilkada 2020

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah unit UMKM mencapai 56.534.592 unit atau 99,9% dari total unit usaha di Indonesia. Tenaga kerja yang mampu diserap UMKM lebih dari 107.657.509 orang atau sebesar 97,16% dari angkatan kerja.

“Kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional adalah sebagai berikut, kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebanyak 61,41 persen terhadap Tenaga Kerja : 96,71 persen dan terhadap Ekspor Non Migas sebanyak 15,73 persen. Dengan demikian peran UMKM (terutama mikro dan kecil) tidak dapat diremehkan,” ujar Hemas.

BACA JUGA  Amandemen UUD 45, DPD Dengar Aspirasi Rakyat

Namun, menurut Hemas, besarnya peranan UMKM dalam negeri akan sulit bersaing jika tidak ditopang dengan faktor lain, yakni memanfaatkan “digital marketing”. Pesatnya perkembangan teknologi, banyak dimanfaatkan oleh pelaku ekonomi di banyak negara untuk memasarkan produknya lebih cepat, efisien, efektif, dan massif. Banyak orang menyebutnya sebagai revolusi digital, sehingga muncul istilah revolusi industri 4.0.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here