Laporan : Rudi Alfian

LAMPUNG UTARA – Pelaksanan Rapid test dilaksanakan di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Abung Selatan oleh satuan tugas (satgas) percepatan penanganan covid-19 secara cuma-cuma atau gratis.

Hal itu dikatakan oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan, Maya Manan, sekaligus Sekretaris Posko, saat menanggapi keluhan wali murid ponpes yang belakangan diketahui bernama Ponpes Wali Songo itu, Jumat, (04/12). Pasalnya, mereka (santri) dipungut Rp 100.000/orang untuk memeriksakan kesehatannya yang disetor kepada pihak pondok pesantren.

“Kalau yang tim satgas (kesehatan) daerah lakukan semua gratis. Tapi tidak tahu kalau sebelumnya, sebab itu setahu saya pelaksanaannya dilakukan sebelum tim memelakukan pemeriksaan,” ujar Maya Manan melalui sambungan telepon selulernya.

Sehingga, menurutnya, pihaknya tidak mengetahui secara persis kejadian dilapangan. Sebab, itu (rapidtest) telah dilakukan lebih dahulu, sebelum satgas turun pasca timbul cluster pondok pesantren disana.

BACA JUGA  Kades Talang Jembatan Dibui, Diduga Tilep Dana Desa

“Saya menjamin gratis, kalau petugas kita melaksanakan disana. Selain itu, juga ada bantuan pemerintah daerah, berupa beras, “terangnya.

Pihak pondok pesantren membenarkan adanya sumbangan dari orang wali guna memeriksakan kesehatan siswa disana. Setidaknya ada 1.200 santri yang mengikutinya, dengan biaya Rp110 ribu/santri karena dilaksanakan secara mandiri.

“Kita melakukan rapid test secara mandiri terhadap 1.200 orang dengan biaya Rp110 ribu/orang. Yang hasinya negatif, sementara reaktif kita pulangkan kerumah masing diserahkan ke gugus tugas untuk swabtest, ” terang Pengasuh Pondok Pesantren Walisongo, Komarudin.

Pelaksanaan rapidtest secara mandiri itu, lanjutnya dilakukan terhadap guru dan anak yatim yang ada disana. Sesuai arahan pemerintah, guna mencegah penyebaran covid 19.

BACA JUGA  Rapid Test yang Digunakan Rekomendasi BNPB

“Biaya itu tidak semua yang membayar, sebab kami memberi keringanan kepada santri yang tidak mampu. Kita berikan secara cuma-cuma atau gratis,” kilahnya.

Para orang tua wali santri pondok pesantren mengeluhkan biaya dikeluarkan untuk memeriksakan kesehatan anaknya menempuh pendidikan disana. Apalagi ditengah pendemi saat ini, sebab sepengetahuan mereka itu ada yang gratis. Namun, naas harus menggocek kantong dalam untuk melakukan rapid test.

“Cukup berat om, apalagi sekarang pandemi dan paceklik. Ditengah harga-harga komoditas turun dan tak ada musim. Kan ada yang gratis, kenapa ngoyo harus membayar,” keluh Udin, salah seorang wali murid santri pondok.[*]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here