BERBAGI

Laporan : Heri Suroyo
JAKARTA – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. H. M Hidayat Nur Wahid MA, mengutuk keras penggunaan lembaran-lembaran Al Quran sebagai pembungkus dan bahan petasan, yang terjadi di Ciledug, Tangerang. Hidayat juga sepakat dengan MUI dan Muhammadiyah yang menegaskan hal tersebut merupakan perbuatan penistaan terhadap Al Quran, kitab Sucinya Umat Islam.

Karena itu, menurut Hidayat kasus tersebut perlu diusut tuntas. Dan diberikan sanksi hukum yang tegas, agar tak berulang. Apalagi, kasus ini sempat viral di medsos. Itu pertanda peristiwa tersebut sudah jadi perhatian publik. Berulangnya penistaan terhadap agama dan simbol semua agama yang diakui di Indonesia, membuktikan diperlukannya instrumen hukum yang bersifat lex specialis. Yaitu, instrumen hukum yang bisa melindungi simbol agama-agama di Indonesia, agar terjadi perulangan penistaan agama, tokoh agama maupun simbol agama-agama di Indonesia.

BACA JUGA  Bamsoet: Generasi Pancasialis untuk Jadi Pemimpin Bangsa

“Tindakan tegas polisi harus segera dilakukan agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan umat Islam yang sangat menghormati Al Quran sebagai Kitab Suci. Juga agar kesucian Agama dan ajarannya tetap terjaga, sehingga ajaran Agama dapat dijalankan untuk kebaikan kemanusiaan, dan harmoni kerukunan antar Umat beragama juga selalu dapat dijalankan,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Senin (13/9).

BACA JUGA  Pilkada Kedepankan Transparansi dan Tak ada mahar

“Selain dijadikan sebagai bungkus petasan, agama Islam juga beberapa kali menjadi bahan lawakan atau candaan. Itu terjadi karena permisifnya publik, juga karena tidak ada sanksi hukum yang tegas, sehingga para penista Agama / Simbol Agama mengira mereka tidak melakukan pelanggaran hukum, sehingga nista itu terulang lagi dan lagi,” ujarnya.##

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here