BERBAGI

Laporan: DANIS MULYA

BANDARLAMPUNG – Naik turunnya tensi perang dagang (trade war) Amerika Serikat (AS) versus Cina, berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar. Indonesia harus mensikapi secara cermat, hati-hati.

Pemerintah terus mempertajam skala prioritas efisiensi penggunaan barang atau substitusi impor, disamping bersama Bank Indonesia selaku instrumen makroprudensial secara detik per detik berupaya sekuat tenaga menahan laju tergerusnya cadangan devisa negara demi stabilitasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dalam rapat kabinet terbatas di Istana Negara, Jakarta, Selasa (4/9) pagi, terungkap lima hal evaluatif yang diupayakan pemerintah konsistensi kebijakannya demi perkuatan basis mikro ekonomi kita.

Hal ini disampaikan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan di hadapan 700-an peserta Dialog Nasional Mengamalkan Nilai-Nilai Kebangsaan Menuju Indonesia Bermartabat, yang dihelat Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya. Luhut menjelaskan, munculnya aksi perang dagang AS-Tiongkok sebenarnya ada untungnya buat Indonesia.

“Kenapa untung? Karena kita melakukan benah-benah di sana-sini, melakukan efisiensi,” kata dia.

BACA JUGA  Forkopimda Cilacap  Rakor Penegakan Prokes dengan Luhut Binsar

“Apa sih dampaknya trade war itu pada kita? Sebenarnya nggak banyak, karena 81 persen penerimaan kita itu sebenarnya banyak dari domestik. Jadi hanya 19 persen yang terpengaruh dengan trade war tadi,” imbuhnya.

“Tapi itu pun bisa punya dampak luas pada ekonomi kita, khususnya pada rupiah kita kalau kita tidak hati-hati. Nah dengan adanya trade war ini kita melakukan efisiensi di sana-sini, efisiensi di banyak tempat,” imbuh dia lagi.

“Kita melihat kan sebenarnya ekspor kita itu tumbuh cuma 6,4 persen, tetapi impor kita tumbuh 30 persen. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan. Sekarang kita mau buat itu seimbang. Caranya apa? Kita mengurangi impor, menggunakan produk-produk yang ada dalam negeri,” jelas Luhut runut.

Apa itu? “Kalau saya cerita misalnya solar. Kita itu impor crude oil banyak untuk solar, karena kita refined atau kita proses ulang di dalam negeri yang refined dari kita itu tidak efisien, hanya 75 persen performance-nya. Padahal dengan teknologi sekarang, itu malah bisa 103 persen. Jadi kita kalah. Padahal kita memiliki kelapa sawit biodiesel,” tandas dia.

BACA JUGA  Luhut Aneh, Pasang Badan soal TKA China

Empat terobosan kebijakan post-factum lainnya, menurut pria berdarah Batak kelahiran Pekanbaru dan bulan ini genap 71 tahun itu, meliputi revitalisasi kebijakan ekspor batubara, menggenjot lagi grafik bertumbuh industri pariwisata, dan mengurai sengkarut Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) produk berbasis teknologi tinggi.

Terakhir, yang cukup mencengangkan, sebagaimana dilaporkan Menkeu Sri Mulyani kepada Presiden Joko Widodo dalam rapat di Istana, restriksi atau pembatasan 1.150 macam item barang impor, yang sedianya dapat dan ada yang telah diproduksi di dalam negeri.

Penjelasan Luhut seperti hendak melepas dahaga bersama, pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia, atas kekhawatiran berlarutnya efek domino perang dagang AS-Cina terhadap daya tahan stabilitas ekonomi kita.

[*]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here