Laporan : Rudi Alfian

LAMPUNG UTARA-Minimnya pemahaman ditingkat masyarakat tentang protokol kesehatan serta penyebaran Coronavirus desease 2019 (Covid-19) dianggap perlu sosialisasi yang masif sampai ke pelosok desa.

Hal itu masih menjadi pergunjingan di kalangan masyarakat bawah karena kurangnya pemahaman, bahkan sampai ada yang dikucilkan, mulai dari pasien terkonfirmasi positif, baik yang terlihat gejalanya maupun orang tanpa gejala, bahkan sampai ke pihak keluarga dekatpun mulai dijauhi.

Konflik itu benar-benar terjadi, contohnya di kecamatan Bukit kemuning, sehingga butuh perhatian lebih dalam memberikan pemahaman ditengah-tengah masyarakat. Masih ada segelintir warga yang merasa ketakutan berlebih (paranoid), dalam hal ini camat terpaksa harus bekerja lebih ekstra memberikan pemahaman kepada warganya.

“Sempat ada penolakan oleh warga, mereka tidak mau pasien OTG yang saat ini di isolasi di Islamic centre Kotabumi tersebut isolasi mandiri di kediamannya. Mereka takut virus itu katanya nanti terbawa angin, atau air limbah rumah tangga bekas pasien menjadi media penularan terhadap orang lain, bahkan keluarga pasien dijauhi oleh masyarakat,” ujar Khairul Saleh, Camat Bukit Kemuning, Rabu, (23/09).

Meskipun pihaknya dan desa sudah mempersiapkan tempat karantina sementara bagi pasien terkonfirmasi positif, namun tetap saja di tengah-tengah masyarakat masih terjadi konflik. Untuk menghindari konflik lebih jauh, akhirnya pihaknya menyerahkan ke Tim Gugus Tugas Kabupaten untuk di isolasi ditempat yang sudah disediakan pemerintah.

BACA JUGA  Bertambah 3, Majenang di Rapid Test

“Kami sudah bekerja lebih ekstra dalam mensosialisasikan, memberikan pemahaman kepada warga, bahkan meminta untuk tidak menolak pasien dan keluarganya ditengah-tengah masyarakat, karena penyakit ini musibah, seharusnya kita memberikan dukungan moril, agar pasien ini bisa menjalani isolasi dengan tenang, sehingga cepat kembali dan berkumpul bersama keluarganya,” tegasnya.

Terpisah, Camat Abung Tinggi, Mansuri, juga menyampaikan demikian, dalam hal ini masyarakatnya pun masih minim akan pengetahuan tentang virus covid-19 serta pemahaman untuk tetap mematuhi protokol kesehatan setiap beraktivitas, seperti yang digaungkan oleh pemerintah.

“Masih kita temukan dilapangan, ada beberapa warga yang abai terhadap protokol kesehatan. Bagi mereka yang kedapatan tidak memakai masker,kita beri sanksi ‘push up’ kemudian kita beri pemahaman untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dimanapun, seraya kita berikan masker gratis,” terang Mansuri.

Sementara, di salah satu desa pelosok, Kepala Tim GTPP Covid-19 desa sidokayo, Agus Sarifudin, yang sekaligus Kepala Desa ditempatnya, telah menghidupkan kembali relawan covid-19 di desanya, didukung oleh sumber daya manusia yang peduli akan sesama, mereka bekerja sebagai relawan tidak pernah memikirkan pamrih, semua mereka lakukan atas panggilan jiwa.

BACA JUGA  Kadiskes Pastikan Pasien Positif Covid-19 Bukan Warga Asli Mesuji

“Kita hidupkan lagi relawan covid-19 didesa, dan semua tim relawan bersinergi,terbukti mereka memasang portal di ujung desa secara bergotong-royong, dan melakukan penjagaan 24 jam dengan dibagi menjadi 2 sift, dari jam 7 pagi sampai dengan jam 7 malam, begitu juga sebaliknya. Serta mempersiapkan tempat isolasi sebagai bentuk antisipasi,” Ujarnya menjelaskan.

Begitu juga di salah satu desa yang ada di kecamatan Abung Tinggi, Kepala Desa Muara Dua, Ma’ruf, menuturkan bahwa pihaknya didesa sudah menjalankan prioritas penanganan covid-19 melalui berbagai upaya dilapangan, seperti melakukan penyemprotan Disinfektan, mendirikan kembali posko, mensosialisasikan tentang hidup sehat ditengah pandemi, serta menghimbau warganya untuk selalu mematuhi protokol kesehatan.

“Saya dan jajaran, serta didukung oleh camat, telah menghidupkan kembali tim relawan covid-19 di desa sesuai dengan intruksi Tim Gugus Tugas Kabupaten, serta mensosialisasikan pentingnya mematuhi protokol kesehatan guna memutus mata rantai penyebaran virus Corona, setiap pagi kita putar rekaman himbauan melalui pengeras suara yang ada di masjid,” pungkasnya.[*]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here