BERBAGI

Laporan : Ilham Prayogi /Akt
JAKARTA – Hampir 70 persen orangtua pernah menghukum anak sendiri dengan hukuman fisik. Padahal, para psikolog anak sangat tidak menganjurkan untuk memberikan hukuman seperti itu, mengingat hukuman fisik akan memiliki dampak membahayakan untuk anak dewasa nanti.

Tidak semua cara menghukum anak diterapkan di segala usia. Berbeda usia, berbeda cara menghukum, berbeda pula efektivitas serta dampaknya.

Setiap kali Anda ingin menghukum anak, cobalah untuk mengikuti garis besar seperti ini: Pertama, identifikasi dulu masalah yang dibuatnya, lalu Anda bisa jelaskan dampak dari perbuatannya.

BACA JUGA  Kecelakaan Truck Fuso Dengan Pick Up 1 Luka Serius

Setelah Anda bisa ambil alih mood dan sikap anak, sarankan perilaku dan perbuatan yang lebih baik. Selain itu, Anda bisa menggambarkan hukuman yang akan diterima, dan mengatakan Anda mengharapkan perilaku yang lebih baik di waktu berikutnya.

Usia 0- 3 tahun dengan metode “timeout”

Perilaku kenakalan anak yang biasa terjadi di usia 2 tahun ke bawah contohnya adalah berteriak, menggigit, melempar benda, atau membuang-buang makanan. Hal tersebut membuat Anda geram dan bingung untuk mendisiplinkannya. Anda bisa melakukan hukuman “timeout”, pada anak usia 0 hingga 3 tahun.

BACA JUGA  Ngidam Es Jelly Leci, Ini Panduannya...

Lakukan “timeout” dengan cara membawa ke ruangan yang terbebas dari barang-barang yang dapat mengalihkan perhatiannya. Lalu, buat anak duduk dan menenangkan dirinya, dan Anda bisa meninggalkan ruangan selama 1-2 menit. Tahap ini, disebut tahap refleksi. Setelah waktu “timeout” berakhir, peluk anak, dan buat ia berjanji tidak akan mengulangi perilakunya. Hindari memukul anak sebagai bentuk hukuman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here