BANDARLAMPUNG-Langkah nyata dalam membumikan nilai-nilai toleransi dan pencegahan radikalisme di kalangan generasi muda terus digelorakan. Produser film Ageman, Ken Setiawan, secara resmi menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung pada Senin, 14/10.
Kerja sama ini berfokus pada penguatan edukasi moderasi beragama, toleransi, serta pencegahan paham radikalisme dan ekstrimisme melalui media audio visual, khususnya seni film.
Kerja sama strategis ini menjadi tonggak penting dalam memanfaatkan film sebagai sarana edukasi publik yang efektif. Film Ageman yang di produseri oleh Ken Setiawan dinilai sarat akan pesan moral dan refleksi sosial yang relevan dengan dinamika kebangsaan saat ini.
Rektor UIN Raden Intan Lampung yang diwakili oleh Prof. Dr. Faizal, S.Ag., M.Ag. menyambut baik kolaborasi ini. Dalam sambutannya, Prof Faizal menegaskan pentingnya pendekatan populer dan kreatif untuk menjangkau generasi milenial serta Gen Z.
“Edukasi moderasi beragama tidak hanya cukup disampaikan melalui mimbar akademik atau kuliah formal. Melalui seni film, pesan-pesan perdamaian dan toleransi dapat meresap lebih dalam ke dalam sanubari mahasiswa dan masyarakat luas,” ujar Prof Faizal.
Mengisi Ruang Edukasi Mencegah Radikalisme
Ken Setiawan, selaku Produser Film Ageman sekaligus Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme ( FKPT) Provinsi Lampung, mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam kerja sama ini didasari oleh komitmen untuk bentengi generasi muda dari ancaman penyebaran paham intoleransi radikalisme dan terorisme.
Film dijadikan media reflektif agar penonton dapat memahami bahaya intoleransi dan radikalisme secara lebih nyata guna mendorong pemahaman agama yang inklusif, ramah, dan menghargai keberagaman budaya serta keyakinan. Rangkaian program akan dilanjutkan dengan pemutaran film (roadshow), diskusi interaktif, serta workshop kebangsaan di lingkungan kampus.
Tak hanya prosesi penandatanganan MoU, acara ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab yang disambut antusias oleh para mahasiswa dan civitas akademika FDIK UIN Raden Intan Lampung.Dalam sesi tersebut, Ken Setiawan membedah secara mendalam asal-usul lahirnya ide film Ageman hingga dinamika di balik layar penulisan naskah dan proses produksinya.
Ken menjelaskan bahwa istilah “Ageman” (pakaian/pegangan hidup) diambil sebagai simbol bagaimana agama dan nilai kebangsaan seharusnya menjadi ‘pakaian’ yang menyejukkan serta melindungi, bukan malah dijadikan kedok untuk memecah belah.Diskusi juga mengulas tantangan teknis maupun artistik dalam mengemas isu-isu sensitif terkait radikalisme agar tetap berbobot secara pesan, namun dinikmati sebagai karya seni sinematik yang menghibur.
Para peserta aktif melontarkan pertanyaan seputar riset latar belakang cerita, pemilihan karakter, hingga pesan moral implisit yang ingin disampaikan sang produser kepada penonton muda.Film ‘Ageman’ hadir bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen edukasi. Melalui sesi diskusi ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga memahami proses kreatif di balik penyampaian pesan-pesan perdamaian,” tutur Ken Setiawan.
Harapan ke depan melalui penandatanganan MoU ini, kedua belah pihak berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program turunan yang berdampak langsung bagi mahasiswa dan masyarakat Lampung. Sinergi antara dunia perfilman dan institusi pendidikan tinggi Islam ini diharapkan dapat menjadi rujukan nasional dalam mengampanyekan moderasi beragama secara kreatif dan berkelanjutan, pungkas Ken.[]
Penulis : Romy Agus
Editor : Rudi
Sumber Berita : FIlm Ageman
















