Laporan: Ahmad Novriwan

DUA jam perjalanan dari Bandarlampung menuju kota kecil bejuluk Bambu Seribu lazim disebut Pringsewu sore itu memang terasa indah. Suasana pedesaan wilayah ini masih tersasa.

Sejarah kota Bambu Seribu memang bukan tidak beralasan. Saat era pemerintah kolonial Hindia Belanda, tiyuh (kampung) asal Bambu Seribu di kenal dengan Kampung Margakaya. Areal permukiman kecil dengan hutan belantara yang sangat lebat, memang banyak ditumbuhiribuan batang pohon bambu.

Karena begitu banyaknya pohon bambu, oleh masyarakat pembuka hutan, perkampungan itu, akhirnya dinamakan ‘Pringsewu’ yang diambil dari bahasa Jawa yang artinya Bambu Seribu, dengan kepala desa pertama yaitu Bapak Ambar.

BACA JUGA  Ini Capaian Keberhasilan Ridho Ficardo

Dalam perjalanannya, kota kecil Pringsewu yang menjadi bagian wilayah Lampung Selatan bagian barat yang menjadi bagian wilayah administrasi Pembantu Bupati Lampung Selatan Wilayah Kotaagung, masuk menjadi bagian wilayah Kabupaten Tanggamus berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1997, hingga pada akhirnya wilayah ini terbentuk sebagai daerah otonom yang mandiri yakni Kabupaten Pringsewu.

Kabupaten Pringsewu merupakan wilayah heterogen, disinilah Legenda Angkat Besi Indonesia, Imron Gajah Lampung Rosadi Lahir. Lahir pada 5 Maret 1944, Imron hidup dalam kesederhanaan.

BACA JUGA  PKK Lampung Kembali Toreh Prestasi

Sebagai penganut Khatolik yang taat, Imron selalu menanamkan cinta kasih sebagai motivasi dirinya untuk melangkah menuju cita-cita.

Dikatakan Imron, kekuatan angkat besi di dunia selalu bergeser.Dari Amerika, Eropa Timur, Iran, Shina, Korea Selatan dan Thailand.

Dimana Indonesia? Kata Imron dengan nada tanya. Indonesia menurut Imron selalu ada diantara adidaya angkat besi dan angkat berat dunia.

“Pembinaan harus terus di jaga,” ujarnya singkat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here