BERBAGI

Oleh: AHMAD NOVRIWAN*)

BEBERAPA hari lalu saya menghadiri hajat besar yang dilaksanakan oleh Prof Dr Mohammad Mukri-Rektor UIN Lampung. Hajat besar ini mempertemukan saya dengan beberapa teman, sahabat, beberapa senior yang menghadiri pesta sang rektor.

Selain berbincang soal betapa bahagianya si-punya hajat, karena hampir se-jagad Lampung dan se-Indonesia-yang diwakili para rektor UIN yang hadir, tak luput juga menjadi perbincangan soal siapa yang bakal jadi juaranya pilgub Lampung.

Tak terkecuali, ulah Eko Kuswanto Direktur Rakata Institute yang belum lama berselang mengeluarkan hasil surveynya yang mengundang banyak komentar dan mengarah pada polemik.

Dalam pandangan si-A, survey Rakata menjadi barokah baginya. Sebab, apa yang dilakukannya melalui jaringan yang dimilikinya makin membulatkan tekadnya untuk melanjutkan perjuangannya untuk merebut salah satu jatah kursi Lampung di Senayan.

BACA JUGA  Amrullah: Elegan Jika Andi Minta Maaf

Pandangan sahabat saya yang lain, sebut saja si-B , survey Rakata adalah kerja konkrit yang mesti di apresiasi. Karena, tidak semua orang mampu melakukan survey dan menyimpulkan si-A atawa si-B, dengan jumlah responden ‘sekian’ mampu mengalahkan lawan .

Yang menarik bagi saya, dua pandangan sahabat lain yang juga ikut memperbicangkan hal ini. Sama-sama pendukung jawaranya Rakata, mesti dari dua partai yang berbeda. Yang satu fungsionaris PAN dan anggota DPRD Provinsi Lampung, satu lagi tokoh Golkar Lampung.

Keduanya berpendapat sama. Menurut mereka, survey Rakata nya Eko gak mesti diperbincangkan serius. Meski begitu, mereka berdua juga tidak melarang untuk siapa saja melakukan upaya hukum. Jika ternyata Rakata melakukan sesuatu yang salah.

BACA JUGA  Prof Mukri: Saya Minta Kita Semua Dapat Menjalankan Tugas-Kewajiban

“Namanya juga survey. Betapa hebatnya survey Ahok-Djarot, ternyata kalah juga dengan Anis-Sandi” Ini pendapat sahabat PAN.

Pendapat sahabat saya yang satu lagi, tokoh Golkar Lampung ini hampir tak jauh berbeda. Dia cuma bilang; “Kok menang di survey aja gak boleh.”

Kami pun tertawa lepas, meski dalam pandangan saya, gesture tubuh dan gaya bicaranya menyiratkan tidak meyakini hasil Rakata, dan juga tidak meyakini jagonya bakal memenangkan pertarungan Pilgub Juni mendatang. Kasihan. (wartawan lintaslampung)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here