BERBAGI

Laporan : Ilham /Akt
JAKARTA – Organisasi peduli burung hantu “The Owl World of Indonesia” menyebutkan burung hantu seharusnya bukan untuk dipelihara karena hewan itu termasuk satwa liar.

Antropolog organisasi itu, Dyah Wara Restiati mengatakan, burung hantu yang diperdagangkan merupakan satwa yang langsung diambil dari alam.

Jika praktik perdagangan ini dibiarkan, jelasnya, dapat mengancam populasi burung hantu di alam liar.

BACA JUGA  Song Seung Heon Posting Momen Romantis

Dia menambahkan kebanyakan pemelihara burung hantu tidak memperhatikan kesejahteraan hewan, misalnya burung hantu Tyto Alba yang memiliki tubuh besar disimpan di dalam kandang yang sempit.

Sering juga kandang dibiar kotor, sehingga dapat membuat burung hantu stress.

“Burung hantu ini hewan yang bersih, kalau tempat tinggalnya kotor maka kakinya bisa kutilan,” ujarnya di Jakarta, Jumat (16/11).

BACA JUGA  Gawai, Tantangan Ibu Dalam Mendidik Anak

Burung-burung ini juga kadang dibiarkan bertengger di luar namun dengan kaki terikat sehingga mereka tidak bebas bergerak.

Belum lagi beberapa pemilik memberi makan burung hantu dengan buah-buahan padahal burung hantu adalah karnivora.

“Selama kami melakukan pemantauan, banyak orang yang memilihara untuk dipamerkan saja. Sehingga tak jarang usia burung hantu yang dipelihara hanya beberapa hari saja ditangan para pemelihara,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here